Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung, Wirahadikusumah
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mendapat masukan sekaligus kritik konstruktif dari Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung, Wirahadikusumah, Rabu, 10 Desember 2025 .
Dalam acara Workshop Jurnalis bertema “Strategi Liputan Berbasis Data untuk Mengawal Pembangunan Daerah,” Bang Wira menyoroti tantangan besar yang dihadapi media dalam mengakses dan menginterpretasikan data BPS.
Bukan Sekadar Angka, Tapi Inti Berita
Mengawali pemaparannya, Wira menekankan bahwa data BPS harusnya menjadi inti dari sebuah pemberitaan yang kuat dan akurat, bukan hanya sekadar pendukung narasi. Namun, ia mengakui bahwa jurnalisme membutuhkan proses kerja yang ketat.
“Berita tidak boleh salah. Informasi di media sosial mungkin benar, mungkin salah, tetapi berita harus melewati proses kerja jurnalistik yang ketat: pencarian, verifikasi, pengecekan ulang, dan pengujian informasi sebelum disampaikan kepada publik,” tegasnya.
Tantangan Klasik: Bahasa Terlalu Teknis
Masalah utama yang disoroti Wira adalah bahasa statistik yang dinilai terlalu teknis dan sulit dipahami oleh masyarakat umum, bahkan oleh wartawan senior. Grafik dan tabel dalam rilis resmi BPS disebutnya belum cukup user-friendly (ramah pengguna).
“Kita sering langsung membaca bagian kesimpulan karena grafik dan tabelnya membingungkan. Bahkan bagi saya yang sudah dua puluh tahun jadi wartawan, membaca data BPS masih sering bikin pusing,” ungkap Wira sambil tersenyum, mengilustrasikan betapa rumitnya data tersebut di mata media.
Selain itu, penjelasan metodologi—seperti sampel dan proses survei—yang kurang menonjol sering menimbulkan asumsi dan kecurigaan publik, termasuk tudingan bahwa data BPS tidak sesuai dengan kondisi lapangan.
Netralitas dan Tahun Politik
Dalam konteks tahun politik, Wira mengingatkan bahwa data seperti angka kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi sangat sensitif dan rentan menjadi bahan perdebatan politik. Ia menegaskan bahwa netralitas data adalah kunci.
“BPS harus tetap berdiri di atas fakta apa adanya, tanpa dipengaruhi kepentingan politik atau tekanan pihak tertentu,” tegasnya.
Solusi: Komunikasi Proaktif dan Sederhana
Untuk mengatasi persoalan ini, Ketua PWI Lampung tersebut mendorong BPS untuk melakukan komunikasi yang lebih proaktif, menggunakan bahasa yang lebih sederhana, dan menyajikan data dengan orientasi pada kemudahan pengguna.
Pada penutup, Wira menegaskan kolaborasi antara jurnalis dan BPS adalah kunci agar data yang kuat harus diiringi dengan komunikasi yang sama kuatnya.
“Jurnalis butuh data yang cepat, jelas, dan mudah dipahami. Keterbukaan bukan hanya mempublikasikan angka, tapi menjelaskan fakta,” tutupnya. [Anggi Dwi Raharti]

Tinggalkan Komentar Anda