Kunjungan Abdul Hakim di pengusaha telur di Gadingrejo. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Pringsewu – Anggota Komite IV DPD RI asal daerah pemilihan Lampung Abdul Hakim melakukan kunjungan ke klaster usaha binaan BRI di Pekon Tegalsari, Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu, Selasa, 26/2021.
Hadir perwakilan BRI Kanwil dan Cabang Pringsewu. Di sini Hakim bertemu sejumlah ibu yang berusaha ayam petelur.
Ari dari BRI Kanwil Lampung mengatakan, pihaknya mendukung usaha rakyat dengan pembiayaan yang murah dan mudah. Maka itu, pihaknya membantu pengembangan usaha ini.
Abdul Hakim mengatakan, pihaknya mendukung pengembangan UMKM dengan akses permodalan, peningkatan kapasitas SDM, manajemen produksi, kemudahan perizinan, dan akses pasar.
Ia menyarankan dan mendukung mereka yang memiliki usaha ini agar lebih kuat untuk dilembagakan menjadi koperasi agar meningkatkan produksinya, pendanaannya dan akses pasarnya.
Hakim berkata pemerintah sudah banyak memberikan berbagai bentuk penyertaan modal untuk UMKM melalui dana PEN. Ia berharap agar akses pembiayaan ini bisa mengembangkan usaha di desa.
Budi, seorang peternak ayam petelur, mengatakan, pihaknya mempunyai usaha sebanyak 5.000 ayam petelur. Masa pandemi ini, telur banyak namun tidak bisa jual.
“Mohon solusinya bagi akses pasar ini. Populasi ayam bertambah, telur menumpuk, harga pakan tinggi. Harga jual turun karena jumlah telurnya banyak. Ditambah juga masuknya telur dari Palembang juga merusak harga pasar di Lampung. Kami tertekan perusahaan besar,” kata dia.
Terhambatnya penjualan ini, lanjut Budi, membuat mereka sulit dan menunda pembayaran angsuran.
Basri,ketua kelompok, berujar, kendala terbesar ada di pakan. Harga pakan mahal, harga telur rendah. Tipis sekali marginnya. Ia berkata, pada saat pakan Rp5.500, harga jual telur masih tinggi.
“Namun sekarang harga pakan Rp6.500, harta telur menurun,” keluhnya.
Abdul Hakim merespons dengan mengatakan, agar berharap segara dibentuk kelembagaan koperasi untuk menguatkan kebersamaan usaha antara warga. Untuk peningkatan nilai tambah dengan pengadaan pakan secara mandiri dengan mengoptimalkan lahan dan sumber daya tanaman yang ada atau kolektif sehingga lebih murah.
Perlu juga peningkatan SDM dengan membuat produk alternatif misalnya telur herbal atau olahan pangan berbahan baku telur. Lalu juga akses pasar, Hakim bilang bisa bersinergi dengan komunitas atau pebisnis di usaha telur.
“Ini perlu kebersamaan di antara peternak dan sinergi dengan pemangku kepentingan lain termasuk pemerintah. Kami akan lakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait. Tetap semangat dalam berusaha, pasti akan ada jalan keluar,” ujar Hakim. []
