Bainah. | Kurniati

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Bainah, warga Perumahan BKP, Kemiling, Bandar Lampung, yang kerap disapa Bude oleh anak-anak, adalah pedagang cilung yang menetap di sekolah dasar.
Bainah mulai berjualan cilung di daerah Bukit Kemiling Permai sejak 2015 sampai sekarang. Dua tahun belakangan ini adalah masa yang berat untuk Bainah.
Di awal pandemi covid-19, Bainah sempat bingung karna sekolah tempat dia berjualan diliburkan dan anak-anak belajar di rumah secara daring/online.
Keadaan itu membuat Bainah menutup dagangan selama 3 bulan.
Suami Bainah juga bekerja sebagai pegadang seperti dia. Suaminya juga berhenti berjualan sejak pandemi covid-19 .
Kebutuhan yang banyak untuk kehidupan sehari-hari membuat Bainah memberanikan diri untuk berjualan di tempat yang lain .
“Mau enggak mau harus mencoba berjualan di tempat lain. Menunggu anak-anak kembali masuk sekolah itu rasanya belum pasti. Sementara saya harus memenuhi kebutuhan anak-anak,” ujar Bainah, Jumat, 10/9/2021
Bainah menambahkan, ada bantuan dari pemerintah, tetapi mengharapkan bantuan juga itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang.
Bainah kini berjualan di pinggir jalan dekat bundaran BKP dari sampai pukul 16.00. Usai asar, ia pindah ke depan masjid dekat rumahnya sampai pukul 21.00,
“Saya harus pindah dari satu tempat ke tempat yang lain supaya dapat untung,” kata dia.
Bainah menambahkan, ia terpaksa berjualan di depan masjid karena banyak anak-anak yang sehabis ngaji membeli cilung. Kadang sampai malam mereka masih menunggu untuk membeli.
Harga 1 cilung yang dijual Rp1.000 sudah memakai beberapa toping rasa. Jika ingin menggunakan telur puyuh, harganya Rp2.000.
Bainah bersyukur ia bisa kembali berjualan untuk memenuhi kebutuhannya walaupun penghasilannya tidak sebesar dahulu.
“Bersyukur karena banyak pedagang lain dan teman-teman tidak bisa berjualan lagi,” ujarnya .
Bainah berharap keadaan segera normal dan anak-anak dapat segera kembali bersekolah. [Kurniati, Mahasiswi Komunikasi FISIP UBL]
