Gufron Azis Fuadi
Kita sering mendengar ungkapan, “… Nggak usah sok suci, biar saja orang mau melakukan apa, yang penting kita tidak. Mari jaga diri kita masing masing…”
Ungkapan ini sekilas terlihat bijak, yakni agar kita tidak ikut campur urusan orang lain. Karena tidak ingin repot dan menangung risiko menyinggung orang lain, ‘lebih baik’ kita tidak ngurusi urusan orang lain.
Lu lu gue gue alias tidak perlu menasihati orang lain juga tidak perlu melakukan amar makruf nahi mungkar. Menyuruh orang berbuat baik dan mencegah orang yang akan berbuat mungkar dan kerusakan.
Ungkapan ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh kaum Bani Israil sebagaimana dijelaskan dalam al Quran surat Al Maidah ayat 78-79:
“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”
“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”
Mengapa Allah melaknat orang orang yang tidak mau melakukan amar makruf nahi mungkar, lebih khususnya nahi mungkar?
Karena kerusakan yang ditimbulkan oleh segelintir orang, akibat atau musibah yang ditimbulkannya tidak hanya akan menimpa diri dan keluarganya saja, tetapi juga akan menimpa orang lain yang menutup mata bahkan orang orang yang tidak terlibat sama sekali.
Perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme segelintir orang yang berkuasa akibatnya justru seringkali tidak dirasakan oleh pelakunya tetapi dirasakan orang orang (rakyat) yang tidak terlibat sama sekali. Bahkan rakyat yang tidak punya akses sana sekali pada pusaran kekuasaan (KKN) tersebut.
Surat Al-Anfal ayat 25 mengaskan:
“Wa-taquu fitnatan laa tushibannalladziina zhalamu minkum khassah, wa’lamu annaAllaaha syadiidul ‘iqab”
(Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antaramu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya).
Apakah musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera saat ini, mengubur para pemilik modal dan para pemberi izin konversi hutan?
Rasanya tidak!
Padahal dari kolusi dan keluarnya izin itulah dimulai terjadinya deforestasi gunung dan hutan yang pada akhirnya memicu timbulnya banjir dan tanah longsor.
Ayat di atas menjelaskan bahwa musibah atau siksaan bisa atau akan menimpa secara umum jika kezaliman merajalela dan orang orang baik tidak mencegahnya. Musibah tidak hanya akan menimpa (terbatas) pada pelaku maksiat.
Siksaan tidak khusus untuk pelaku kezaliman saja, tetapi bisa merata jika masyarakat membiarkan kemungkaran dan tidak berusaha mengingkarinya, padahal mereka mampu.
Ayat ini menegaskan pentingnya semua masyarakat melakukan amar maruf nahi mungkar.
Menjadi orang yang beriman dan beramal saleh saja belum cukup. Karena itu hanya menyangkut tanggung jawab pribadi.
Sedangkan sebagai individu dalam suatu kelompok dalam kehidupan sosial dibutuhkan satu hal lagi yaitu saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Hal ini sejalan dengan yang dipesankan dalam surat Al Ashr.
Allah menjadikan umat ini, secara kolektif, sebagai khairu ummah (umat terbaik) bukan hanya karena beriman kepada Allah swt saja, melainkan juga karena senantiasa menyuruh kepada kebaikan (amar makruf), mencegah kemungkaran (nahi mungkar).
Demikian dalam surat Ali Imran ayat 110.
Allah telah menciptakan bumi dan alam semesta ini, tidak saja sangat indah, tetapi juga serasi dan harmoni. Sehingga miliaran planet dan benda lagit tidak saling bertabrakan.
Gaya gravitasi pada masing masing benda langit itu membuatnya bisa beredar pada jalurnya atau garis edarnya masing masing. (Yasin, 40).
Allah juga telah menciptakan Pulau Sumatera dengan deretan Bukit Barisan yang indah di sebelah barat dan hamparan lahan gambut di belahan timur secara harmoni sebagai satu ekosistem.
Hal ini menjadikan Pulau Sumatera bagaikan sekepal tanah surga yang terhampar di muka bumi. Sebuah nikmat dan karunia besar dari Allah yang kemudian dirusak oleh keserakahan manusia.
Firman-Nya:
“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Anfal: 53).
Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda