Opini

Kader Dakwah dan Syajarah Thayyibah

Kader Dakwah dan Syajarah Thayyibah

Gufron Azis Fuadi

Beberapa tahun yang lalu d ihalaman rumah ada pohon nangkadak (nangka-cempedak) yang rimbun dan berbuah lebat. Tidak lama kemudian, entah mengapa, daunnya layu, kering dan akhirnya mati.

Pada satu kesempatan saya tanyakan kepada kawan yang orang pertanian, katanya, pohon itu mengalami busuk akar akibat terinfeksi jamur atau bakteri.

Beberapa bulan lalu, sebelum lebaran, pohon jambu yang rimbun dan menjulang sampai ke kabel listrik di depan rumah ditebang hingga menyisakan tonggak setinggi 5-10 cm.

Tetapi tidak lama kemudian tumbuh tunas baru dan terus tumbuh lagi meskipun beberapa kali dipangkas. Mengapa? Karena akarnya sehat dan kuat!

Dua hal di atas mengingatkan kita pada uraian yang pernah disampaikan Ustaz Hilmi Aminuddin tentang syajarah thaiyibah dalam ayat 24 surat Ibrahim.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.”

Ustaz Hilmi menjelaskan surat Ibrahim ayat 24 ini dengan pendekatan kontemporer yang menghubungkan konsep iman dengan kinerja, performa, dan kontribusi nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Beliau menggunakan istilah syajarah thayyibah (pohon yang baik) sebagai metafora ideal bagi seorang Muslim maupun institusi dakwah. Dengan ayat ini beliau menegaskan bahwa:

  1. Islam Harus Ditampilkan dalam Bentuk Kinerja. Islam tidak boleh sekadar berhenti sebagai konsepsi, teori, atau pemikiran di atas kertas.

Islam yang benar harus diwujudkan dalam bentuk amal nyata dan performa kerja (performance) yang konkret di tengah masyarakat, persis seperti visualisasi sebuah pohon yang tumbuh aktif dan produktif.

  1. Akar yang Kokoh Menghujam (Ashluha Tsabit).

Frasa ashluha tsabit (akarnya teguh/kokoh) sebagai simbol keimanan dan pemurnian akidah (ta’shil) yang mendalam.

Seorang Muslim jangan seperti “pohon hidroponik” yang akarnya mengambang tanpa tanah. Komitmen keislaman harus “membumi”, mengakar kuat dalam hati, dan memiliki pijakan prinsip yang tidak tergoyahkan oleh badai perubahan zaman.

  1. Cabang yang Menjulang Tinggi (Far’uha fis-Sama’). Frasa far’uha fis-sama’ (cabangnya di langit) diumpamakan sebagai representasi wawasan yang luas, cita-cita yang tinggi, serta reputasi yang baik.

Dahan-dahan yang menjulang tinggi dan rindang ini berfungsi untuk mengayomi siapapun yang berteduh di bawahnya tanpa memandang latar belakang. Menebarkan oksigen kepada siapa saja.

Ini melambangkan inklusivitas dakwah yang membawa rasa aman bagi lingkungan sekitar, Rahmatan Lil ‘Alaihim.

  1. Berbuah Sepanjang Waktu (Tu’ti Ukulaha Kulla Hin).

Meskipun bagian ini masuk ke ayat berikutnya (ayat 25), Ustadz Hilmi selalu mengaitkannya sebagai satu kesatuan konsepsi Syajarah Thayyibah. Pohon yang baik wajib memberikan manfaat dan menghasilkan “buah” (kontribusi, solusi, dan amal saleh) di setiap musim, bukan musiman.

Seorang (muslim) yang menjiwai ayat ini akan terus menjadi sumber manfaat bagi masyarakat luas dalam kondisi apa pun. Keberadaannya menjadi rahmat bagi sekitarnya.

Kali lain, beliau menguraikan ayat ini dengan pendekatan atau perspektif dakwah dan jamaah. Dimana,

1). Pohon yang baik (syajarah thaiyibah) itu diibaratkan sebagai sebuah jamaah.

2). Akar yang Kokoh Menghujam (Ashluha Tsabit) adalah kader yang tangguh dan produktif.

Sebagaimana sebuah pohon yang hidup dan mati nya sangat tergantung dengan kesehatan akar.

Begitupun sebuah jamaah yang tumbuh dan berkembangnya sejalan dengan kesehatan dan kekuatan. Kesehatan dan kekuatan adalah pangkal dari produktif atau tidaknya kader.

Akarlah yang menopang tetap berdirinya (akar tunggang dan akar cabang) sebuah pohon. Akar jugalah yang mencari berbagai kebutuhan hidup (akar serabut) sebuah pohon.

Uniknya, akar yang sedemikian pentingnya dan besar kontribusi nya, tempat nya atau posisinya ada di bawah tanah, tidak terlihat, tidak terekpos dan tidak ingin menonjolkan diri.

Menurut ilmu tumbuh-tumbuhan, akar berfungsi sebagai jangkar penopang agar pohon berdiri kokoh, menyerap air dan unsur hara atau simber makanan dari dalam tanah, menyalurkannya ke seluruh bagian tanaman, serta menyimpan cadangan makanan.

Bahkan ada akar juga yang menonjol keatas tanah karena fungsinya sebagai alat pernapasan dan reproduksi.

Bisa kita bayangkan bila akar akar ini mengikuti hawa nafsu,  pada pingin tampil keatas dan melupakan tugas pokok dan fungsinya. Maka yang terjadi adalah pohon itu akan layu dan kemudian roboh dan mati.

Maka akar bagi pohon ibarat kader bagi jamaah. Hal ini sama seperti ungkapan Kh. Ahmad Dahlan kepada kader Muhammadiyah agar “menghidup-hidupi Muhamadiyah dan jangan mencari hidup dari Muhamadiyah.”

Memang tugas kader adalah menghidupi atau menghidupkan jamaah. Menopang agar berdiri kokoh dan berkontribusi agar terus tumbuh, berkembang dan sehat.

Allah menciptakan akar dengan memahami fungsi dan tujuan keseluruhan sebuah pohon, ikhlas dan terus bekerja sesuai tupoksinya meskipun tak terlihat.

Pohon akan kerdil, layu atau bahkan tumbang dan mati bila akarnya berpenyakit. Begitupun jama’ah!

3). Cabang yang Menjulang Tinggi (Far’uha fis-Sama’). Maknanya adalah bahwa jamaah itu harus memberikan manfaat kepada orang banyak baik dalam bentuk charity, advokasi maupun politik kebijakan (mempengaruhi atau melahirkan kebijakan baik dan adil).

Jamaah itu bukan saja harus bisa ngayemi dan ngayomi anggotanya tetapi juga orang lain. Sesuai dengan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin.

Ustaz Hasan sering mengingatkan bahwa aktivis pergerakan itu tidak boleh berhenti hanya berjuang untuk diri dan kelompoknya tetapi juga untuk umat. Sebagaimana ungkapan “Nahnu minhum, nahnu ma’ahum wa nahnu lahum” (نحن منهم، نحن معهم، ونحن لهم)

“Kami bagian dari mereka(masyarakat), kami (hidup) bersama mereka, dan kami (bekerja) untuk mereka”.

Prinsip ini menegaskan komitmen untuk membaur, berempati, berkontribusi dan mendedikasikan perjuangan secara total kepada umat. Konsep sosial-dakwah ini lazim digunakan dalam pergerakan Islam untuk menjelaskan peran kader atau aktivis dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Bekerja keras di balik layar, yang tidak terlihat jelas, tentu saja bukan perkara mudah. Karena setiap orang memiliki ego dan keinginan untuk dilihat dan dihargai oleh orang lain.

Kecuali yang tulus ikhlas dilandasi dengan pemahaman fikrah, maknawiyah dan ruhiyah yang mumpuni. Tapi itu tidak mudah, meskipun bukan mustahil!

Wallahul musta’an. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda