Head of Social Investment JAPFA Retno Artsanti bersama siswa SDN 1 Budidaya, Sidomulyo, Lampung Selatan. | Wartalampung.id/Adian Saputra
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dari dalam ruangan kerjanya, Retno Artsanti menuliskan beberapa pokok pikiran ke kertas kerja. Tahun 2008 di tempat ia bekerja, di sebuah ruang di Kantor JAPFA, ia menatahkan frasa ”Japfa for Kids”.
Artsanti sadar, ada tanggung jawab perusahaan yang mesti ditunaikan untuk masyarakat di sekitar area perusahaan. Tersebab unit Japfa tersebar seantero Nusantara, Artsanti mengidamkan program ini bisa dirasakan sebanyak mungkin warga. Khususnya anak-anak.
Dengan produksi makanan yang melimpah, Artsanti kemudian mematangkan Japfa for Kids ini dengan seluruh wadyabalanya. Ringkasnya, semua unsur di perusahaan sepakat.
Maka, di tahun 2008 itulah program untuk membantu meningkatkan gizi anak-anak se-Indonesia itu dimulai.
Lampung menjadi salah satu destinasi utama. Dengan banyaknya unit perusahaan di seluruh Lampung, Japfa for Kids menyasar ke banyak sekolah. Tahun ini genap 18 tahun program berjalan.
Bagi Artsanti, pemenuhan gizi anak-anak memang menjadi poin yang ia kejar. Ia ingin, akses anak-anak khususnya murid sekolah dasar, terhadap protein hewani, bisa mudah dijangkau.
Karena itulah, sejak awal program ini digeber; susu, daging, dan telur menjadi nutrisi yang utama yang diberikan kepada anak-anak.
Tahun 2026, program serupa kembali ditaja. Pilihan di Lampung jatuh di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan.
Ada lima belas sekolah yang menjadi objek utama dengan dua ribuan siswa di dalamnya. Dari jumlah itu, ada 157 anak yang menjalani program peningkatan kualitas gizi secara intensif.
Awalnya ada 159 anak yang ikut serta. Namun, beberapa waktu berjalan, jumlahnya minus dua. Program Japfa for Kids tahun ini akan berakhir di khatimah 2026.
ST Khumaidah, Social Investment Supervisor Japfa, saat konferensi pers di Bandar Lampung, Kamis, 30 Juli 2026, mengatakan, 157 anak ini adalah hasil penilaian yang dilakukan entitas kesehatan setempat.
Japfa menggandeng Puskesmas Sidomulyo untuk menentukan anak-anak yang terindikasi masih berada pada level malagizi dan malanutrisi.
Khumaidah bilang, seratusan anak-anak ini bukanlah mereka yang disebut gizi buruk. Kondisi mereka kasatmata sehat.
Namun, dilihat dari proporsi berat dan tinggi badan, seratusan anak ini termasuk malagizi dan malanutrisi.
Khumaidah bercerita, awalnya orangtua juga enggan menyetujui anak mereka masuk dalam program intensif Japfa ini. Namun, setelah mendapat penjelasan sahih dari petugas kesehatan, mereka menyetujui.
Kini, seratusan anak itu mesti membawa bekal sehari-hari. Tujuh butir telur mentah diberikan kepada orangtua mereka untuk kebutuhan satu pekan. Telur mesti diolah menjadi lauk dengan beragam varian.
Bisa dibikin telur ceplok, direbus, atau bisa juga didadar. Bekal dari rumah juga dimonitor saban hari supaya terpenuhi semua zat yang dibutuhkan anak-anak. Termasuk konsumsi sayur dan buah.
*
Keringat Artsanti lumayan mengucur ketika ia senam bersama seratusan siswa SDN 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Jumat pagi, 31 Juli 2026. Ia datang untuk melihat progres Japfa for Kids.
Tahun ini Japfa bikin agak lain. Mereka merancang Hari Sehat Japfa yang terdiri dari senam empat pilar gizi berimbang; edukasi kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS); pembiasaan bekal sehat; dan monitoring pertumbuhan berkala. Ada juga penguatan kapasitas guru dan keterlibatan orangtua.
Jumat itu, pelaksanaan Hari Sehat Japfa lancar. Anak-anak memulai dengan senam bersama. Para orangtua mendengarkan paparan dari tenaga kesehatan, siswa penerima manfaat tampak makan dengan lahap nasi plus lauk pauk termasuk telur.
Fran Sinatra Adung, camat setempat, juga hadir. Suasana di sekolah ramai. Kepada wartawan, Fran senang kecamatan yang ia pimpin menjadi penerima manfaat program ini.
Artsanti menambahkan, untuk menyukseskan program ini, dipilihlah dua fasilitator. Keduanya adalah Tamara Karent dan Debora Intan. Mereka terpilih dari tiga ribu lima ratusan pendaftar.
Tamara Karent mengatakan, tugas ia dan Debora sebagai fasilitator Japfa for Kids adalah berkoordinasi apa saja yang harus dilakukan guru penanggung jawab; bekerja sama dengan berbagai pihak seperti internal perusahaan, puskesmas, sekolah, orang tua; mengingatkan guru penanggung jawab dalam urusan administrasi; serta berkeliling ke sekolah-sekolah yang menjadi penerima manfaat untuk melihat/monitoring keadaan sekolah.
Secara bergurau Artsanti bilang, anak-anak pasti senang karena fasilitator untuk 15 SD se-Kecamatan Sidomulyo itu cantik-cantik. Tamara bahkan seorang model di Yogyakarta.
Anak-anak tampak antusias juga kala Hari Sehat Japfa. Mereka bisa bertanya apa saja kepada kedua fasilitator ini.
Artsanti juga senang karena sejauh ini semua kegiatan dalam program berjalan mulus. Yang paling membuatnya gembira adalah anak-anak makin sadar dengan pentingnya protein hewani serta konsisten menerapkan PHBS di keseharian.
Sebelum makan, semua siswa mencuci tangan mereka dengan sabun di air mengalir. Air dari keran di wastafel depan kelas mereka mengalir lancar.
Sabun juga tersedia. Cara mencuci tangan para siswa pun sudah benar.
Akila Lutfia, misalnya. Salah seorang siswa SDN 1 Budidaya ini mengaku gembira sekolahnya menjadi salah satu penerima manfaat Japfa for Kids. Ia juga senang sudah diajari cara mencuci tangan yang benar.
Akila sambil tersenyum juga bilang kini ia selalu menghabiskan jatah makannya. Kukunya pun bersih karena dalam seminggu dua kali ia gunting dan rapikan.
Jika merujuk sejak 2008, Japfa for Kids di Lampung saja sudah menjangkau 13.410 siswa di 69 sekolah.
Artsanti mengaku ia kerap ditanya wartawan soal masih persoalan gizi di Lampung khususnya Lampung Selatan.
Ia bilang, ikhtiar menekan angka gagal tumbuh kembang pada anak, juga kasus malanutrisi dan malagizi, tak bisa dikerjakan Japfa sendirian.
Ia bilang, pemerintah tetap menjadi entitas yang paling berwenang. Kata Artsanti, yang dilakukan Japfa ini sejauh ini hanya memantik dan berusaha sesuai dengan kadar kemampuan korporasi.
”Jika hanya dikerjakan Japfa saja tentu takkan bisa. Pemerintah mesti kasih trigger supaya perusahaan lain juga ambil langkah yang sama. Kalau bersinergi, pasti hasilnya lebih baik,” kata Artsanti.
Artsanti berujar, jika program ini selesai pada Desember 2026, Japfa tentu tidak bakal berhenti berkontribusi untuk masyarakat, wabilkhusus anak-anak di sini.
Ia ingin melihat, apakah para penerima manfaat ini menunjukkan perubahan secara signifikan dari asupan gizi dan nutrisinya.
Kata Artsanti, ikhtiar Japfa untuk peningkatan gizi anak-anak tak sebatas program yang berdurasi sekian bulan.
”Selama masih ada unit perusahaan di tempat ini, insya Allah kami akan terus berkontribusi untuk peningkatan gizi anak-anak negeri. []

Tinggalkan Komentar Anda