Bimtek untuk penggerak literasi oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung. | Milla Eka Savitri

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Kantor Bahasa Provinsi Lampung mengadakan pembinaan bagi penggerak literasi. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, Selasa hingga Kamis, 29-31 Maret 2021 di Hotel Emersia.
Pemateri hari kedua dari GLD Lampung Barat, Jansje B.J Keseh. Dalam penyampaiannya, Jansje membahas tentang dampak dari literasi.
Minat dalam literasi masyarakat semakin meningkat dengan membangun lamban baca. Membuat lamban baca tidaklah sulit.
“Tidak ada syarat untuk membuat lamban baca,” ujarnya.
“Saya membangun lamban baca bermodal buku-buku pribadi dan punya sepupu. Saya juga mencari buku bekas dan membuat surat permohonan ke Kantor Perpustakaan Daerah di Lampung Barat. Dari sana saya mendapatkan 100 eksemplar buku. Saya juga buka jaringan antarteman,” lanjutnya.
Selama materi berlangsung, ia menceritakan awal mula berdirinya Lamban Baca Tarunia Liwa. Awalnya, kata dia, anak-anak tidak tertarik membaca. Namun, dengan berdirinya lamban baca, minat membaca anak-anak meningkat.
Ia mengatakan, buku-buku menjangkau masyarakat, meningkatkan pengetahuan, dan keterampilan. Buku-buku yang disediakan berupa buku pengetahuan untuk mengelola SDM di daerah tersebut.
“Misalnya ada buku tentang budi daya lele. Jadi pengetahuan anak terbuka untuk menciptakan peluang bisnis dari lele,” ujar Jansje.
Ia juga merupakan guru di SDN 3 Way Mangaku. Di sana juga ia menggerakkan gerakan literasi. Ia menghias kelasnya sebagai permulaan.
Melihat antusiasme siswa, ia mengusulkan gerakan literasi tersebut kepada kepala sekolah.
“Awalnya guru lain tidak setuju. Namun, karena saya berbicara langsung kepada kepala sekolah dan kepala sekolah pun menyetujuinya, gerakan literasi berjalan di sekolah,” ujarnya.
Ia mengharapkan dengan adanya bimbingan teknis bagi komunitas literasi ini akan meningkatkan kualitas penggerak literasi.
Bagi anak-anak ia mengharapkan agar anak-anak bisa mengembangkan pengetahuan dan menghasilkan sesuatu dari apa yang mereka baca. [Milla Eka Savitri, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila]
