Bisnis

Juri Concours de Desserts Français Francetival 2026, Yussy Akmal: Perkuat Teknik Dasar Plating

Juri Concours de Desserts Français Francetival 2026, Yussy Akmal: Perkuat Teknik Dasar Plating

Yussy Akmal (tiga kiri). | Najwa

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Yussy Asih Faurini (47) atau Yussy Akmal, pengusaha kue dan roti asal Bandar Lampung yang dikenal lewat oleh-oleh pie pisang sejak 2010, didapuk menjadi salah satu juri Concours de Desserts Français di Francetival 2026 hari ketiga, Rabu (23/9).

Yussy membagikan pandangannya usai menilai penampilan peserta dalam wawancara langsung di lokasi acara.

Menurut Yussy, pelaksanaan kompetisi secara keseluruhan sudah berjalan baik, meski masih ada ruang perbaikan dari sisi teknis panitia. Ia menyarankan format penilaian ke depan bisa mencontoh konsep presentasi seperti pada acara MasterChef.

“Silakan tim mempresentasikan satu-satu ke juri, biar juri juga tahu bagaimana cara mereka mempresentasikan,” ujar Yussy.

Ia juga mengingatkan pentingnya penekanan pada tujuan utama acara, yakni memperkenalkan bahasa dan budaya Prancis.

Yussy menyoroti sejumlah peserta yang menggunakan istilah kuliner Prancis seperti croquembouche dan profiterole tanpa memahami maknanya, sehingga hal ini bisa jadi catatan untuk pembekalan peserta ke depan.

Soal kemampuan teknis, Yussy menilai peserta yang masih berstatus siswa SMK ini masih dalam proses belajar dan perlu terus mengasah teknik-teknik dasar plating, seperti piping. Menurutnya, hal ini wajar mengingat kompetisi ini justru menjadi ajang melatih keberanian mereka untuk tampil dan mencoba.

“Ini menguji keberanian mereka. Kalau memang mereka memilih bidang ini, teknik dasar itu perlu terus diasah sampai benar-benar matang,” katanya.

Yussy menjelaskan, plating dessert pada dasarnya menjadi kanvas yang merepresentasikan skill dan teknik seorang chef. Ia menyebut kombinasi kreativitas, inovasi, rasa, dan tekstur produk sebagai poin-poin utama yang perlu terus diasah peserta ke depannya.

Ia berharap peserta dapat terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan kuliner mereka usai mengikuti kompetisi ini. Menurutnya, akses belajar kini semakin terbuka lewat berbagai platform seperti YouTube dan AI.

“Sekarang ilmu itu nggak mahal. Yang mahal itu keinginan belajar,” tutupnya. [Najwa Kamila Faradisa]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda