Abdul Hakim
Wartalampung.id, Jakarta – Menjelang rencana konser Andrea Bocelli di Indonesia pada akhir Oktober 2026, senator DPD RI asal Lampung, Abdul Hakim, menegaskan bahwa penyelenggaraan konser musisi internasional di Indonesia tidak seharusnya dilepaskan dari pertimbangan kemanusiaan, terutama ketika dunia masih menyaksikan penderitaan rakyat Palestina akibat konflik berkepanjangan dan operasi militer Israel di Jalur Gaza.
Oleh karena itu, masyarakat dinilai berhak memperoleh informasi yang transparan mengenai rekam jejak figur publik internasional, termasuk sikap dan aktivitas mereka yang berkaitan dengan konflik Israel-Palestina.
Hakim mengatakan, musik memang bahasa universal, tetapi universalitas musik tidak boleh dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap penderitaan dan persoalan kemanusiaan.
Ketika anak-anak kehilangan orang tua, keluarga kehilangan tempat tinggal, dan warga sipil menjadi korban perang, kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan keberpihakan kepada kemanusiaan. Demikian Hakim dalam rilis hari ini.
Hakim menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki ikatan moral dan konstitusional yang kuat dengan perjuangan kemerdekaan Palestina. Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 secara tegas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Oleh karena itu, mencermati rekam jejak seorang seniman internasional merupakan hal yang wajar untuk dijadikan bahan pertimbangan publik.
Popularitas, prestasi, dan kualitas artistik tidak serta-merta menghapus kewajiban moral untuk bersikap peka terhadap persoalan kemanusiaan.
Hal ini juga berkaitan dengan informasi mengenai kehadiran Andrea Bocelli dalam acara Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles pada 2010 serta penampilannya di Israel pada 2022.
Apabila keterlibatan seorang figur publik dalam kegiatan tertentu memang terbukti mendukung suatu institusi militer, publik berhak mempertanyakan bentuk dukungan tersebut, tujuan kegiatan, dan konsekuensi moralnya.
Hakim bilang, yang perlu kita kedepankan adalah sikap kritis dan tanggung jawab moral.
Jangan sampai slogan bahwa musik harus dipisahkan dari politik justru digunakan untuk menghindari pertanyaan tentang solidaritas terhadap korban perang.
”Kemanusiaan tidak boleh berhenti ketika berhadapan dengan kepentingan industri hiburan,” kata dia.
Selain itu, Hakim mengungkapkan bahwa tragedi kemanusiaan di Gaza harus menjadi perhatian masyarakat internasional.
Korban jiwa, anak-anak yang kehilangan keluarga, warga yang mengalami luka permanen, serta rusaknya fasilitas kesehatan dan pendidikan merupakan persoalan kemanusiaan yang menuntut perhatian serius.
Oleh karena itu, kita perlu menolak segala bentuk pembenaran atas serangan yang melanggar hukum humaniter internasional dan menekankan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil tanpa membedakan kebangsaan, agama, maupun latar belakang politik.
Sikap terhadap tragedi Palestina seharusnya berangkat dari prinsip yang konsisten. Penderitaan warga sipil di Ukraina, Palestina, maupun wilayah konflik lainnya harus memperoleh kepedulian yang sama.
Tidak boleh ada standar ganda ketika dunia berbicara tentang hak asasi manusia dan perlindungan terhadap anak-anak. []

Tinggalkan Komentar Anda