Penandatanganan perjanjian kerja sama Perwakilan BKKBN Lampung dan Indonesia Ramah Lansia (IRL) Lampung. | Sugiono

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Program S2 Sekolah Lanjut Usia Tunas Mutia diadakan BKKBN Provinsi Lampung dan diagendakan rutin untuk pertemuan setiap bulan bagi para lansia. Program ini dikembangkan dengan harapan dapat melahirkan para lansia yang mandiri, terampil, dan berwawasan.
Pada pertemuan sekolah lansia kali ini dihadiri oleh Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN RI Muhammad Rizal Martua Damanik, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung Nurizky Permanajati, Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung Ni Gusti Putu Meiridha, serta segenap jajaran pegawai di lingkungan Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung.
Deputi Lalitbang mengatakan, sekolah lansia dapat membentuk karakter lansia yang yang sehat, berkualitas dan mandiri. Ketika mereka sudah terampil, hidup lansia tidak akan membebani keluarga maupun negara.
Musababnya, mereka mampu melakukan aktivitas secara mandiri, misalnya, ganti baju dan mandi. Ia menilai, BKKBN khususnya Perwakilan Lampung, sangat peduli terhadap lansia dengan melakukan pembangunan program berdasarkan sirklus manusia mulai dari kehamilan, balita anak anak, remaja, pasangan usia subur, hingga lansia.
Menurut Deputi Lalitbang BKKBN RI, BKKBN sudah melakukan intervensi sirklus manusia yang baik sejak hamil sehingga bayi yang dilahirkan sehat, cerdas, dan panjang umur hingga mencapai lansia.
Selain itu, angka harapan hidup masyarakat Indonesia kini meningkat dari umur 60 tahun sekarang umur 70 tahun. hal ini merupakan dampak pembangunan SDM yang dilakukan BKKBN.
“Oleh karena itu, saya sambut baik yang dilakukan BKKBN Lampung. Sekolah S2 jika dianalogikan itu magister lansia sehingga pengetahuannya lebih baik dari sarjana. Nanti ada program S3 Sekolah Lansia dan lulusan S3 akan menjadi koordinator di wilayah-wilayah lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika penduduk lansia di Provinsi Lampung sebanyak 900 ribu sampai satu juta, lulusan dari S3 sekolah lansia dapat dikembangkan di wilayah lain.
Sekolah Lansia Tunas Mutia diikuti sekitar 50 peserta laki- laki dan perempuan. Jika di program S1 mereka dipanggil eyang dan kakung, dalam program S2 ini menggunakan sebutan andung dan datuk.
Pada setiap pertemuan sekolah lansia terdapat berbagai materi yang ramah lansia, seperti pada pertemuan kali ini terdapat materi “Mengatasi Kecemasan pada Lansia” oleh narasumber Pengurus HIMPSI Wilayah Lampung, Renyep Proborini, serta materi “Skrining GDS (Geriatric Depression Scale)” oleh Koordinator Indonesia Ramah Lansia Wilayah Lampung, Fuadah Fahrudiana.
Pada kesempatan yang sama juga dilaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung dan Indonesia Ramah Lansia (IRL) Cabang Lampung mengenai Pelaksanaan Kegiatan Kelanjutusiaan Bina Ketahanan Keluarga Lansia (BKL) di Lampung.
Hal ini diharapkan akan menguatkan komitmen bagi kedua belah pihak dalam peningkatan kualitas lansia.
Peserta Sekolah Lansia S2 dari Kecamatan Gulak Galik, Andung Yuli (60), mengaku sangat senang dengan adanya program sekolah lansia yang diadakan BKKBN.
Andung Yuli dan teman-teman lansia sangat bangga karena mendapatkan kesempatan sekolah lansia yang yang dijembatani oleh IRL (Indonesia Ramah Lansia). Ia juga menerangkan, meski tidak tidak seperti sekolah pada umumnya, di sekolah lansia Tunas Mutia banyak Ilmu pengetahuan yang Ia dapat, baik ilmu kesehatan, keterampilan seperti membuat batik, membuat ramuan jamu kesehatan, dan ilmu yang telah yang untuk memelihara badan bagi diri sendiri dan keluarga.
Ia juga sangat berharap ilmu yang didapat dapat bermanfaat dan ditularkan kepada yang lain. [Sugiono]
