M Ibnu Nauffal Maskuri. | Dokumentasi

Oleh: M Ibnu Naufal Maskuri (Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Covid-19 sudah setahun penuh menghantui kita. Termasuk Indonesia. Datangnya covid-19 ini berimbas luas, salah satunya aturan bekerja dari rumah (work from home). Sistem pendidikan kita pun menjadi daring.
Banyaknya pekerja yang dipulangkan dan perekonomian melemah menjadi imbas yang kasatmata dari pandemi kali ini. Kita tidak diperbolehkan berkerumun dan bertatap muka. Kita ketahui, banyak warga negara Indonesia yang dipulangkan dengan dalih pengurangan tenaga kerja.
Idul Fitri kali ini sama seperti tahun lalu: tidak dirayakan semeriah seperti tahun-tahun sebelumnya. Momen salat tarawih yang biasa dilaksanakan berubah kala itu menjadi di rumah. Takbir keliling dan salat id pun ditiadakan.
Silaturahmi ke rumah-rumah yang biasa dilakukan pun tidak ada lagi. Semua disebabkan covid-19.
Seiring waktu, covid-19 memudar. Terlihat ceria masyarakat dengan tersenyum. Lockdown setahap demi setahap dipermudah, tidak seketat awal-awal. Namun, tetap dengan syarat mematuhi protokol seperti mencuci tangan memakai sabun, menggunakan hand sanitizer, dan memakai masker.
Beberapa tempat yang ditutup sementara akhirnya dibuka seperti tempat rekreasi, berbelanja, beribadah, dan beberapa tempat pendidikan.
Idul Fitri tahun ini menjadi momen yang dirindukan. Melihat pandemi yang kian mulai memudar, bukan berarti berakhir atau kelar. Rasa khawatir perlahan tenang bepergian keluar rumah menjadi santai, segala usaha dipersiapkan untuk menyambut Hari Raya.
Beberapa momen yang tidak bisa dilakukan pada tahun lalu akhirnya bisa dilakukan, seperti salat tarawih di masjid, berbuka puasa bersama, dan membeli baju baru.
Kultur membeli baju baru untuk dipakai saat Lebaran sudah ada sejak dahulu. Tak heran jika masyarakat Indonesia beberapa hari sebelum Lebaran berbondong-bondong berbelanja pakaian baru. Mereka melihat diskon yang banjir pada setiap sudut toko. Mata mereka tergiur oleh godaan diskon besar. Mereka ingin mengenakan baju baru pada hari raya sebagaimana lagu lirik milik Jhon Dayat. ““Baju baru alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya.”
Soal penting-tidaknya membeli baju baru pasti beragam respons. Penulis ingin menjawab dari sudut pandang fashion. Sebenarnya membeli atau tidak membeli itu adalah hak pribadi masing-masing. Tapi secara psikologi, dengan memakai baju baru pada saat hari raya memiliki dampak sebagai berikut:
- Kita yang akan bersilaturahmi mengunjungi sanak saudara tentunya akan merasa lebih percaya diri dan lebih segar.
- Orang lain melihat kita lebih wah, lebih baru, merasa ada sesuatu dari kita yang berubah menjadi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
- Bentuk apresiasi untuk diri kita sendiri.
Pasar swalayan mulai ramai dihampiri pengunjung. Pengunjung berkerumun memilih dan memilah baju pakaian yang akan dibeli, berdempetan sana-sini. Mereka rela berdesak-desakan. Bagaimana dengan covid 19? Akankah ia muncul lagi?
Penulis memprediksi, covid-19 besar kemungkinan masih ada. Virusnya bisa tertular hanya dengan berjabat tangan. Terlebih jika swalayan, di mana banyak pengunjung berdempet-dempetan. []
