Pesisir Barat

Andra Kurniawan Pemuda Organisatoris Pesisir Barat, Penyuka Mi Ayam dan Jus Avokado

Andra Kurniawan Pemuda Organisatoris Pesisir Barat, Penyuka Mi Ayam dan Jus Avokado

Wartalampung.id, Krui – Tidak semua orang tumbuh dengan keyakinan penuh pada dirinya sendiri. Ada yang justru dibentuk oleh rasa ragu, ketakutan yang berulang, dan proses panjang yang sering tidak nyaman.

Dari titik itulah perjalanan Andra Kurniawan (17), pemuda asal Pesisir Barat, bermula bukan dari keberanian, melainkan dari proses panjang melawan rasa takutnya sendiri.

Andra tumbuh dalam keluarga sederhana. Kedua orang tuanya hanya menamatkan pendidikan hingga sekolah dasar.

Namun, dari keterbatasan itu, mereka menanamkan satu prinsip yang terus ia pegang hingga kini: pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki masa depan.

Rumah menjadi ruang belajar pertama, tempat disiplin dan tanggung jawab dikenalkan bukan lewat teori, melainkan melalui kebiasaan sehari-hari.

Saat duduk di bangku sekolah dasar, proses belajarnya masih banyak dibimbing keluarga. Namun memasuki SMP, ia mulai belajar berdiri sendiri.

Pada fase inilah rasa tidak percaya diri muncul dengan nyata, terutama ketika harus berbicara di depan banyak orang. Setiap berdiri di hadapan audiens, suara bergetar dan pikiran kosong menjadi hal yang akrab.

“Saya dulu benar-benar takut bicara di depan umum. Rasanya ingin cepat-cepat selesai dan duduk kembali,” kata Andra kepada wartalampung.id di kediamannya, Rabu, 30/12/2025.

Alih-alih menghindar, ia memilih mencoba. Cara yang ia lakukan terbilang sederhana: berbicara di depan cermin, mengulang kalimat, melatih ekspresi, dan memaksa diri menghadapi rasa malu.

Proses itu terasa canggung, tetapi justru dari ketidaknyamanan tersebut. Keberanian mulai tumbuh sedikit demi sedikit.

Memasuki masa sekolah di SMAN 1 Ngambur, Kabupaten Pesisir Barat, ruang belajarnya semakin luas. Andra mulai aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan sekolah.

Di tengah padatnya aktivitas, ia berusaha menjaga tanggung jawab akademik. Usaha itu berbuah hasil.

Saat duduk di kelas X, namanya tercatat sebagai juara I semester 1, lalu kembali mempertahankan prestasi dengan juara I semester 2.

Baginya, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa aktif berorganisasi tidak selalu berseberangan dengan prestasi akademik. Keduanya, bisa berjalan berdampingan jika dijalani dengan disiplin.

Tantangan semakin besar ketika ia naik ke kelas XI. Beban organisasi bertambah, waktu semakin terbatas, dan tanggung jawab semakin kompleks.

Meski demikian, konsistensi tetap ia jaga hingga akhirnya meraih juara III kelas. Capaian itu tidak ia lihat sebagai penurunan, melainkan sebagai hasil dari proses panjang yang dijalani tanpa berhenti.

Tahun 2022 menjadi titik penting lainnya ketika Andra mengikuti Jambore Nasional Nasional. Berangkat dengan rasa ragu dan minim pengalaman, ia dipaksa keluar dari zona nyaman.

Latihan rutin di sanggar Pramuka, hafalan yel-yel, kegiatan selama bulan Ramadan, hingga keterlibatan dalam agenda kebudayaan dari berbagai daerah membuka cara pandangnya tentang kerja sama, disiplin waktu, dan keberanian tampil di ruang publik.

“Di sana saya belajar bahwa semua orang sama-sama belajar. Tidak ada yang benar-benar sempurna,” ujarnya.

Dari proses tersebut, kepercayaan diri Andra mulai terbentuk. Ia kemudian dipercaya memegang berbagai amanah, mulai dari ketua OSIS, ketua sanggar, aktif di Paskibra, hingga menjabat sebagai Wakil Genre dan Kepala Bidang Keorganisasian FPL.

Setiap peran ia jalani dengan prinsip kejujuran, konsistensi, dan tidak bermuka dua dalam berorganisasi.

Namun, kepemimpinan tidak selalu berjalan mulus. Salah satu momentum terberat ia alami ketika proposal program kerja yang diajukannya ditolak.

Waktu, tenaga, dan harapan seolah berhenti di satu titik. Rasa lelah dan keinginan untuk menyerah sempat muncul.

“Saat itu saya kecewa, tapi saya sadar kalau berhenti bukan pilihan,” katanya.

Alih-alih menyerah, Andra memilih mengevaluasi kesalahan, mencari alasan penolakan, lalu menyusun rencana baru.

Tidak semua langkah langsung berhasil, tetapi cukup untuk membuatnya terus bergerak maju.

Di balik padatnya aktivitas, ia tetap remaja pada umumnya. Bermain game menjadi cara sederhana untuk melepas penat. Mi ayam dan jus avokado (alpukat) menjadi favoritnya.

Warna biru dan hitam ia sukai karena memberi kesan tenang dan tegas dua hal yang terus ia latih dalam dirinya.

Kini, fokus Andra tertuju pada masa depan. Ia menata waktu, memperbaiki nilai, dan menerima bahwa lelah adalah bagian dari proses.

Minatnya mengarah pada bidang ilmu komputer dan ekonomi, dua bidang yang ingin ia tekuni dengan kesungguhan yang sama seperti ia menjalani organisasi.

Dari seluruh perjalanannya, Andra menyimpan satu pesan sederhana: jangan takut mencoba dan jangan ragu untuk mengambil kesempatan.

Karena dari keberanian melangkah meski berawal dari keraguan sering kali datang jalan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Bagi Andra, perjalanan itu masih panjang dan ia tahu, setiap langkah selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba. [Fiona Florencia S/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda