Opini

Belajar dari Diplomasi Dakwah Rasulullah

Belajar dari Diplomasi Dakwah Rasulullah

Gufron Azis Fuadi

Islam adalah agama yang cinta damai. Kata “Islam” berasal dari bahasa Arab, yang akar katanya adalah “salima” yang berarti damai, keselamatan, penyerahan diri, dan kepatuhan.

Karena itu nama “Islam” menjadi nama agama yang paling obyektif, dalam arti tidak membawa nama pembawanya atau nama daerah tempat lahirnya sebagaimana agama agama lain.

Hal ini juga karena Islam diturunkan bukan hanya untuk bangsa tertentu saja tetapi untuk seluruh manusia, sehingga sejak awal anti rasialisme, anti chauvinisme dan anti diskriminasi. Seperti dalam surat Saba’, 28:

“Wama arsalnaka illa kaaffatan linnas…” (Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya…)

Sejarah mencatat bahwa penyebaran Islam di banyak wilayah, termasuk Nusantara, dilakukan melalui cara-cara diplomasi damai, seperti perdagangan, dakwah, surat diplomatik dan interaksi budaya. Bila ada beberapa peperangan itu karena untuk membela diri karena umat Islam ditindas atau karena perkembangan dakwah yang berjalan damai dihambat, dibatasi dan ditindas.

Atau untuk unjuk kekuatan agar pihak lain tidak memandang dengan sebelah mata. Kita tahu dalam dunia diplomatik, unjuk kekuatan seperti yang dilakukan oleh dinasti Ming dengan armada Laksamana Cheng Ho ke Majapahit, armada Laut yang dikirim oleh Khalifah Muawiyah ke Sriwijaya atau pergerakan kapal induk bertenaga nuklir milik AS YSS Nimitz (CVN-68) yang mampu menampung 90 pesawat dan 6000 pasukan, adalah diplomasi dalam bentuk unjuk kekuatan.
Dan salah kunci sukses futuh Mekah tanpa peperangan salah satunya unjuk kekuatan pasukan nabi yang membakar api unggun yang sangat banyak diperbukitan diluar perbatasan kota dan terlihat oleh penduduk Mekah. Sehingga pemandangan ini memerindingkan bulu kudung mereka.

Jauh sebelum pasukan muslim berperang dengan kekaisaran Persia atau kekaisaran Romawi, Rasulullah Saw telah mengirimkan utusan diplomatik nya kepada mereka.

Diplomasi adalah praktik memengaruhi keputusan dan perilaku pemerintah asing atau organisasi antar pemerintah melalui dialog, negosiasi, dan cara non-kekerasan lainnya. Bila dikaitkan dengan dakwah maka diplomasi (dakwah) adalah strategi penyebaran ajaran Islam menggunakan pendekatan persuasif, dialogis, dan negosiasi, bukan paksaan atau kekerasan.

Setelah terjadinya perjanjian gencatan senjata dengan kafir Quraisy yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah pada 6 H (628 M) Rasulullah Saw mengirimkan diplomatnya untuk menyampaikan surat dakwah yang berisi ajakan untuk memeluk Islam kepada para raja dan kaisar. Berikut ini adalah contoh surat nabi tersebut (yang dikirim kepada raja Mesir).

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasulullah. Kepada Muqawqis Penguasa Qibthi. Salam sejahtera kepada yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du. Aku mengajak Anda dengan dakwah Islam. Anutlah agama Islam dan Anda selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Tetapi apabila Anda berpaling, Anda akan memikul dosa kaum Qibthi. Wahai Ahli kitab, marilah menuju ke suatu kalimat ketetapan yang tidak terdapat suatu perselisihan di antara kita, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun. Tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah (muslimin).”

Tercatat dalam berbagai kitab Sirah Nabawiyah (Sejarah Nabi Saw) beliau Rasulullah Saw mengirimkan 9 rombongan diplomat kepada mereka. Diantaranya adalah:

1). Amr bin Umayyah Al-Dhamri. Ia diutus oleh Rasulullah ke Habasyah  (sekarang Ethiopia dan Eritrea di Afrika) untuk mengantarkan surat kepada Raja Najasyi yang bernama Ashhamah.

2). Dihyah bin Khulaifah Al-Kalbi. Ia diutus oleh Rasulullah untuk mengantarkan surat kepada kaisar Romawi yang bernama Hiraqlah atau Heraklius.

3). Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi. Ia diutus oleh Rasulullah untuk mengantarkan surat kepada kaisar Persia (sekarang Iran dan Azerbaijan).

4). Hatib bin Abi Balta’ah. Ia diutus oleh Rasulullah untuk mengantarkan surat kepada Raja Mesir dan Iskandariyah yang bernama Juraij bin Matta yang bergelar Al-Muqauqis.

5). Amr bin Al-‘Ash. Ia diutus oleh Rasulullah untuk mengantarkan surat kepada Jaifar dan Abd. Keduanya adalah anak Al-Julanda, Raja Oman.

6). Sulaith bin Amr Al-‘Amiri. Ia diutus oleh Rasulullah untuk mengantarkan surat kepada Hawdzah bin Ali Al-Hanafi, penguasa Yamamah.

7). Syuja’ bin Wahb Al-Asadi. Ia diutus oleh Rasulullah untuk mengantarkan surat kepada Al-Harits bin Abi Syamr, pemimpin Damaskus di Syam atau Syiria.

8). Al-Muhajir bin Abi Umayyah Al-Makhzumi. Ia diutus oleh Rasulullah untuk mengantarkan surat kepada Al-Harits Al-Humairi di Yaman.

9). Al-‘Ala’ bin Al-Hadhrami. Ia diutus oleh Rasulullah untuk mengantarkan surat kepada Al-Mundzir, Raja Bahrain (sekarang wilayah yang meliputi Bahrain, Quwait, Irak, Emirat dan sebagian Saudi).

Nabi Saw memang sangat pemberani dan tidak kenal takut. Orang yang paling yang paling berpengaruh dan paling memusuhi Islam pun seperti Abu Jahal dan Umar bin Khattab, puluhan kali didakwahi beliau. Bahkan didoakan agar masuk Islam.

Itu juga mengapa perkembangan begitu cepat, karena yang direkrut oleh nabi Saw tidak hanya orang miskin dan rakyat jelata saja tetapi juga orang yang memilki pengaruh. Karena secara politik mampu merekrut orang kaya dan pejabat memiliki keuntungan: pengaruhnya membawa follower, kekayaannya bisa membantu pendanaan dakwah dan kekuasaannya bisa ‘melindungi’ dakwah. Alih alih memusuhi.

Kerjakan atau dakwahi dulu, soal diterima atau tidak itu urusan Allah. Karena hidayah itu milik Allah. “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56)

Begitupun di antara para raja tersebut ada yang menerima utusan dengan baik tetapi tidak memeluk Islam seperti raja Mesir, ada yang bimbang dan tidak memeluk Islam seperti Raja Romawi, ada yang menerima Islam seperti raja Najasyi, raja Yaman, raja Oman dan raja Bahrain.

Tetapi ada yang menolak keras dan merobek robek surat tersebut seperti yang dilakukan raja Persia. Bahkan tidak hanya itu, dia menyuruh raja Badzan bawahannya di Yaman untuk menangkap dan membawa nabi Saw kehadapannya.

Tentang hal ini nabi Saw bersabda kepada Babawaih, utusan raja Yaman: “…Kembalilah, karena kaisar Persia telah dikudeta dan dibunuh oleh anaknya, Syirwaih…”
Dan setelah utusan itu kembali ke Yaman, berita kudeta berdarah itu benar benar terjadi. Sehingga akhirnya raja Badzan masuk Islam. Shallu ‘ala nabi…

Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda