Mathias ketika mengisi kuliah umum di Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila
“Indonesia adalah rumah kedua saya setelah Prancis,” ucap Mathias ketika mengisi kuliah umum di Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis pada 6 Mei 2026 di Aula C FKIP Unila. Kuliah umum bertema “Belajar Bahasa Prancis dan Membangun Pengaruh di Era Digital” berhasil menggugah motivasi mahasiswa untuk semakin tekun belajar dan menguasai bahasa Prancis sebagai bekal karier masa depan.
Pengalaman Mathias mengikuti program double degree di UGM bukan sekadar aktivitas kampus, melainkan membuka banyak pengalaman baru yang membuatnya semakin mencintai Indonesia dari berbagai sisi.
Sebagai penutur asli Prancis, Mathias yang dikenal melalui akun media sosialnya @cowokperancis ternyata memiliki jiwa nasionalis yang kuat. Kecintaannya pada Indonesia, khususnya sepak bola, membawanya semakin tenggelam dalam budaya Nusantara yang kaya dan otentik.
Siapa yang tidak mengenal Mathias? Di mana pun timnas Indonesia bertanding, hampir selalu ada dirinya.
Bahkan, kehadirannya di kuliah umum PS PBP kemarin juga bertepatan dengan pertandingan Bhayangkara Presisi FC Lampung melawan Persib Bandung.
Kepeduliannya terhadap pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Prancis, membuat Mathias memilih tinggal lebih lama di Bandar Lampung dan menunda kepulangannya ke Jakarta. Sebuah keberuntungan sekaligus privilege luar biasa bagi dosen dan mahasiswa PS PBP maupun Unila.
Mathias sangat peduli pada pendidikan. Tidak heran jika banyak konten yang ia bagikan berisi pembelajaran bahasa Prancis: pengucapan, kosakata baru, hingga cara belajar melalui hobi dan kesukaan.
Ia telah mengunjungi banyak sekolah, bertemu dengan banyak orang, dan membuat anak-anak bahagia karena bisa berkomunikasi dalam bahasa Prancis dengannya. Semua interaksi itu justru membuat Mathias semakin mahir berbahasa Indonesia dan semakin mencintai budaya Indonesia.
Bagi Mathias, belajar bahasa asing bukan sekadar formalitas, melainkan proses mengenal sekaligus memperkenalkan budaya. Baginya, keberagaman budaya Indonesia dan Prancis adalah kekayaan yang diakui dunia. Keberagaman itu dapat disampaikan kepada lebih banyak orang melalui bahasa.
Tidak heran jika Mathias kini menjadi seorang polyglot yang menguasai bahasa Prancis, Indonesia, Inggris, Spanyol, Portugis, dan Italia.
Belajar bahasa asing, menurut Mathias, tidak hanya terbatas pada kelas, tata bahasa, kosakata, atau pola kalimat. Lebih dari itu, belajar bahasa adalah bagaimana kita berinteraksi nyata dengan penuturnya. Bahasa harus kontekstual, digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar di ruang kelas.
Pengalaman Mathias menguasai bahasa Indonesia berawal dari hobi dan kesukaannya. Sepak bola timnas Indonesia menjadi sumber motivasi utamanya. Kecintaannya pada misi budaya juga mendorongnya terus mengasah bahasa Indonesia agar dapat berdiskusi, bertukar pikiran, atau sekadar menyapa dengan ramah.
Apa yang kita sukai akan menjadi alasan mendasar untuk berusaha dengan optimal. Jika sudah suka, upaya luar biasa akan dilakukan. Mathias selalu hadir di mana pun timnas bertanding. Sama halnya dengan bahasa Indonesia, ia terus belajar karena cinta pada Indonesia. Sekali lagi, Indonesia adalah rumah keduanya setelah Prancis.
Hal ini seharusnya menjadi inspirasi bagi mahasiswa PS PBP. Kesukaan mereka pada budaya Prancis, makanan, mode, film, digitalisasi, penerbangan, pariwisata, dan lain-lain bisa menjadi kunci untuk belajar bahasa Prancis hingga mahir.
Kecintaan pada sesuatu—yang kita sebut hobi atau passion—adalah jalan terbaik untuk belajar bahasa. Kita bisa kreatif dan terbuka: belajar melalui majalah mode Prancis, video Paris Fashion Week, atau mencoba resep makanan dan minuman Prancis di dapur sendiri.
Selain hobi dan kesukaan, menurut Mathias, melawan rasa takut adalah kunci sukses menjadi polyglot. Ia bisa selancar itu berbahasa Indonesia karena tidak merasa insecure saat berbicara.
Kesalahan itu wajar, karena kita bukan penutur asli. Lalu apa gunanya jika kita selalu takut salah ketika mencoba berbahasa Prancis? Tidak ada!
Mulai hari ini, kita sepatutnya berani berkomunikasi dalam bahasa Prancis, terutama saat bertemu penutur asli. Rasa takut tidak akan membawa kita pada kesuksesan, justru sebaliknya. Sebaliknya, kecintaan pada hobi dan kesukaan bisa menjadi jalan untuk menjelajahi Prancis dan negara-negara frankofon lainnya. []

Tinggalkan Komentar Anda