Opini

Trilogi Serakah, Zalim, dan Sombong

Trilogi Serakah, Zalim, dan Sombong

Gufron Azis Fuadi

Allah adalah pencipta manusia. Allah menciptakan manusia dengan membekalinya dengan sifat fujur dan takwa. Dengan sifat fujur dalam diri manusia maka manusia memiliki kecenderungan berbuat maksiat, melawan peeintah dan larangan Allah. Sebaliknya dengan sifat taqwa, manusia memiliki kecenderungan untuk mendekat dan tunduk kepada Allah.

Amal perbuatan manusia ada dalam tarik menarik kedua sifat ini. Akhirnya adalah mana yang lebih dominan pengaruhnya.

Beberapa waktu yang lalu kita mendapat hiburan di berbagai media dengan digeledahnya sebuah kafe, rumah mewah di Sentul dan beberapa tempat yang lain. Dimana dalam penggeladahan tersebut setidaknya ditemukan 74 kg emas batangan dan hampir setengah triliun uang cash.

Bagi masyarakat kebanyakan ini tentu sebuah hiburan, karena berita ini cukup melegakan, menyenangkan. Disebut menghibur karena biasanya pertunjukan ini akan cepat selesai dan seringkali tidak happy ending. Bisa karena peoses penanganannya jadi tumpul dan jungkir balik tidak sesuai dengan pakem dalam KUHP dan diakhiri dengan vonis yang tidak masuk akal dan hati nurani.

Mungkin kita berpikir kapan kasus kasus seperti ini akan berakhir. Hati nurani dan akal waras pasti ingin ini segera berakhir. Tapi sepertinya masih butuh waktu yang lama. Karena memang sifat manusia ya seperti itu. Serakah dan suka mengeluh!

“Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.”
(Al ‘Adiyat, 8)

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (Al ma’arij, 19)

Sabda Nabi Saw:
“Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam melainkan tanah (kematian).”
(Bukhari dan Muslim)

Serakah atau rakus adalah keinginan yang sangat kuat, berlebihan dan tidak terkendali terhadap sesuatu. Sehingga selalu merasa tidak cukup. Serakah, boleh dikata, adalah manifestasi nyata dari nafsu.

Sedangkan nafsu adalah bahan bakar atau energi dasarnya (seperti keinginan untuk makan, memiliki harta, atau kekuasaan). Karenanya nafsu tidak perlu dimatikan, cukup dikendalikan. Tapi itu tidak mudah.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Yusuf: 53)

Bila nafsu tidak dikelola atau dikendalikan dengan akal sehat, nilai moral dan atau keimanan, ia akan bertransformasi menjadi keserakahan (rakus).

Serakah adalah kondisi ketika dorongan nafsu tidak terkendali, sehingga mendorong manusia untuk melanggar batas, mengambil hak orang lain, dan tidak pernah merasa puas. Keduanya (nafsu dan serakah) memiliki hubungan sebab-akibat yang sangat erat.

Serakah adalah akar utama yang mendorong seseorang melakukan perbuatan dzalim (aniaya). Sifat serakah (tamak) membuat seseorang menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu dunianya, sehingga mereka tega merugikan, merampas, dan menyakiti hak orang lain (dzalim).

Orang yang serakah dan berhasil mengumpulkan banyak hal, harta dan tahta misalnya, maka pencapaian tersebut sering kali menjadi pemicu bagi munculnya rasa sombong.

Serakah dan sombong seringkali menjadi sebab timbulnya kedzaliman secara bertahap, dimulai dari:
1). Hilangnya rasa puas. Orang serakah tidak pernah merasa cukup (lawan dari qanaah).
2). Menghalalkan segala cara.
Demi memenuhi ambisinya, aturan agama dan norma sosial diabaikan.
3). Melanggar hak orang lain.
Perbuatan ini secara otomatis menjadi tindakan dzalim kepada sesama.

Zalim secara bahasa berasal dari bahasa Arab “zhulm” yang berarti kegelapan, karena perbuatan dzalim akan membawa kegelapan bagi pelakunya di akhirat kelak.

Secara istilah zalim adalah prilaku menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, melanggar hak orang lain, atau perbuatan aniaya yang keluar dari kebenaran.

Orang yang dikuasai nafsu sering kali menuruti egonya dan lupa bersyukur. Akibatnya, muncul sifat serakah yang ditandai dengan selalu merasa kurang yang akhirnya mendorong tindakan destruktif seperti menipu, mencuri, atau korupsi dan tindakan zalim lainnya.

Serakah dan zalim sebenarnya bukan miliknya para pejabat dan orang yang berkuasa saja. Mereka korupsi bukan hanya karena mereka serakah tetapi karena ada kesempatan.

Banyaknya masyarakat terjerat judi online dan skema Ponzi adalah akibat dari keserakahan, yang ingin mendapatkan keuntungan melebihi dari yang wajar.

Kepada para pejabat terutama penegak hukum Allah mengingatkan dalam surat Shad ayat 26:
“(Allah berfirman,) ‘Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”

Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda