Berita Foto Opini

Harga Gabah Kembali Pasrah

Harga Gabah Kembali Pasrah

Dhyan TH. | Dokumentasi

Dhyan TH. | Dokumentasi

Oleh Dhyan TH (Statistisi Madya BPS Lampung)

Harga gabah lagi dan sedang berada di bawah harga pokok pemerintah (HPP) gabah yang ditetapkan pemerintah setahun yang lalu. Mengapa petani mau menjual gabahnya di bawah HPP? Ternyata HPP yang baru untuk harga pembelian gabah kering panen (GKP) di petani dengan kualitas kadar air paling tinggi 25% dan kadar hampa atau kotoran paling tinggi 10% sebesar Rp4.200 per kilogram (kg) belum sampai ke telinga petani.

Awal Mei yang lalu BPS Lampung merilis rata-rata harga gabah di petani dan di penggilingan mengalami penurunan pada April 2021. Penurunan rata-rata harga kelompok kualitas GKP di tingkat petani sebesar 7,54 persen dari Rp3.917,57 per kg pada Maret 2021 menjadi Rp3.622,35 per kg dan di tingkat penggilingan turun 7,26 persen dari Rp4.027,03 per kg pada Maret 2021 menjadi Rp. 3.734,47 per kg.

Untuk kelompok gabah kualitas GKG di tingkat petani juga turun 8,93 persen dan di tingkat penggilingan juga mengalami penurunan sebesar 8,39 persen.

Harga gabah tertinggi di tingkat petani hanya berkisar Rp4.000,00 per kg pada gabah kualitas GKP dengan Varietas IR64 terdapat di Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan. Sedangkan harga gabah terendah mencapai Rp3.300,00 per kg pada gabah kualitas GKP dengan varietas Muncul terdapat di kecamatan yang sama.

Harga gabah di tingkat petani maupun di tingkat penggilingan yang terjadi di Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Lampung Selatan anjlok hingga berada di bawah HPP gabah. Hal ini disebabkan turunnya produksi dan kualitas gabah hasil panen pada April yang disebabkan kurangnya pupuk saat fase tanam padi vegetative akhir pada bulan Februari.

Memang tahun ini alokasi pupuk subsidi untuk Lampung lebih rendah dibandingkan pengajuan kebutuhan pupuk bersubsidi yang diusulkan melalui rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Lampung hanya mendapat alokasi 543.707 ton pupuk bersubsidi dari kebutuhan 1.457.561 ton.

Jumlah itu hanya 37 persen dari kebutuhan pupuk petani. Ini diperparah masalah penyaluran pupuk subsidi tidak berjalan dengan mulus membuat kelangkaan pupuk terjadi di Lampung. pada bulan April juga merupakan saat puncak panen raya sehingga produksi gabah melimpah di Bumi Ruwa Jurai membuat daya tawar gabah semakin rendah.

Turunnya harga gabah pada puncak panen raya merupakan masalah yang terus terjadi selama ini. Tidak mudah bagi pemerintah untuk menstabilkan harga gabah agar mampu bertahan di atas HPP sepanjang tahun.

Gagasan untuk mengatur waktu tanam padi sehingga panen dapat diatur setiap bulannya selama setahun dengan besar produksi yang relatif sama muncul ke permukaan. Gagasan yang patut dicoba walaupun mungkin sulit untuk diwujudkan jika sarana dan prasarana belum memadai.

Saluran Irigasi yang belum menyentuh semua lahan sawah menjadi kendala besar. Sebab, mustahil dapat menanam padi tanpa tercukupinya pasokan air, sedangkan lahan sawah yang ada banyak sekali yang hanya mengandalkan dari turunnya hujan.

Sudah sewajarnya jika pada musim hujan tiba pada bulan Desember sampai Februari petani menggarap sawahnya untuk mulai menanam padi dan bisa diperkirakan puncak panen padi akan terjadi pada bulan Maret sampai Mei setiap tahunnya.

Penyerapan gabah petani saat panen raya sepertinya belum masif dilakukan oleh pemerintah. Petani hanya bisa pasrah menjual hasil panen dengan harga rendah karena jika tidak terjual kualitas gabah akan semakin turun bahkan rusak.

Peran pemerintah untuk menyejahterakan petani salah satu caranya adalah menjamin harga gabah di petani minimal sama dengan HPP yang telah ditetapkan setiap kali panen.

Sepertinya Bulog tidak mampu melakukannya sendiri. Perlu dilakukan kerja sama dengan pihak swasta dan pemerintah daerah untuk melakukan penyerapan gabah hasil panen petani. Terutama pada waktu panen raya agar harga yang diterima petani sesuai dengan harapan dan tidak pasrah begitu saja. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda