Berita Foto

Biasa Belajar Bahasa Prancis, Dirli dan Rafania Mahir Sandi Kotak hingga Semaphore di Diklat Pramuka FKIP Unila

Biasa Belajar Bahasa Prancis, Dirli dan Rafania Mahir Sandi Kotak hingga Semaphore di Diklat Pramuka FKIP Unila

Diklat Pramuka Unila

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Menjadi mahasiswa program studi bahasa asing tidak membatasi diri untuk aktif dan adaptif dalam menguasai keterampilan lapangan.

Hal ini dibuktikan oleh dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lampung (Unila) angkatan 2025, Dirli Ahmad Riyanto dan Rafania Alfatunisa.

Keduanya baru saja sukses menyelesaikan seluruh rangkaian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kepramukaan yang berlangsung selama tiga hari. Di hari terakhir pelaksanaan, kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan agenda pengecekan kelengkapan, pengumpulan tugas, hingga penutupan resmi tengah hari tadi.

Melalui wawancara daring via pesan tertulis WhatsApp kepada wartalampung.id, Dirli dan Rafania membagikan kisah seru mereka.

Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis yang sehari-hari akrab dengan tata bahasa dan literatur asing, diklat kepanduan ini memberikan warna baru yang sangat positif sekaligus melengkapi kompetensi mereka sebagai calon pendidik.

“Perasaan saya senang karena bisa dapat hal baru dari Pramuka yang tidak ada di ruang kuliah. Kami belajar kode-kode tulisan dalam sandi kotak 2, menghafal pergerakan semaphore dari A sampai Z, hingga teknik pionering (tali-temali),” ujar Dirli melalui pesan WhatsApp, hari ini.

Senada dengan Dirli, Rafania juga mengungkapkan rasa lega dan bahagianya karena bisa melewati seluruh proses diklat dengan lancar.

“Jujur rasanya capek, cuma seru banget! Karena kegiatannya sangat berbeda dengan perkuliahan sehari-hari, jadi kami bisa belajar banyak hal baru di sini,” kata Rafania penuh semangat.

Bagi mahasiswa bahasa Prancis, keluar dari zona nyaman perkuliahan teori menuju kegiatan fisik kepanduan tentu memberikan tantangan tersendiri.

Apalagi, pelaksanaan diklat ini berdekatan dengan agenda akademik kampus yang padat. Namun, tantangan tersebut justru berhasil mereka ubah menjadi ruang pengembangan diri.

Rafania menceritakan bahwa salah satu tantangan paling seru yang ia hadapi adalah saat harus menghafal seluruh gerakan bendera semaphore secara cepat. Demi meraih hasil terbaik, mereka dibagi ke dalam tim dan dituntut untuk menjaga fokus.

“Tadi kami dibagi menjadi dua tim. Kami harus benar-benar fokus dan komunikatif satu sama lain agar bisa mendapatkan nilai A di diklat ini. Dari sana, kemampuan kerja sama dan komunikasi kami sangat terasah,” jelas Rafania.

Melalui dinamika kelompok tersebut, Rafania mengaku mendapatkan refleksi baru tentang pentingnya kepekaan sosial. “Saya belajar bahwa saat bekerja dalam tim, saya harus bisa lebih peka terhadap kebutuhan teman-teman yang lain,” imbuhnya.

Di sisi lain, Dirli juga memetik pelajaran berharga mengenai esensi kepemimpinan (leadership). Baginya, materi kepemimpinan dalam diklat ini sangat membekantinya untuk mengoordinasi rekan sejawat.

“Ada momen menarik ketika menerima materi tentang kepemimpinan. Di situ diajarkan bahwa ketika kita jadi pemimpin, kita harus mengenal diri kita sendiri dulu supaya kita bisa paham apa yang kita mau. Lewat ini, saya merasa lebih siap dan lumayan bisa mengatur teman-teman saya sebagai pemimpin,” tutur Dirli.

Sebagai representasi generasi muda sekaligus calon guru bahasa, Dirli dan Rafania sepakat bahwa nilai-nilai fundamental kepramukaan—seperti kedisplinan—masih sangat relevan untuk diadopsi di era modern.

Menurut Dirli, meskipun manajemen waktu di tengah persiapan ujian akhir semester (UAS) cukup menantang, nilai karakter yang diajarkan tetaplah penting.

“Lewat kegiatan ini, kita tetap bisa memetik hal positif seperti belajar disiplin dan tahu cara memimpin yang benar,” tulisnya dalam pesan singkat.

Rafania menambahkan, keterampilan praktis yang diajarkan dalam Pramuka memiliki fungsi kedaruratan yang sangat aplikatif di kehidupan nyata.

“Pramuka melatih kita agar bisa membuat tandu dan keterampilan darurat lainnya. Jadi, di saat kondisi darurat, kami sebagai anak muda mengerti cara menanganinya. Hanya saja, mungkin ke depan pengajarannya bisa dikemas lebih seru dan diperkuat materinya agar tidak monoton dan lebih cepat dimengerti,” saran Rafania.

Menutup obrolan digital bersama wartalampung.id, kedua mahasiswa rumpun bahasa ini kompak memberikan kesan positif atas keberhasilan mereka menyelesaikan diklat tahun ini. Jika digambarkan dalam bahasa Prancis yang mereka pelajari, keseruan kegiatan lapangan kali ini ditutup dengan kesan yang luar biasa.

“Keseruan hari ini lumayan seru,” pungkas Dirli optimistis, yang langsung ditimpali oleh Rafania dengan mengetikkan emoji senyum, “Très bien! (Sangat baik!)” [Mirliana Amira]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda