Opini

Kovach dan Independensi yang Tak Mudah

Kovach dan Independensi yang Tak Mudah

Juwendra Asdiansyah

Oleh Juwendra Asdiansyah

KEHARUSAN jurnalis untuk bersikap independen berlaku global.

Di Amerika Serikat (AS) yang cenderung liberal, standar etik dalam soal independensi menyangkut pemberian kebaikan, hadiah, dan sebagainya, berlaku ketat. Standar tersebut menjadi “pilar-pilar baja” yang memagari berbagai sektor: politik, hukum, bisnis, termasuk jurnalisme.

Ada satu cerita tentang seorang politikus muda Partai Demokrat yang turut bekerja untuk pencalonan John F Kennedy melawan Richard Nixon pada pemilu presiden (pilpres) AS 1960. Namanya Homer Peas. Dia veteran perang Korea pada 1950-an.

Suatu ketika, Peas merayu teman-temannya sesama veteran perang untuk memilih Kennedy dalam pemilu. Bukan rayuan kosong, dia memberikan sebotol wiski sebagai imbalan. Yap, cuma sebotol wiski.

Sepele? Tidak. Dalam politik Amerika, tindakan seperti itu tidak dibenarkan. Tetap dikategorikan suap dan lalu menjadi skandal.

Publik mengetahui hal ini dari berita yang dibuat seorang jurnalis muda bernama Bill Kovach. Kovach mulanya menyelidiki praktik “jual beli suara” dalam pilpres, dan dia mendapati Peas terlibat.

Kovach menelepon Peas dan kemudian memberitakan skandal tersebut. Peas diperiksa polisi, dibawa ke pengadilan, dan akhirnya dinyatakan bersalah.

Hukumannya boleh pilih: masuk penjara atau dikirim ke perang Vietnam. Peas pilih ke Vietnam. Dalam pikirannya, ke medan perang bukan hal baru. Dia sudah pernah ikut perang Korea.

Peas diterjunkan ke Vietnam pada 1966. Sayangnya, pada satu clash dia kehabisan peluru, dan kemudian tewas terbunuh oleh bayonet Vietkong.

Cerita belum selesai. Saya belum kisahkan sisi ironinya: Kovach dan Peas tak lain merupakan teman semasa sekolah. Keduanya bermain football bersama ketika duduk di sekolah menengah atas.

Ketika perang Korea pecah, mereka kompak bergabung ke dinas militer pada 1951. Kovach masuk Angkatan Laut, sementara Peas jadi paratrooper.

Lepas dari militer, Kovach kuliah, lalu menjadi wartawan. Dia memulai karier sangat panjangnya sebagai wartawan pada 1959 di harian Johnson City Press-Chronicle.

Sementara Peas, dia terjun ke politik, menjadi aktivis Partai Demokrat. Dalam posisi baru itulah keduanya “bersobok” kembali—sebuah persinggungan yang berujung kisah tewasnya Peas di Vietnam.

Kovach tentu sangat bersedih atas kematian sahabatnya. Apalagi, pria berayah muslim Albania ini merasa ada andilnya “mengirim” Peas ke Vietnam. Bahkan setelah puluhan tahun kematian Homer Peas masih mengganggu dan membuatnya merasa sakit.

“Saya sering sedih dan marah karena secara langsung saya ikut mengakibatkan kematian teman saya. Kalau saya tidak menyebut nama Homer, dia jelas tak akan berangkat ke Vietnam dan mati di sana,” ujar Kovach kepada jurnalis Andreas Harsono dalam perjalanan Magelang-Yogyakarta, Desember 2003. Dia ke Indonesia untuk memperkenalkan buku The Elements of Journalism (versi Indonesia 9 Elemen Jurnalisme) yang disusunnya bersama Tom Rosenstiel.

“Tapi saya juga tahu bahwa keputusan untuk berbuat salah atau berbuat benar adalah keputusan Homer sendiri. Homer bisa menolak untuk ikut kejahatan yang membahayakan demokrasi kami. Tapi Homer memilih berbuat salah,” sambung jurnalis kelahiran 1932 ini.

Ketika Andreas bertanya bagaimana sikap Kovach jika suatu saat menghadapi situasi yang serupa, begini jawabannya, “Anda dan saya wartawan! Tugas kita memberitahu warga jika terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Warga harus tahu apa yang salah, apa yang benar, sehingga mereka bisa mengambil sikap dengan informasi yang lengkap. Kalau saya harus menghadapi dilema ini lagi, saya kira saya akan melakukan hal sama dengan apa yang pernah saya lakukan terhadap Homer.”

Atas jawaban tersebut, dalam tulisannya di majalah Pantau edisi Januari 2004 berjudul “Independensi Bill Kovach”, Andreas menyatakan, “Bulu kuduk saya merinding.”

***

Mudah diucapkan, bersikap independen atau menjaga independensi sangat tidak mudah dilakukan. Kisah hebat tentang independensi ala begawan jurnalisme dunia Bill Kovach bukan kisah umum yang mudah ditemukan dan dilakukan banyak wartawan.

Tak peduli berapa panjang kariernya, setinggi apa skill jurnalistiknya, seluas apa cakrawala pengetahuannya, independensi tidak otomatis melekat pada diri seorang wartawan.

Saya mengenal sejumlah jurnalis senior yang kadar independensinya jauh lebih kecil daripada reputasinya, pun jauh lebih pendek dari rekam jejaknya sebagai wartawan berpuluh tahun.

Sekali lagi, menjadi independen dan menjaga independensi memang bukan perkara mudah. Ujiannya terutama ketika godaan datang kepada diri sendiri. Pada titik itu, pilihannya cuma dua: setia menjaga independensi atau tunduk di bawah rayuan materi, kekuasaan, fasilitas dan hiburan duniawi lainnya.

Ada jurnalis yang terlihat dan mengesankan diri sangat galak ihwal independensi, setidaknya dari status-statusnya di Facebook. Dia tak jarang ngegas saat mengomentari sesama awak media yang ngamplop, menerima uang, meminta jatah proyek, mengunduh fasilitas pemerintah, dan lain sebagainya.

Tapi anehnya, ketika anggota keluarganya yang juga wartawan menerima kebaikan-kebaikan yang jelas-jelas dilarang dalam Kode Etik Jurnalistik, yang tak boleh diambil karena merusak independensi, dia diam saja.

Alih-alih melarang, suaranya yang biasa lantang kepada orang lain, seketika senyap, bahkan hilang sama sekali. Ini jenis jurnalis yang gagah di dunia maya tapi loyo ketika “kenikmatan” sesungguhnya datang menyambangi di dunia nyata.

Ujian kedua adalah ketika independensi tetap dipertanyakan meskipun dengan susah payah dipertahankan.

Orang cenderung hanya ingin mendengar yang baik-baik saja tentangnya atau hal-pihak yang disukainya. Jika ada berita tak sedap tentangnya atau hal-pihak yang disukainya, seketika dia pundung dan meradang.

Pada 2017, ketika duajurai.co, media yang saya kelola, memberitakan hal minor tentang gubernur, teman saya yang mendukung lawan politik gubernur senang sekali. Dia bilang kami media yang berani, idealis, independen, punya integritas, dan segala pujian setinggi langit.

Pada saat yang sama, ada pendukung gubernur yang mencurigai kami tidak independen, sarat kepentingan, ditunggangi, dan segala rupa tuduhan. Tudingan ini tidak tidak disampaikan langsung. Muter-muter dulu, ujungnya sampai juga ke telinga kami.

Kali lain, ketika duajurai memberitakan pernyataan wali kota yang mengancam memecahkan kepala wartawan, teman saya yang mendukung wali kota berang. Dianggapnya kami menyerang wali kota. Pada saat yang sama, pendukung gubernur justru memuji betapa independennya kami.

Demikian terjadi saat duajurai memberitakan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa UIN yang beberapa kali berujung ricuh. Pihak otoritas UIN jengah.

Bahkan ada yang curiga dan kecewa. Kata mereka, “Kok Juwe begitu ya, padahal dia kan teman baik Pak Rektor.” Tak urung, rektor yang memang berkarib dengan saya pun sampai menelepon karena merasa pemberitaan kami tak berimbang dan merugikan UIN.

Sebaliknya, begitu kami beritakan secara running pernyataan-pernyataan pihak rektorat, giliran kubu mahasiswa dan pendukungnya yang singut. Mereka segera bercuriga. Tudingannya jelas, “Wajar saja duajurai begitu, Juwendra kan temannya rektor.”

Demikianlah. Seprofesional apa pun media dan jurnalis bekerja, sekuat apa pun independensi digenggam, selalu terbuka kemungkinan ada pihak yang tidak senang dengan kerja dan produk jurnalistik yang dihasilkan.

Respons ini terutama datang dari mereka yang merasa media dan pemberitaan tidak berada di pihaknya, atau merugikan-mengusik kepentingannya.

Tapi itulah ujian independensi. Bagaimana mungkin mendaku independen jika independensi itu rontok setiap kali diuji.

Independen itu soal sikap, keyakinan, keteguhan, dan idealisme, dan bukan sekadar label untuk gagah-gagahan. Ia ada dan harus dijaga kukuh karena hal itu penting bagi profesi jurnalis, dan sama sekali bukan agar semata dibilang independen.

Dianggap/disebut independen atau tidak, seorang jurnalis tetap harus bersikap independen dan menjaganya dengan sungguh-sungguh.

Bekerja sebagai jurnalis memang ada risikonya. Apalagi, ada waktunya profesi baik ini harus memantau kekuasaan, memberitakan penyimpangan dan kesewenangan.

Meski demikian, media dan jurnalis tak harus jerih, tak mesti surut langkah mengabarkan kebenaran. Sepanjang prosedur dan prinsip jurnalisme yang benar dijalankan, insya Allah risiko dapat diminimalkan, jurnalis dapat bekerja dengan aman tanpa takut sekadar tak bisa “makan”.

Kota Baru, 7 Agustus 2021

Juwendra Asdiansyah

  • Ketua AJI Bandar Lampung 2007-2010
  • Tulisan ini dibuat sebagai kado HUT ke-32 AJI
Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda