Mahasiswa Unila
Wartalampung.id, Bandar Lampung — Tim mahasiswa Universitas Lampung melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 mengembangkan ResQ-Net, sebuah purwarupa sistem komunikasi taktis yang dirancang untuk mendukung operasi Search and Rescue (SAR) di wilayah blank spot, yaitu area ketika jaringan seluler dan internet tidak tersedia.
ResQ-Net dikembangkan untuk menjawab salah satu tantangan dalam operasi penanggulangan bencana, yakni terputusnya komunikasi antara personel di lapangan dan posko ketika infrastruktur telekomunikasi mengalami gangguan.
Sistem ini diarahkan agar pertukaran informasi tetap dapat dilakukan melalui jaringan komunikasi mandiri tanpa bergantung pada jaringan publik.
Tim ResQ-Net terdiri atas Isna Inun Wulan Sari sebagai ketua, serta Dafa Farhan Haqiqi, Desta Arya Putra, M. Fahrudin, dan Enggal Bima Sakti sebagai anggota. Pengembangan dilakukan dengan pendampingan Indah Khoerunnisa.
Dalam pengembangannya, ResQ-Net memanfaatkan teknologi Long Range (LoRa) 433 MHz dengan topologi mesh multi-hop.
Melalui mekanisme tersebut, sebuah perangkat tidak hanya berfungsi sebagai pengirim atau penerima data, tetapi juga dapat meneruskan paket dari perangkat lain menuju Gateway.
Konsep ini memungkinkan komunikasi tetap berlangsung meskipun perangkat tidak dapat terhubung langsung dengan pusat komando.
Hingga 21 Agustus 2026, tim telah menghasilkan tiga perangkat fisik yang terdiri atas dua ResQ-Node dan satu Gateway. Ketiga perangkat tersebut telah melalui proses perakitan dan ditempatkan di dalam enclosure dengan antena eksternal.
Pengembangan komunikasi juga telah meningkat dari sistem awal berbentuk star topology menjadi jaringan LoRa mesh multi-hop.
Firmware ResQ-Net dilengkapi mekanisme Time to Live (TTL), penolakan paket duplikat melalui msg_id, prioritas pengiriman paket, acknowledgement (ACK) dan pengiriman ulang, serta mekanisme self-healing.
Mekanisme tersebut dirancang agar paket dapat diteruskan melalui node lain ketika jalur komunikasi langsung tidak tersedia. Paket yang bersifat penting atau darurat juga dapat memperoleh prioritas dibandingkan lalu lintas data biasa.
Selain perangkat lapangan, tim telah mengembangkan Command Center sebagai pusat pemantauan sistem. Command Center terdiri atas backend dan dashboard yang dapat menampilkan topologi jaringan mesh, telemetri setiap node, terminal pesan LoRa, serta kejadian atau status sistem.
Sistem pusat komando dikembangkan dengan prinsip offline-first, sehingga fungsi utama ResQ-Net tidak mensyaratkan koneksi internet maupun layanan cloud.
Pendekatan ini disesuaikan dengan skenario penggunaan pada kondisi bencana ketika jaringan komunikasi publik tidak tersedia.
ResQ-Net juga dirancang untuk mengembangkan fungsi pendukung pencarian korban melalui deteksi pasif terhadap perangkat elektronik di sekitar lokasi pencarian.
Pada tahap pengembangan saat ini, fungsi tersebut masih berada pada tahap prototipe melalui pemindaian Bluetooth Low Energy (BLE). Pengembangan kanal deteksi Wi-Fi dan BLE secara penuh masih akan dilanjutkan pada tahap berikutnya.
Sementara itu, modul Offline AI yang menjadi salah satu target pengembangan ResQ-Net juga belum diimplementasikan dan masih menjadi bagian dari pengembangan lanjutan.
Tim saat ini memprioritaskan stabilitas jaringan mesh, integrasi perangkat dengan Command Center, serta persiapan pengujian performa lapangan.
Pengujian lanjutan diperlukan untuk memperoleh data mengenai jangkauan komunikasi aktual, packet loss, kestabilan sistem, serta ketahanan daya perangkat dalam penggunaan lapangan.
Melalui pengembangan ResQ-Net, tim berharap dapat menghasilkan sistem komunikasi taktis yang dapat menjadi alternatif pendukung operasi SAR ketika infrastruktur komunikasi konvensional tidak dapat digunakan.
Integrasi komunikasi LoRa mesh, informasi posisi, jaringan lokal tanpa internet, deteksi pasif, dan Command Center diharapkan mampu membentuk satu ekosistem komunikasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk kebutuhan kebencanaan. []

Tinggalkan Komentar Anda