Gufron Azis Fuadi
Bagi yang pernah nonton sinetron lawas, “Tukang Bubur Naik Haji” pasti mengingat nama Haji Muhidin dan Hajjah Maemunah istrinya.
Pasangan suami istri haji ini dikenang karena sifat dan perilakunya yang culas, mau menangnya sendiri dan suka merendahkan orang lain. Terutama pada yang lebih miskin.
Sekilas, adanya tokoh ini seperti mendiskreditkan sosok haji, yang biasanya dikenal karena kesalehannya, dermawan dan baik tutur katanya.
Tetapi bila dipandang dari sudut husnuzan, sosok Haji Muhidin dan Hajjah Maemunah adalah pengingat bagi kita tentang adanya haji mardud.
Haji mardud adalah istilah untuk ibadah haji yang ditolak atau tidak diterima oleh Allah swt.
Ini adalah kebalikan dari haji mabrur, yang merupakan haji yang diterima dan diridai Allah.
Karakter antagonis Muhidin adalah pengingat buat kita bahwa tidak semua yang menunaikan ibadah haji menjadi haji mabrur. Haji yang diterima Allah.
Sama halnya dengan orang yang berpuasa, ada di antaranya hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Begitupun dengan salat yang tidak mampu mencegahnya dari perbuatan fahsya wal munkar, perbuatan keji dan jahat.
Sekali lagi fenomena haji mardud, kebalikan dari haji mabrur, tentu agar kita lebih mawas lagi, bahwa haji adalah ibadah yang harus dilaksanakan dengan Ikhlas hanya karena Allah, bukan pansos untuk meningkatkan status sosial, pencitraan, wisata religi atau yang lainnya.
Haji mabrur tidak hanya tentang melakukan ritual ibadah, tetapi juga tentang perubahan hati dan perilaku setelah haji.
Para sahabat pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur? Rasulullah menjawab, memberikan makanan dan menebarkan kedamaian”.
Oleh karena itu para ulama sering mengatakan, tanda-tanda haji mabrur antara lain adalah perubahan akhlak menjadi lebih baik, adanya peningkatan ibadah, meningkatnya kepekaan sosial, dan menjauhi perbuatan maksiat.
Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Tanda Haji Mabrur adalah semakin zuhud pada dunia dan amat rindu pada akhirat.”
Zuhud itu bukan meninggalkan dunia, tetapi tidak rakus pada dunia dan menjadikan dunia sekedar batu loncatan bagi kehidupan akhirat.
Kita berharap agar sebanyak mungkin jamaah haji, khususnya jamaah dari Indonesia, mendapatkan haji mabrur. Bukan hanya karena balasan haji mabrur adalah surga sebagaimana sabda beliau Saw:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
Artinya, “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga,” (HR Bukhari).
Maka tidak salah bila para jamaah haji dengan perasaan khauf dan raja’ selalu melantunkan doa:
“Allahummaj’al hajjana hajjan mabruura…”
“Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang mabrur…”.
Dengan semakin banyaknya para haji mabrur akan meningkatkan kebajikan di tengah tengah masyarakat. Karena semakin banyaknya kebaikan dan kebajikan (surplus kebaikan) ditengah tengah masyarakat akan membuat/menekan kejahatan dan kemaksiatan, sehingga kejahatan menjadi minus. Yang pada gilirannya akan mengikis berbagai penyakit sosial.
Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Isra Ayat 81:
وَقُلْ جَآءَ ٱلْحَقُّ وَزَهَقَ ٱلْبَٰطِلُ ۚ إِنَّ ٱلْبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Artinya: “Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”
Kebayang kan, bila setiap tahun ada 200 ribu lebih jamaah haji dari Indonesia dan sejuta lebih jamaah umrah, dan kemudian mayoritasnya menyandang haji dan umrah yang mabrur?
Rasanya memimpikan negeri ini menjadi bagaikan kota santri bukan hil yang mustahal. Seperti kata Nasida Ria:
“Suasana di kota santri
asyik senangkan hati
Suasana di kota santri
asyik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
muda-mudi berbusana rapi
menyandang kitab suci
hilir-mudik silih berganti
pulang-pergi mengaji…”
Jalan jalan bertemu aura kasih, cukup sekian terima kasih. Wallahualam bissawab. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda