Pringsewu

Kisah Fatimah dari TK Aisyiyah 1 Pringsewu: Perdana Ikut Lomba Langsung Juara, Orang Tua Murid Apresiasi Ketelatenan Guru Vita

Kisah Fatimah dari TK Aisyiyah 1 Pringsewu: Perdana Ikut Lomba Langsung Juara, Orang Tua Murid Apresiasi Ketelatenan Guru Vita

Vita dengan dua muridnya Fatimah dan Dylan. | Mirliana

Wartalampung.id, Pringsewu – Keberhasilan Fatimah Khoyriyyah, siswi kelas B1 TK Aisyiyah 1 Pringsewu, meraih Juara 3 cabang Da’i (Pidato) dalam ajang kompetisi keagamaan Pentas PAI membawa kebahagiaan dan haru mendalam bagi keluarganya.

Ibu dari Fatimah, Tri Yumala Sari, mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian sang buah hati. Terlebih, ini merupakan pengalaman pertama bagi Fatimah mengikuti kompetisi pidato tingkat anak-anak.

“Sangat senang sekali, karena anak saya belum pernah mengikuti kegiatan lomba pidato sebelumnya. Sekali ikut lomba, Alhamdulillah langsung mendapat juara,” ujar Tri Yumala Sari saat memberikan keterangannya, Minggu (18/10/2026).

Tri Yumala menegaskan bahwa keberhasilan putri kecilnya tidak terlepas dari peran, dedikasi, dan bimbingan penuh dari guru pelatih da’i TK Aisyiyah 1 Pringsewu, Novita Nurhayati (Vita).

Menurutnya, Vita telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, serta memberikan kasih sayang yang tulus dan kesabaran ekstra sejak awal latihan hingga proses perlombaan berlangsung.

“Keberhasilan ini berkat bimbingan Vita. Beliau yang melatih Fatimah dari nol dengan sangat sabar. Kami sebagai orang tua sifatnya hanya memberikan support penuh dari rumah,” tambahnya.

Dalam mendukung proses latihan dari rumah, Tri Yumala membiasakan Fatimah untuk melafalkan teks pidato beserta gerakannya secara rutin dan berulang-ulang, minimal menjelang tidur dan sesaat setelah bangun tidur.

Metode latihan ini terbukti memberikan dampak positif bagi perkembangan mental dan kepribadian Fatimah.

“Sekarang Fatimah jauh lebih berani untuk tampil dan makin percaya diri. Kegiatan ini sangat penting untuk melatih kemampuan berpikir serta daya ingat anak. Selain itu, lomba keagamaan seperti ini membentuk karakter anak agar lebih menghormati orang lain, khususnya kepada guru,” tutur Tri Yumala.

Ia berharap, pengalaman manis di usia dini ini dapat menjadi pijakan awal bagi tumbuh kembang Fatimah di masa depan.

“Harapan saya, semoga kelak anak saya tumbuh menjadi seorang pendakwah yang religi, bermoral, arif, dan bijaksana seperti ayahnya,” pungkasnya. [Mirliana Amira]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda