Opini

Apa Legacy Kita?

Apa Legacy Kita?

Gufron Azis Fuadi

“Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuz).”

Biasanya saat membaca ayat 12 surat Yasin diatas, yang terbayang adalah penggalan pertama tentang jawaban Allah atas keheranan orang orang kafir tentang bakal dibangkitkan kembali orang yang sudah mati dan kemudian dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Tetapi kali ini yang terpikirkan dalam tadabur ayat tersebut adalah penggalan berikutnya:”… dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan…”

Bekas bekas yang mereka tinggalkan… sepertinya adalah warisan tak benda atau legacy. Kemudian teringat dengan hadits nabi tentang amal jariyah, yaitu perbuatan baik yang manfaatnya terus dirasakan orang lain, sehingga pahalanya terus mengalir kepada pelakunya meski ia telah meninggal dunia.

Ada tiga macam amal jariyah: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh.

Tiga hal di atas adalah warisan/legacy yang paling baik. Legacy adalah apa yang kita tinggalkan di hati orang lain, bukan apa yang kita tinggalkan untuk mereka. Legacy itu warisan tetapi lebih dari benda.

Biasanya berupa reputasi, nilai-nilai moral, ilmu pengetahuan, prestasi, atau dampak positif yang terus diingat setelah kita pensiun atau meninggal dunia.

Saya teringat dengan ungkapan Prof. Said Agil Siradj, yang mengaku pernah melihat copy/transkrip Alquran di zaman sahabat. Tetapi beliau sendiri tidak bisa membacanya, karena hurufnya sangat gundul.

Jangankan tanda harakat apalagi tajwid, titik pada hurufnya saja belum ada. Jadi sulit membedakan ba, ta dan tsa. Begitupun dal dan dzal, shad dan dhad dan lainnya.

Tanda baca pada tulisan Al-Quran mulai muncul pada masa Dinasti Umayyah, sekitar 40 tahunan setelah Alquran mulai ditulis tanpa tanda baca.

Awalnya, tanda baca berupa titik-titik berwarna merah yang diletakkan di atas, bawah, atau samping huruf untuk menandakan harakat (fathah, kasrah, dammah) oleh Abul Aswad ad-Du’ali, yang kemudian dijuluki sebagai Bapak ilmu nahwu, (w 69 H).

Kemudian, tanda baca ini disempurnakan dengan penambahan titik untuk membedakan huruf yang bentuknya sama, oleh Nashr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mar dan akhirnya ditambahkan tanda baca tajwid seperti isymam, rum, dan mad.

Kemudian karena terlalu banyak titik, lingkaran kecil dan warna dalam penulisan tersebut, maka digabungkan menjadi lebih sederhana dan ditambahkan harakat oleh Imam Kholil bin Ahmad Al Farohidi (wafat 174 H ) dari Farhad Afghanistan.

Selanjutnya Imam Abu Rubaid Qosim bin Salam (w. 224 h) menggagas Ilmu tajwid seperti idhgam, idzhar, ikhfa’, qolqolah dan sebagainya, sehingga kita yang bukan bangsa Arab, tidak bisa berbahasa Arab bisa membacanya dengan baik.

Bila saat ini kita bisa membaca al Quran dengan lancar, itu semua tidak lepas dari jasa warisan imam Ad duali, Nashir bin Ashim, Yahya bin Ya’mar, imam Al Farahidi dan Imam Abu Rubaid. Dan tentu saja sahabat Zaid bin Tsabit penulis resmi yang ditunjuk oleh nabi Saw untuk menulis wahyu al Quran. Karena ini adalah legacy atau amal jariyah, mereka.

Pada akhirnya dari tadabur ayat diatas kita bisa memahami satu lagi hadits nabi:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tiga generasi emas ini merujuk pada Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Bukan hanya karena mereka dikenal paling saleh dan memahami agama, tetapi karena
mereka legacy memberikan legacy yang sangat banyak dan luar biasa. Pahala yang kita dapatkan karena membaca Alquran dan atau melaksanakan ajaran agama, merekapun mendapatkan nya pula.

Mereka bagaikan sungai dan anak sungai yang mengalirkan Islam dari sumbernya (Nabi Muhammad Saw) sampai keseluruh tempat yang pernah disinari matahari. Sejak awal Islam sampai sekarang sudah berapa milyar orang yang membaca dan mempelajari Alquran?

Bahkan ketika seseorang membacanya dengan “wala tata’ ta”, terbata bata dan mendapatkan dua pahala, mereka pun mendapatkan pahala tersebut tanpa mengurangi pahalanya orang yang terbata bata itu. Begitulah legacy bekerja.

Apa legacy kita? Menjadi murabi dan guru ngaji alif ba ta adalah jalan membangun legacy.

Apalagi menurut Riset oleh Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, (2024) ada 72,25 % umat Islam di Indonesia yang masih buta huruf al Quran alias belum bisa ngaji.

Nabi Saw bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”.
(Hr. Bukhari)

Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda