Opini

Belajar dari Kepemimpinan Iran, Jangan Sampai Kemewahan Merampas Keberanian

Belajar dari Kepemimpinan Iran, Jangan Sampai Kemewahan Merampas Keberanian

Gufron Azis Fuadi

Dalam buku “Amwalun Nabi” penulisnya, Dr. Abdul Fattah As-Samman, menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah orang yang kaya. Dengan jumlah kekayaan mencapai 1217 kg emas.

Sedang jumlah infaknya bila ditotal mencapai 1251 kg emas. Beliau juga mewakafkan lima belas lahan tanah yang nilai masing-masing lebih dari 25 kg emas.

Tetapi Nabi Saw tidak meninggalkan harta warisan harta kepada pitrinya, Fatimah ra, maupun kepada ahli waris lain dari keluarga nya.

Ini sesuai dengan sabdanya:
“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Sumber kekayaan Nabi Saw berasal dari warisan orang tua, perdagangan saat muda sampai sebelum menjadi Nabi, property peninggalan Khadijah, seperlima bagian harta rampasan perang dan fa’i, hasil perkebunan miliknya serta hadiah dari para raja, kepala Kabilah serta sahabat.

Saat beliau Saw menikahi Khadijah, beliau memberikan mahar berupa 20 ekor unta merah dan 12,5 uqiyah emas (1 uqiyah = 28 gram, sekitar 350 gram).

Setelah mengetahui bahwa ternyata Rasulullah Saw kaya, maka tidak sedikit kaum muslimin yang berobsesi menjadi kaya dalam hidupnya. Tentu itu sah sah saja. Karena tidak ada kewajiban atau larangan hidup miskin atau kaya. Yang penting komitmen dan qana’ah dengan pilihannya.

Hanya saja ittiba’ (mengikuti jejak)nya kepada Nabi Saw seringkali tidak tuntas dalam arti hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lainnya. Dalam hal ini, Nabi Saw terbukti adalah sosok yang kaya raya tapi pilihan hidupnya sangat sederhana seperti kaum miskin.

Bahkan karena sangat sederhananya pernah membuat para istri beliau, ummahatul mukminin, secara bersamaan mengajukan petisi untuk meminta tambahan uang belanja yang kemudian Nabi Saw mendiamkan mereka selama 30 hari. Yang selanjutnya memberikan pilihan kepada para ummahatul mukminin.

Pertama, tetap hidup sederhana bersama nabi Saw dengan jaminan akan bersama sebagai istri Nabi Saw diakhirat, atau pilihan kedua, diceraikan dan diberi uang mut’ah yang banyak.

Hidup kaya raya tetapi berpola hidup miskin tentu sangat sulit. Karena kaya, umumnya, pasangannya hidup mewah. Pola hidup kaya dan miskin (baca, sederhana) ini merupakan tema yang tak pernah lekang dari pembicaraan.

Dari sudut apa pun. Termasuk dalam melihat gaya hidup para pemimpin Iran dan negara negara Arab yang (kebetulan) sedang pro AS – israel.

Seorang netizen, dan mungkin banyak netizen lain, yang sempat saya lihat mengatakan, “…jangan salahkan kami bila kami menganggap para pemimpin Iran lebih islami dibanding para pemimpin Arab… Karena pemimpin Iran hidupnya lebih sederhana.

Sedangkan para pemimpin Arab, meskipun Sunni tapi mereka hidupnya borju dan bergelimang kemewahan. Udah gitu ikut ulil Amrik lagi.”

Apa yang membuat warga net berkesimpulan seperti itu? Apa ukurannya? Tentu mereka, sebagai orang awam dan kebetulan netizen tersebut wanita tidak berjilbab, tidak menggunakan kriteria Sunni dan Syiah.

Tetapi menggunakan ukuran gaya kehidupan (sederhana) para pemimpinnya. Di mana, paling tidak seperti yang diberitakan, bahwa Khomaini dan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi hidup dan tinggal di rumah yang sederhana. Begitupun Ahmadenejad mantan presiden yang tetap tinggal di rumah warisan orang tuanya yang jauh dari kata mewah di pinggiran kota Teheran.

Belum lagi Mujtaba Khamenei yang baru terpilih sebagai pemimpin tertinggi yang ternyata masih tinggal dirumah kontrakan. Karena belum punya rumah, padahal dia adalah anak dari Ali Khamenei yang sebelumnya menjadi pemimpin Iran selama 37 tahun.

Umumnya masyarakat senang dan hormat dengan kepada para pemimpin yang hidup dan penampilannya sederhana. Masyarakat tidak segan menjatuhkan rasa cintanya kepada mereka, pemimpin yang sederhana.

Sehingga pernah di suatu negara, rakyatnya sangat antusias memilih capres yang muncul dari selokan dan berpenampilan sederhana, meskipun pada akhirnya terbukti kebijakan pemerintahannya lebih condong kapitalis daripada kerakyatan.

Kesederhanaan para pemimpin Iran, bagaikan bumi dan langit dibandingkan penampilan kelas sultan para pemimpin Arab yang super borju.

Kriteria kedua, adalah keberanian para pemimpin Iran bertarung langsung menghadapi pemimpin teroris dunia, Trump dan Netanyaho. Dimana setelah beberapa dekade hampir tidak ada yang secara terang-terangan berani melawan pemimpin teroris, yang mengaku sebagai polisi dunia, tersebut.

Di sisi lain para pemimpin Arab berkoalisi dengan Trump dan Netanyaho dalam peperangan ini. Apalagi ada berita bahwa pemeeintah Arab Mesir membuka perbatasannya dengan Israel untuk para pengungsi Israel yang akan melarikan diri ke luar negeri, yang negerinya sedang porak poranda akibat gempuran Iran.

Padahal selama ini, Mesir menutup rapat perbatasannya dengan Rafah dan Gaza agar tidak ada warga Gaza yang bisa menyeberang dan tidak ada bantuan makanan dan obat-obatan yang bisa masuk ke Gaza.

Masyarakat, dengan agama dan bangsa apa pun, menyukai pemimpin yang hidupnya jujur dan sederhana. Meskipun dirinya (masyarakat) sendiri ingin dan senang hidup mewah.

Kita pernah mengenal Chuan Leekpai yang pernah menjabat PM Thailand pada 1992–1995 dan terpilih lagi untuk periode 1997–2001. Padahal dinamika politik yang sangat dinamis di Thailand sangat sukit bagi seseorang untuk duduk dua periode secara langsung.

Salah satunya karena, bahkan setelah menjadi PM, Leekpai tidak berubah penampilannya, tetap jujur dan sederhana hidupnya. Maka bukan saja terpilih dua periode tetapi juga pada masa pemerintahannya berjalan relatif damai Padahal dinamika politik dan pemerintahan di Thailand sangat dan paling dinamis di Asia. Persaingan elit politik dan militer nyaris tak pernah berhenti.

Karena kejujuran dan kesederhanaan Chuan Leekpai memancarkan kewibawaan yang membuat pihak lain segan. Bandingkan dengan pejabat tingkat daerah disuatu negeri yang membeli mobil dinas 8,5 milyaran dengan alasan untuk membangun wibawa daerah.

Hidup mewah tidak dilarang, tetapi Nabi Saw mewanti wanti bahwa kemewahan hidup itu mengandung resiko. Risiko yang paling berbahaya adalah terjangkiti penyakit “wahn” yaitu hubuddunya wa karahiyatul maut.

Penyakit wahn bentuknya adalah sangat mencintai dunia dan takut mati! Hubbud dunya (cinta dunia berlebihan/rakus) adalah penyakit hati yang berbahaya, menjadi akar segala kesalahan, dan dapat melemahkan iman serta ketaatan.

Rasulullah Saw mengingatkan bahwa fokus utama pada dunia akan merusak akhirat dan menyebabkan kebingungan hidup. Beliau Saw juga menegaskan bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara seperti tempat musafir berteduh.

Karena kecintaan yang besar pada dunia akan dan terkait dengan ketakutan yang besar akan kematian. Sehingga akan melemahkan semangat juang dan memadamkan keberanian berjihad.
Pepatah Cina mengatakan:

“越有钱,越怕死”
(Yuè yǒu qián, yuè pà sǐ)
Artinya: “Semakin kaya seseorang, semakin ia takut mati.”

Rasulullah Saw bersabda:
“…Allah akan mencabut rasa gentar dari hati musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Beliau menjawab: “Hubbud dunya wa karahiyatul maut” (Cinta dunia dan takut mati).
(HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278).

Para sultan tajir melintir lebih memilih membayar mahal pasukan asing dan membuat pangkalan militer asing, di negerinya, untuk melindungi kontinuitas kehidupan mewahnya selain agar negaranya aman dari ancaman negara lain. Ini karena kemewahan telah merampas keberaniannya.

Maka benarlah peringatan Allah:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(At-Takasur: 1-2)

Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda