Gusti Maharani
WARTALAMPUNG.ID, METRO — Model berbakat sekaligus Duta Bahasa Provinsi Lampung, Gusti Maharani, resmi memulai debut penugasan pertamanya pascapenganugerahan dengan terlibat aktif dalam menyukseskan program kerja krida kebahasaan di Universitas Muhammadiyah Metro, Selasa (26/5/2026) lalu.
Gusti Maharani bersama Ikatan Keluarga Duta Bahasa (Ikadubas) dan Balai Bahasa Provinsi Lampung hadir langsung menjadi panitia pelaksana dalam agenda pelatihan menulis esai. Melalui kegiatan ini, ia mengaku mendapatkan perspektif baru yang mendalam mengenai esensi utama dari seorang duta bahasa.
Bagi Gusti Maharani, Duta Bahasa bukan sekadar ajang unjuk bakat atau perwajahan visual dari sebuah organisasi dan lembaga semata.
Panggung ini merupakan wadah nyata untuk saling merangkul, belajar, bertumbuh, serta berkembang bersama sebagai satu keluarga besar.
Momentum pelatihan menulis esai di Universitas Muhammadiyah Metro ini memberikan dampak intelektual yang besar bagi Gusti Maharani. Dari sinilah pandangannya terhadap literasi dan budaya membaca semakin terbuka lebar.
Pelatihan ini menyadarkan Gusti bahwa seorang agen perubahan tidak boleh membatasi jenis bacaan, melainkan harus melahap semua bentuk tulisan.
Ia juga mengaku, membaca beragam genre tulisan efektif melatih seseorang agar tidak “bersumbu pendek” (mudah terprovokasi) dalam merespons fenomena sosial.
Ia juga bisa memahami ragam referensi bacaan secara otomatis meningkatkan kualitas tutur kata dan kedalaman wawasan saat berbicara di depan publik.
Meskipun tidak begitu sering menyentuh literatur ilmiah yang kaku di waktu senggangnya, Gusti Maharani merupakan seorang pencinta buku-buku populer yang sarat akan makna kehidupan.
Ia kerap menghabiskan waktu luangnya untuk menyelami buku santai yang membantunya mendapatkan sudut pandang baru dalam mengelola emosi.
Beberapa judul buku favorit yang menghiasi ruang bacanya antara lain Semangkuk Mie Ayam, Sebelum Mati, Sepatu Dahlan, dan I’m the Hero of My Life.
Menariknya, kegemaran membaca ini juga ia bagikan bersama sahabatnya yang memiliki hobi serupa.
Berbeda dengan Gusti, sang sahabat lebih menyukai buku bergenre biografi karena nilai praktisnya, di mana perjalanan hidup nyata seseorang bisa dipetik hikmahnya untuk diimplementasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman menjalani masa pra-karantina hingga turun langsung mengeksekusi krida di lapangan membuktikan komitmen Gusti Maharani untuk terus mengabdi. Baginya, setelah malam puncak penganugerahan selesai, semua finalis memiliki derajat dan tanggung jawab yang sama.
Gusti Maharani siap berjalan beriringan bersama Balai Bahasa dan Ikadubas Provinsi Lampung untuk membumikan literasi, melestarikan bahasa daerah, serta menginternasionalkan bahasa Indonesia melalui aksi-aksi krida kreatif ke depan. []

Tinggalkan Komentar Anda