Riza Harani Bangun (kanan) bersama Kaprodi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila Setia Rini. | Dokumentasi
Oleh Riza Harani Bangun, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung
Empat bulan bukan waktu yang sebentar untuk berubah. Itulah yang menjadi inti perjalanan Riza Harani Bangun, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung, selama mengikuti Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Balai Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Latsar ini bukan sekadar pelatihan administratif. Ia adalah proses pembentukan cara berpikir dari orientasi individual menuju orientasi pelayan publik yang sesungguhnya.
Tujuh Nilai yang Tidak Boleh Hanya Hafalan
Setiap peserta Latsar CPNS wajib menginternalisasi nilai-nilai dasar ASN yang dirangkum dalam akronim BerAKHLAK: Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Kedengarannya sederhana seperti di atas kertas, tetapi perjalanan empat bulan ini membuktikan bahwa menerapkannya secara nyata jauh lebih menantang daripada sekadar menghafalkannya.
Setiap kegiatan habituasi dirancang agar peserta membuktikan nilai-nilai tersebut melalui tindakan konkret, bukan hanya menuliskannya dalam laporan. Nilai Akuntabel, misalnya, harus diwujudkan dalam setiap keputusan pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan kepada mentor, coach, maupun institusi.
Ketika Inovasi Kelas Jadi Bukti Aktualisasi
Dalam masa habituasi, setiap peserta Latsar diwajibkan melaksanakan aktualisasi proyek nyata di tempat kerja yang mencerminkan nilai-nilai BerAKHLAK. Madame Riza mengangkat isu yang ia hadapi di ruang kuliahnya sendiri: belum optimalnya kemampuan pelafalan mahasiswa semester pertama pada mata kuliah Son et Intonation (Bunyi dan Intonasi).
Mata kuliah ini baru diintegrasikan ke dalam kurikulum 2025, dan hampir seluruh mahasiswanya merupakan pemula yang belum pernah belajar bahasa Prancis sebelumnya. Sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan melafalkan bunyi-bunyi khas bahasa Prancis seperti vokal nasal dan kaidah liaison.
Solusi yang dirancang adalah penerapan metode shadowing berbasis media audio-visual digital, sebuah teknik yang mengajak mahasiswa menirukan langsung ujaran penutur asli secara berulang dan bertahap.
Latihan dimulai dari muted shadowing, berlanjut ke whisper shadowing, hingga full shadowing menggunakan video penutur asli. Seluruh media dirancang agar dapat diakses mahasiswa secara mandiri di luar jam perkuliahan.
Di sinilah nilai Adaptif, Kompeten, dan Berorientasi Pelayanan dari BerAKHLAK terwujud secara konkret dalam praktik pengajaran sehari-hari. Hasilnya terlihat jelas bahwa kemampuan mahasiswa meningkat secara signifikan.
Kolaborasi yang Menguatkan
Proses ini tidak dilalui sendirian. Pendampingan dari coach Afnan Fuadi, S.H., M.Pd. dan mentor Setia Rini, S.Pd., M.Pd. menjadi penopang selama masa habituasi berlangsung. Arahan yang konsisten dari keduanya memastikan setiap tahapan aktualisasi berjalan sesuai prinsip BerAKHLAK tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses dan dampak nyata bagi mahasiswa sebagai penerima layanan.
Nilai Kolaboratif juga mengalir dari dinamika antarpeserta Latsar, yang secara aktif saling berbagi refleksi dan pengalaman selama masa habituasi.
ASN Bukan Sekadar Jabatan
Perjalanan empat bulan ini meninggalkan satu pemahaman yang paling mendasar: menjadi ASN adalah soal tanggung jawab, bukan sekadar status kepegawaian. Mahasiswa adalah penerima layanan dan melayani mereka dengan baik berarti terus tumbuh, terus berinovasi, dan terus hadir sepenuhnya sebagai pendidik.
Ke depan, metode shadowing akan terus diterapkan dan dikembangkan di semester-semester berikutnya.
Bagi Madame Riza, Latsar CPNS bukan garis akhir. Ia adalah garis awal. []

Tinggalkan Komentar Anda