Gufron Azis Fuadi
Setelah tertangkap di Solo pada 22 November 1965, Aidit dibawa ke Boyolali untuk dieksekusi. Sebelum dieksekusi Aidit minta waktu kepada kolonel Yasir Hadibroto, untuk berpidato di depan sebuah sumur tua.
Kemudian dengan berapi api dia menyampaikan pidatonya dan menyatakan bertanggung jawab atas kudeta (G30S/PKI ) dan meneriakkan “hidup PKI”… Yang disusul dengan berondongan senjata eksekutor. Aidit mati dengan ucapan terakhirnya “hidup PKI”.
Tetapi dia tidak sendirian, karena ucapan yang sama juga diteriakkan oleh Sudisman, anggota CC (comite central) PKI.
Kegigihan sampai mati inilah yang disebut ber-maknawiyah tinggi. Meskipun ruhiyah nya mungkin rendah. Ruhiyah berbeda dengan maknawiyah, meskipun sering dianggap sama.
Perbedaan utama antara ruhiyah dan maknawiyah terletak pada fokusnya, di mana ruhiyah berpusat pada hubungan vertikal dengan Allah, sedangkan maknawiyah mencakup mentalitas, moral, dan semangat hidup secara keseluruhan.
Maknawiyah adalah masalah mental. Berkaitan dengan ketahanan jiwa, semangat juang, dan moralitas.
Maknawiyah yang tinggi bisa dilihat pada ketenangan, keberanian, dan kestabilan berpikir saat menghadapi masalah atau ujian.
Maknawiyah yang tinggi akan melahirkan kepribadian yang berani, tidak mudah putus asa, sabar dan siap berkorban.
Betapa pentingnya peran maknawiyah bisa dilihat dalam ayat 65 surat Al Anfal:
“Wahai Nabi (Muhammad), kobarkanlah semangat orang-orang mukmin untuk bersemangat. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir karena mereka (orang-orang kafir itu) adalah kaum yang tidak memahami.”
Idealnya, maknawiyah berbanding lurus dengan ruhiyah. Sehingga ruhiyah yang tinggi maka maknawiyah juga mantap. Begitupun sebaliknya.
Seperti yang dialami oleh sahabat Nabi Saw, Khubaib bin Adi yang tertangkap dalam ekspedisi dakwah Ar- Raji’ karena pengkhianatan Bani Hudzail. Kemudian dijual ke musyrikin Quraisy dan dieksekusi mati di tiang salib.
Dan sebelum dieksekusi Khubaib dengan tenangnya minta waktu untuk shalat sunat dua rakaat terlebih dahulu. Setelah sebelumnya ditawari pembebasan apabila dia mau mencela dan mencaci maki Nabi Muhammad Saw.
Tetapi kasus Aidit menunjukkan bahwa maknawiyah seseorang tidak selalu sejalan dengan tingkat ruhiyah. Sumber kekuatan maknawiyah, tidak hanya ruhiyah, bisa juga ideologi bahkan ashabiyah.
Dari sini kita bisa memahami bila ada seseorang yang ruhiyahnya bagus tetapi maknawiyahnya (mentalnya) buruk. Rajin shalat, tilawah, puasa tetapi pengecut, tidak jujur, tidak tanggung jawab, semangat juangnya rendah dan tidak ngotot.
Berkaca pada Aidit, maknawiyah bisa bersumber kepada ideologi, yaitu konsep dasar, keyakinan, dan sistem aturan (politik, sosial, ekonomi) yang mengatur kehidupan bernegara atau bermasyarakat.
Secara sederhana ideologi bisa disebut dengan fikrah yang berarti pola pikir, gagasan, ide, atau konsep pemikiran yang melandasi cara pandang seseorang terhadap sesuatu.
Seorang aktivis dakwah tidak saja dituntut memiliki ruhiyah yang tinggi tetapi juga dituntut untuk memiliki pemahaman fikrah yang kokoh. Kolaborasi keduanya akan melahirkan aktivis yang ruhiyahnya tinggi dan maknawiyah nya kuat.
Oleh karena itu memahami konsep-konsep dasar (fikrah) adalah suatu keniscayaan bagi seorang aktivis. Karena akan sangat membantu tetap on the track dan tetap bersemangat meskipun harus menghadapi jalan terjal dan tantangan sing ora umum.
Sehingga semboyan semboyan seperti: nahnu du’at qobla kulli syai’, wajibatu aktsaru minal awqat, Allahu ghayatuna dan lainnya bisa dipahami dan diamalkan, bukan hanya sebatas slogan tetapi sebuah nilai perjuangan!
Wallahu a’lam bi shawab. Allahul musta’an. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda