Sosialisasi calon rektor Unila di GSG. | Putu
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Pemilihan Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 bukan hanya menjadi urusan anggota Senat, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan sivitas akademika dan berbagai pihak yang berhubungan dengan kampus.
Hal tersebut disampaikan moderator, Juwendra Asdiansyah, saat membuka sosialisasi visi, misi, dan program kerja bakal calon rektor di Gedung Serbaguna Unila, Rabu (28/10/2026).
Moderator menjelaskan bahwa rektor akan dipilih oleh 48 anggota Senat Universitas ditambah suara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sehingga jumlah pemilih tidak sampai 50 orang.
Meski demikian, rektor terpilih nantinya akan memimpin perguruan tinggi negeri terbesar dan tertua di Lampung dengan puluhan ribu mahasiswa serta ribuan dosen dan tenaga kependidikan. Kebijakan dan kepemimpinan rektor juga berdampak pada ratusan ribu alumni, pemangku kepentingan, dan masyarakat Lampung.
Karena itu, sosialisasi visi, misi, dan program kerja dipandang bukan sekadar ajang unjuk reputasi atau kemampuan retorika, melainkan kesempatan bagi sivitas akademika dan pemangku kepentingan untuk mengetahui kualitas calon rektor sekaligus terlibat secara moral dalam proses ini.
Forum ini juga memberi ruang untuk menyampaikan aspirasi dan mencermati program yang ditawarkan sebelum proses pemilihan berlangsung.
Sosialisasi di Gedung Serbaguna Unila itu merupakan penutup rangkaian kegiatan yang digelar sejak 20–23 Oktober di delapan fakultas, mulai dari Fakultas Hukum hingga Fakultas Teknik. Ketua Panitia Pemilihan Rektor melaporkan bahwa acara melibatkan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan unsur pemerintah daerah.
Enam bakal calon rektor memaparkan visi, misi, dan program kerja masing-masing selama tujuh menit, lalu menjawab pertanyaan perwakilan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Acara tersebut juga disiarkan melalui kanal YouTube Unila.
Pesan tentang pentingnya keterlibatan bersama juga muncul dalam pernyataan penutup para bakal calon. Hamzah menekankan bahwa Unila terlalu besar untuk dipimpin satu orang sehingga membutuhkan kolaborasi dan sinergi dengan para pemangku kepentingan untuk memajukan universitas.
Sementara itu, calon rektor Anna Gustina Zainal menggambarkan Unila sebagai rumah besar tempat sivitas akademika tumbuh dan meraih cita-cita bersama.
“Perubahan besar tidak akan mungkin lahir dari satu orang rektor, melainkan dari keberanian kita untuk melangkah bersama,” ujarnya.
Di akhir acara, moderator juga menyampaikan pesan dari mantan Dekan FKIP Unila, Sujarwo, agar siapa pun yang terpilih meminimalkan kubu-kubuan dan merangkul semua pihak.
Juwendra menyebutkan, penentuan tiga besar bakal calon akan dilakukan pada keesokan harinya.
Dengan demikian, pemilihan rektor tidak hanya menentukan sosok pemimpin untuk satu periode, tetapi juga arah kebijakan yang akan memengaruhi kehidupan akademik dan pengembangan institusi.
Kolaborasi antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan mitra kampus menjadi salah satu unsur penting dalam upaya memajukan Unila. [Putu Suati Kartika Dewi]

Tinggalkan Komentar Anda