Warsito. | Helen
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Optimalisasi aset kampus menjadi salah satu perhatian bakal calon Rektor Universitas Lampung (Unila), Warsito, dalam pemaparan visi, misi, dan program kerjanya. Menurutnya, aset yang dimiliki universitas perlu dikelola secara produktif agar dapat mendukung pembiayaan program pendidikan dan pengembangan institusi.
Warsito menilai, perguruan tinggi tidak bisa sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah, terutama ketika ruang fiskal semakin terbatas. Karena itu, Unila perlu mengembangkan strategi pengelolaan aset, sehingga mampu menghasilkan pendapatan tanpa mengabaikan fungsi utama kampus.
Ia menekankan pentingnya pemanfaatan fasilitas dan aset yang selama ini belum digunakan secara optimal. Pengelolaan yang tepat dinilai dapat membuka peluang pendapatan tambahan, sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya universitas.
Selain optimalisasi aset, Warsito juga menyoroti pentingnya membangun jejaring dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, dunia industri, hingga alumni.
Kolaborasi tersebut dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas dukungan terhadap program akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, pengembangan universitas harus disertai perencanaan yang matang, termasuk memperhitungkan risiko dan menentukan skala prioritas.
Dengan demikian, setiap kebijakan yang diambil dapat memberikan manfaat nyata bagi institusi dan sivitas akademika.
Risiko-risiko yang paling besar ada di fakultas. Universitas ini sebenarnya mengoordinasikan, bagaimana memorkestrasi, dan kepemimpinannya harus dikuatkan,” ujar Warsito.
Warsito juga mengaitkan pengembangan kampus dengan perhatian terhadap kesejahteraan tenaga kependidikan dan pegawai. Pengelolaan keuangan yang lebih efektif, menurut gagasan yang disampaikannya, diharapkan dapat membantu universitas memperkuat dukungan terhadap sumber daya manusia.
Optimalisasi aset dan perluasan kemitraan tersebut menjadi bagian dari gagasan Warsito dalam mendorong Unila menjadi perguruan tinggi yang lebih mandiri, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan pendidikan tinggi di masa mendatang. [Helen Meldiana]

Tinggalkan Komentar Anda