Septianita Eva Rozani. | Helen
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Balai Veteriner Lampung menggelar vaksinasi rabies, lapak baca, dan kampanye gizi di kantor setempat hari ini.
Kegiatan ini hasil kerja sama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Lampung, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Minggu (27/9/2026).
Masyarakat diminta memperhatikan keamanan dan kualitas produk pangan asal hewan sebelum dikonsumsi.
Edukasi tersebut disampaikan dalam kampanye gizi yang menjadi rangkaian kegiatan.
Dokter hewan Balai Veteriner Lampung, Septianita Eva Rozani, mengatakan, dokter hewan tidak hanya berperan dalam menangani penyakit pada hewan, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam kesehatan masyarakat veteriner.
Menurutnya, pengawasan dilakukan terhadap produk pangan asal hewan yang dikonsumsi masyarakat.
Hal ini untuk mendeteksi kemungkinan adanya kontaminasi bakteri maupun bahan kimia yang tidak diperbolehkan.
“Melalui produk-produk yang dikonsumsi oleh manusia, kami melakukan pengamatan. Kemudian juga deteksi adanya kontaminasi baik bakteri maupun bahan kimia tambahan,” ujar Eva.
Ia mengatakan, edukasi mengenai pangan asal hewan penting diberikan sejak anak-anak karena berada dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan protein hewani.
Septianita menjelaskan masyarakat dapat menerapkan prinsip ASUH dalam memilih produk pangan asal hewan. ASUH merupakan singkatan dari aman, sehat, utuh, dan halal.
Menurutnya, unsur aman berarti produk yang dibeli terbebas dari cemaran bakteri, maupun bahan kimia berbahaya seperti formalin dan boraks.
Sementara itu, sehat berarti produk memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh.
Daging, susu, dan telur, misalnya, mengandung protein, vitamin, serta mineral yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Unsur utuh berarti produk yang dibeli tidak tercampur dengan bahan atau produk lain yang tidak semestinya.
Sedangkan halal berkaitan dengan proses pemotongan, penyembelihan, hingga pengolahan produk pangan asal hewan.
Selain memilih produk, masyarakat juga diminta memperhatikan cara penyimpanan dan pengolahannya.
Produk pangan asal hewan yang belum akan diolah, sebaiknya disimpan dalam tempat yang sesuai untuk menjaga kualitasnya.
“Setelah kita beli kemudian kita simpan di tempat yang semestinya. Kalau mau awet, sebelum diolah kita simpan di refrigerator,” ujarnya.
Eva juga mengingatkan masyarakat menjaga kebersihan tempat dan peralatan selama proses pengolahan. Hal ini dilakukan agar produk tidak terkontaminasi.
Edukasi tersebut menjadi bagian dari kampanye gizi.
Tidak hanya mengenalkan manfaat protein hewani kepada anak-anak, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai cara memilih, menyimpan, dan mengolah produk pangan. [Helen Meldiana]

Tinggalkan Komentar Anda