Pringsewu

Kekompakan Guru dan Orang Tua Kunci Sukses Siswa TK Aisyiyah 1 Pringsewu Raih Juara Pentas PAI

Kekompakan Guru dan Orang Tua Kunci Sukses Siswa TK Aisyiyah 1 Pringsewu Raih Juara Pentas PAI

Guru pembimbing TK Aisyiyah 1 Pringsewu, Novita Nurhayati, S.Pd., berfoto bersama wali murid dan siswa peraih prestasi usai menerima penghargaan pada ajang Pentas PAI di Ponpes Darul Ulum, Sekampung, Lampung Timur. (Foto: Dokumentasi TK Aisyiyah 1 Pringsewu). | Mirliana

Wartalampung.id, Pringsewu — Kontingen dari TK Aisyiyah 1 Pringsewu berhasil mengukir prestasi membanggakan pada gelaran kompetisi dan syiar keagamaan Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Darul Ulum, Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, pada tanggal 14 Oktober 2026 yang lalu.

Dalam ajang berskala kabupaten yang diikuti oleh peserta dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, SMK, hingga SLB tersebut, TK Aisyiyah 1 Pringsewu mengirimkan dua siswa terbaiknya.

Keduanya berhasil membawa pulang penghargaan, yakni juara 3 (Fatimah) untuk cabang lomba dai (pidato) dan juara harapan 2 (Dylan) untuk cabang musabaqah hifdzil Quran (MHQ).

Pendidik TK Aisyiyah 1 Pringsewu sekaligus guru pembimbing, Novita Nurhayati atau yang sering disapa Vita, mengungkapkan dalam wawancara daring pada wartalampung.id, Minggu, 18 Oktober bahwa keikutsertaan dalam ajang ini bertujuan utama untuk mengasah potensi diri, melatih mental, serta mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh sejak dini.

Vita menceritakan bahwa proses melatih anak usia TK memiliki tantangan tersendiri.

Mengingat para siswa belum bisa membaca dan menulis, metode latihan dilakukan secara auditori atau mengandalkan pendengaran.

“Siswa belum bisa membaca dan menulis, jadi metode pengajarannya mendengarkan dan mengulang. Kami mengucapkan per kata hingga per kalimat secara berulang-ulang sampai anak benar-benar hafal,” ujar Vita.

Ia menambahkan, modal utama seorang guru TK dalam melatih anak-anak adalah suara dan kesabaran ekstra.

Guru harus terus memperdengarkan materi latihan berulang kali agar menempel di ingatan siswa.

Tantangan terbesarnya, menurut Vita, adalah dinamika suasana hati (mood) anak usia dini yang mudah berubah. Oleh karena itu, sinergi antara guru dan orang tua menjadi kunci utama dalam menjaga kenyamanan anak.

“Kuncinya ada pada motivasi, pujian, dan kata-kata semangat agar anak tampil lebih percaya diri. Setiap latihan kami ciptakan suasana yang menyenangkan, sampai anak-anak ketagihan dan sering bertanya kapan latihan lagi,” tuturnya.

Bagi pihak sekolah, keberanian anak-anak tampil percaya diri di atas panggung merupakan pencapaian terbesar. Pada tingkatan usia dini, pembentukan karakter dan mental mandiri diposisikan lebih utama dibandingkan target akademik semata.

Vita berharap kegiatan seperti Pentas PAI terus dilaksanakan karena menjadi sarana aktualisasi diri, pembentukan karakter, dan media dakwah yang edukatif bagi generasi muda.

“Melalui kegiatan ini, pesan-pesan moral dari Alquran dan hadis terasa lebih hidup dan menyenangkan bagi anak-anak. Mengingat perjalanan mereka masih sangat panjang, kami berharap para siswa tetap aktif dalam kegiatan positif dan terus berani mengikuti perlombaan di masa mendatang,” pungkasnya. [Mirliana Amira]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda