Gufron Azis Fuadi
Sebagian orang orang jahiliyah berpandangan bahwa hidup di dunia ini adalah kehidupan yang sesungguhnya. Setelah mati ya selesai. Tidak perlu ada pertanggungjawaban!
Mereka berkata, “Apakah apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda yang hancur, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan kembali dalam kejadian yang baru?” (Al Isra’: 49)
Sebagian yang lain berpendapat setelah mati manusia akan bereinkarnasi menjadi makhluk hidup yang lain sampai menemukan samsara. Dan sebagiannya lagi akan damai di kerajaan Tuhan karena dosa-dosanya sudah ditebus oleh anak Tuhan.
Sungguh, asal usul manusia dan kemana manusia setelah mati adalah peristiwa yang sangat gaib. Di luar jangkauan akal manusia.
Karena di luar jangkauan dan “tidak nyata”, manusia menganggapnya tidak ada. Kehidupan sesudah mati, bagi orang yang masih hidup adalah sesuatu yang tidak empiris. Manusia hanya bisa mempercayainya dengan iman.
Para ulama di Jawa dahulu mengajarkan tentang ini dengan ungkapan “sangkan paraning dumadi” atau asal usul dan tujuan akhir manusia. Hal ini agar manusia bisa “bali muleh marang mula-mulane” atau kembali ke tempat asalnya dalam keadaan selamat, gangsar (lancar), dan khusnul khatimah alias innalilahi wa innailaihi raji’un.
Belajar Alquran akan membawa kita kepada ma’rifatullah yang pada gilirannya akan mengantarkan pada ma’rifatul insan atau mengenal manusia (jati dirinya sendiri).
Ma’rifat (dalam bahasa Arab) berarti mengenal atau mengetahui. Ini bukan sekadar pengetahuan faktual, melainkan juga pemahaman yang mendalam dan pengalaman langsung.
Marifatul insan merujuk pada proses memahami hakikat manusia, potensinya, tupoksinya dan hubungannya dengan Tuhan.
Ini melibatkan refleksi diri, pemahaman akan kelebihan dan kekurangan, serta kesadaran akan peran dan tanggung jawab manusia sebagai hamba dan makhluk ciptaan Allah. Semua hal tersebut, akan dapat kita ketahui hanya dari Allah Sang Maha Pencipta.
Sebagai pencipta, Dia-lah yang paling tahu dan paling berhak mengeluarkan manual prosedurnya
Manusia diciptakan oleh Allah dari tanah dan surga sebagai kampung halamannya. Orang yang dalam perantauannya mengikuti petunjuk jalan-Nya (Alquran), akan kembali ke kampung halamannya, surga, tempat asal nenek moyangnya (Adam dan Hawa) dengan selamat dan presisi.
Tidak akan tersesat ke tempat yang lainnya. Dengan Alquran, manusia mengetahui: untuk apa (tugas pokok) dia diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada-Nya (Adz Dzariat: 56).
Dengan Alquran, manusia akan mengetahui apa fungsi hidupnya, yaitu sebagai khalifah yang bekerja untuk memakmurkan bumi alam sekitarnya. (2: 30; 6: 165)
Dan dengan Alquran manusia akan mengetahui tujuan hidupnya yaitu mencapai ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat (al Baqarah: 201).
Untuk mendukung tugas pokok, fungsi dan tujuan tersebut maka manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya (fi ahsani taqwim) dan Allah juga menundukkan alam semesta ini untuk kebaikan manusia.
Salah satunya seperti dalam Al-Jatsiyah, 13:
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”
Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi diciptakan dan ditundukkan untuk kemaslahatan manusia. Ulama menjelaskan bahwa penundukan ini disebut taskhir, yang berarti Allah telah memudahkan alam semesta untuk dimanfaatkan oleh manusia.
Ustadz Hilmudin Sulani suatu saat mengajak saya menadaburi ayat fi ahsani taqwim. Apa maknanya?
Manusia diciptakan dalam sebaik baiknya penciptaan karena: pertama, manusia diberi akal, dan dengan akal ini manusia belajar dan berilmu.
Kedua, Allah menciptakan manusia dengan imdad pancaindra yang akan memudahkan manusia mengelola alam sekitarnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ketiga, ditundukkannya alam semesta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Keempat, memberikan nikmat hidup berpasangan dan memiliki anak dan komunitas sosial.
Kelima, nikmat diturunkannya agama sebagai nikmat yang tertinggi. Karena dengan adanya nikmat agama ini kita bisa mengenal Allah, mengetahui tupoksi dan tujuan hidup manusia serta route map, peta jalan pulang ke kampung halamannya, surga jannatun na’im.
Pepatah Arab mengatakan, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu“, yang artinya “Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya.
Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda