Opini

Catatan Samping Perjalanan Haji, Kisah Zamzam dari Dulu Sampai Sekarang

Catatan Samping Perjalanan Haji, Kisah Zamzam dari Dulu Sampai Sekarang

Gufron Azis Fuadi

Salah satu oleh oleh dari perjalanan haji yang “wajib” dibawa oleh jamaah haji adalah air zamzam. Pulang haji tidak membawa air zamzam bagaikan sayur tak bergaram.

Maka tak heran bila raja KSA (Kerajaan Saudi Arabia) pun memberikan hadiah kepada jamaah haji selain berupa Alquran juga sebotol air zamzam ukuran 1,5 liter. Di samping jatah khusus, 5 liter air zamzam, untuk jamaah haji yang disediakan oleh penyelenggara haji pemerintah Indonesia.

Saat haji tahun 2011 ada teman dan beberapa yang lain agak takut takut membawa air zamzam hadiah raja tersebut ke pesawat, sehingga banyak yang ditinggal di bandara Jeddah. Akhirnya saya minta daripada mereka tinggalkan di bandara.

Kata mereka, bagaimana nanti kalau dilarang masuk ke pesawat, padahal sudah berat berat bawanya?

Ya kalau enggak boleh ya kita tinggalkan, yang penting sudah usaha. Tetapi saya yakin mereka (petugas) enggak berani melarang, karena itu hadiah dari raja mereka, jawab saya.

Dan benar ternyata lolos tanpa ditanya tanya. Hadiah raja gitu lho!

Nationalgeographic.co.id menulis bahwa pada 1908 dan 1973, dilakukan analisis kimiawi dan membuktikan bahwa air zamzam memang bebas dari kuman dan polutan. Air ini dianggap sebagai mineral dengan kandungan 2000 mg/liter.

Penelitian lain juga mengatakan bahwa air zamzam berbeda dengan air lainnya dalam banyak hal: Tidak berjamur dan tidak berubah warna, rasa, atau bau.

Bila pertumbuhan biologis dan vegetasi biasanya terjadi di sebagian besar sumur, sehingga membuat air menjadi tidak enak karena pertumbuhan alga yang menyebabkan perubahan rasa dan bau. Maka di sumur air zamzam tidak ditemukan tanda-tanda pertumbuhan biologis.

Masaru Emoto dalam naskah projek Miracle of Water yang disupervisi oleh Wafa Mansour Frigui, mengatakan, kualitas/kemurnian air zamzam tidak akan ditemukan di tempat lain di dalam air manapun di muka bumi ini.

Masaru mendapati kristal berbentuk unik pada air zamzam di banding air lainnya, yakni berbentuk dua kristal. Sesuai namanya, zamzam, yang terdiri dari dua kata.

Masaru juga menemukan bahwa jika satu tetes air zamzam bercampur dengan 1.000 tetes air biasa, maka air biasa akan mendapat kualitas yang sama seperti air zamzam. Luar biasa bukan!

Pada beberapa pengujian, Masaru menemukan bahwa kualitas atau kandungan air zamzam tidak dapat diubah. Meskipun didaur ulang, zamzam akan tetap murni tanpa perubahan.

Zamzam memang istimewa!

Bahkan setelah selesai tawaf, kita disunahkan salat dua rakaat di belakang makam Ibrahim dan dilanjutkan dengan minum air zamzam yang sekarang sudah tersedia di galon dan keran air beserta gelas plastiknya di Masjidil Haram.

Jangan lupa berdoa ketika hendak meminumnya.

Paling tidak membaca: Allahumma inna nas’aluka ‘ilman nafi’an wa rizqan wasi’an wa Syifa’an minkulli da’in. (HR Ad Daruqutni)

Ya Allah, sungguh aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala penyakit.”

Karena kata nabi, air zamzam (khasiatnya) tergantung pada niat peminumnya. (HR Ahmad dan Ibnu Mahah)

Banyak hadis yang menyebutkan keutamaan air ini, satu di antaranya:

Ibnu Abbas ra berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik air yang ada di atas muka bumi ini adalah air Zam-zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan penyembuh terhadap segala penyakit.” (HR. al-Thabarany dalam al-Awsath (4/179).

Namun tahukah Anda, bahwa sumur yang yang memancar pertama kali pada tahun -+1800 SM, saat Ismail masih bayi ini, pernah kering dan hilang selama berabad-abad?

Sumur air zamzam pernah kering tidak ada airnya setelah kabilah Jurhum yang merebut kendali atas sumur itu dari keturunan nabi Ismail, berlaku zalim terhadap Kakbah seperti mencuri harta pusaka yang disimpan di dalam Kakbah.

Keringnya sumur itu akhirnya memicu perang antara kabilah Jurhum dengan kabilah Bani Khuza’ah, Bani Kinanah dan lainnya. Sehingga Jurhum kalah dan lari ke Yaman, tempat asalnya.

Tetapi sebelum melarikan diri, mereka membenamkan/menutup sumur zamzam tersebut agar penduduk setempat kehilangan dan tidak bisa memanfaatkannya.

Akhirnya Mekah dipimpin oleh Bani Khuza’ah sejak tahun 140 Masehi. Tidak lama kemudian, Amru bin Luhay, pemimpin spiritual (dukun) Bani Kinanah membawa berhala Hubal dan diletakkan di Kakbah.

Inilah awal mula berhala di Mekah. Kemudian berturut berdatangan berhala lain hingga mencapai 360 patung berhala berbagai bentuk dan ukuran.

Dan selama lima abad berikutnya sumur zamzam hilang bagai ditelan bumi.

Beberapa tahun menjelang kelahiran nabi (abad ke 6 M), kakeknya, Abdul Muthalib yang nama aslinya Syaibah bin Hasyim, bermimpi sebanyak empat hari berturut turut agar melakukan penggalian sumur zamzam yang sudah lama hilang itu.

Akhirnya di tengah ejekan dan cemoohan penduduk Mekah, Abdul Muthalib dan Al Harits, anak tertuanya, melakukan penggalian. Setelah tiga hari menggali menemukan harta karun berupa dua patung emas berbentuk rusa, pedang pusaka kabilah Jurhum dan beberapa lainnya yang menjadi tanda bahwa harta karun yang sesungguhnya (sumur zamzam) ada di lokasi penggalian tersebut.

Penemuan kembali sumur zamzam tak pelak menaikkan posisi kepemimpinan Abdul Muthalib bin Hasyim di kalangan penduduk Mekah.

Karena air, apalagi air zamzam, di daerah padang tandus merupakan sumber daya yang tidak ternilai harganya. Sangat berharga!

Penemuan sumur ini juga seakan memberi isyarat bahwa Allah sedang menyiapkan kelahiran nabi dari keluarga yang paling terhormat baik dari sisi silsilahnya maupun posisi sosial politiknya sebagai pemegang kendali atas sumber kehidupan kota Mekah, sumur air zamzam.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keluarga Bani Hasyim.” (HR Muslim dan Tarmidzi)

Penemuan kembali sumur air zamzam juga seolah olah Allah swt sedang menyiapkan atau semacam prakondisi bagi kelahiran nabi terakhir, Nabi Muhammad saw, sang juru selamat!

Shallu ‘ala nabi. Wallahua’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda