Zaki Al Farizi
WARTALAMPUNG.ID, BANDAR LAMPUNG – Langkah strategis langsung dipersiapkan oleh Universitas Lampung (Unila) untuk merebut prestasi di panggung seni nasional.
Usai menyabet juara I tangkai lomba Baca Puisi pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Universitas (Peksimila) 2025 di Gedung D FKIP Unila, Zaki Al Farizi kini resmi didelegasikan untuk maju ke tingkat regional yakni Pekan Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida).
Target besar pun langsung dipatok: menembus seleksi daerah demi mengamankan tiket menuju ajang puncak Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas).
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila angkatan 2024 ini mengaku memikul tanggung jawab besar karena kini ia tidak lagi tampil atas nama pribadi, melainkan membawa marwah almamater Universitas Lampung.
“Saya merasa bangga sekaligus termotivasi. Ini kesempatan yang lebih besar. Target saya tentu memberikan penampilan terbaik, tampil lebih matang, dan lebih siap dari sebelumnya demi meraih prestasi yang membanggakan untuk Unila,” kata Zaki optimistis kepada wartalampung.id hari ini.
Menghadapi persaingan Peksimida Lampung yang dipastikan jauh lebih ketat, Zaki melakukan evaluasi total terhadap sistem latihannya. Jika pada kompetisi Peksimila lalu ia sempat nekat tampil dengan persiapan intensif yang hanya memakan waktu satu hari, kini ia tidak ingin berjudi dengan waktu.
Zaki mulai merombak pendekatannya menjadi lebih terstruktur. Ia mencuri start lebih awal untuk mendalami lapis demi lapis makna bait puisi yang akan dibawakan, mengasah kekuatan vokal, serta mematangkan sinkronisasi antara intonasi, ekspresi wajah, dan gerak tubuh.
Dia juga mulai membuka diri untuk mencari masukan dan bimbingan dari para senior serta mentor yang lebih berpengalaman agar penampilannya di panggung provinsi nanti jauh lebih paripurna.
Keberhasilan Zaki menembus ketatnya persaingan di tingkat universitas sebelumnya ditentukan lewat penampilannya yang memukau dewan juri. Membawakan puisi berjudul “Elegi” karya sastrawan perempuan legendaris Indonesia, Toety Heraty, Zaki berhasil menyisihkan para pesaingnya.
Meski sempat didera rasa gugup luar biasa di baris-baris awal, Zaki berhasil menguasai panggung dengan menyajikan kejujuran emosi yang tulus. Kemenangan ini sempat membuatnya terkejut dan tidak percaya.
“Saya sangat kaget dan tidak menyangka. Rasanya campur aduk antara senang dan terharu,” kenangnya mengingat momen pengumuman juara.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis, Zaki tidak menampik bahwa disiplin ilmu yang ia pelajari di kelas memiliki andil besar dalam mengasah insting seninya di atas panggung. Baginya, mempelajari bahasa asing secara tidak langsung melatih kepekaan vokal terhadap bunyi, ritme, dan kedalaman makna kata.
Inspirasi terbesarnya dalam membaca puisi berakar dari maestro sastra Indonesia, W.S. Rendra. Gaya membaca Rendra yang hidup dan berjiwa—terutama dalam mahakarya “Mata Luka Sengkon Karta”—menjadi kiblat bagi Zaki bahwa membaca puisi adalah tentang mentransfer rasa, bukan sekadar bersuara lantang di hadapan penonton.
Walau bimbingan teknis kepenulisan dan pembacaan puisi sejauh ini masih ia lakukan secara mandiri, Zaki mengapresiasi penuh dukungan moral serta fasilitasi nonakademik yang diberikan oleh pihak dosen dan program studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila.
Di akhir wawancara, mahasiswa yang juga pernah menjajal membaca puisi berbahasa Prancis ini memberikan pesan pembakar semangat bagi rekan-rekan sesama mahasiswa agar tidak takut untuk melangkah ke dunia seni.
“Jangan takut untuk mencoba. Latar belakang kita sebagai mahasiswa bahasa justru menjadi kelebihan karena kita dibekali kepekaan terhadap bahasa dan makna. Itu adalah modal yang sangat kuat dalam seni. Yang penting, berani melangkah dan terus berlatih,” pungkas Zaki menatap optimis laga Peksimida di depan mata. [Putu Suati Kartika Dewi]

Tinggalkan Komentar Anda