Opini

Model Pembelajaran Kontekstual: Catatan Harian Mahasiswa sebagai Media Autentik

Model Pembelajaran Kontekstual: Catatan Harian Mahasiswa sebagai Media Autentik

Setia Rini

Oleh Setia Rini, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila

Di tengah derasnya arus digital, keterampilan menulis bahasa asing—khususnya bahasa Prancis—seringkali memiliki tantangan yang luar biasa. Mahasiswa lebih terbiasa menyalin teks dari aplikasi AI tanpa benar-benar memahami makna, struktur, dan konteks budaya di baliknya.

Akibatnya, tulisan mereka cenderung dangkal, kering, dan jauh dari ekspresi idiomatis yang menjadi ruh bahasa. Menulis tidak lagi menjadi aktivitas yang sejatinya merupakan bentuk ekspresi diri, namun hanya sekedar aktivitas menyalin.

Padahal, menulis adalah keterampilan yang tumbuh dari kebiasaan. Ia tidak bisa instan, apalagi sekadar hasil copy-paste. Menulis membutuhkan proses refleksi, keberanian menuangkan pikiran, dan konsistensi latihan.

Di sinilah gagasan penggunaan catatan harian mahasiswa sebagai media autentik menemukan relevansinya. Model pembelajaran kontekstual dengan menghadirkan kembali catatan harian di kelas diimplementasikan di kelas-kelas menulis bahasa Prancis.

Catatan harian bukan sekadar kumpulan kalimat sederhana. Ia adalah cermin kehidupan sehari-hari mahasiswa: pengalaman, emosi, interaksi sosial, bahkan kegelisahan maupun kebahagiaan dan kebanggaan. Kenapa catatan harian penting? Membiasakan menulis setiap hari. Menghubungkan bahasa dengan kehidupan nyata.

Melatih ekspresi idiomatis, bukan sekadar teori. Menjadi media autentik yang lebih bermakna daripada tugas formal. Ketika dijadikan bahan pembelajaran kontekstual, catatan harian mampu menghidupkan kelas bahasa Prancis. Mahasiswa tidak lagi menulis untuk memenuhi tugas, melainkan menulis untuk bercerita, berkomunikasi, dan mengekspresikan diri.

Bayangkan kelas bahasa Prancis diisi dengan cerita mahasiswa: dari pengalaman memesan kopi, menonton film, hingga perjalanan kecil ke pasar. Semua itu bisa menjadi bahan belajar yang hidup, bukan sekadar latihan tata bahasa.

Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar menulis, tapi juga belajar berkomunikasi. Karena bahasa bukan sekadar kumpulan kata, melainkan cara kita memahami dunia dan meninggalkan jejak di dalamnya.

Lebih jauh, pendekatan ini mengembalikan human touch dalam pembelajaran. Di era AI, manusia tetap membutuhkan ruang untuk berpikir kritis dan kreatif. Catatan harian menjadi jembatan agar mahasiswa terbiasa menulis secara berkelanjutan, sehingga keterampilan mereka berkembang alami dan konsisten.

Penelitian tersebut saat ini sedang dalam tahapan diteliti dan dikembangkan dengan menargetkan lahirnya model pembelajaran kontekstual berbasis catatan harian. Model ini dirancang, diuji, dan dievaluasi dengan pendekatan Research and Development (R&D).

Harapannya, ia tidak hanya valid secara akademis, tetapi juga praktis dan efektif di kelas. Luaran yang dituju mencakup modul pembelajaran, publikasi ilmiah, hingga rekomendasi kebijakan untuk pengajaran bahasa asing di perguruan tinggi.

Apabila berhasil, model ini akan menjadi jawaban atas dua tantangan besar: rendahnya keterampilan menulis mahasiswa dan penggunaan AI yang kurang bijak. Dengan catatan harian, mahasiswa diajak kembali ke akar: menulis dengan hati, menulis dengan konteks, menulis dengan budaya.

Karena pada akhirnya, bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Ia adalah cara kita memahami dunia, dan menulis adalah cara kita meninggalkan jejak di dalamnya. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda