Opini

Semangat Kartini di Era Kini: Menguatkan Perempuan, Membangun Keluarga, Memajukan Bangsa

Semangat Kartini di Era Kini: Menguatkan Perempuan, Membangun Keluarga, Memajukan Bangsa

Nurani

Oleh Nurani (Ketua Biro Kajian Strategis Bidang Perempuan dan Keluarga/Bipeka DPD PKS Lampung Selatan)

Kekuatan perempuan sejatinya tidak hanya terletak pada hal-hal yang tampak di permukaan, seperti jabatan, pengaruh, atau capaian yang diakui secara sosial. Lebih dari itu, kekuatan tersebut berakar pada fitrahnya dan integritasnya dalam mengemban setiap amanah kehidupan.

Fitrah perempuan yang dianugerahi kelembutan, empati, ketelatenan, dan ketangguhan batin menjadikannya sosok yang memiliki daya tahan luar biasa dalam menghadapi berbagai situasi. Ia tidak hanya mampu menjalankan peran domestik sebagai pengasuh dan pendidik dalam keluarga, tetapi juga mampu hadir sebagai penggerak perubahan dalam masyarakat. Dalam fitrah itu, tersimpan kekuatan yang tidak selalu tampak mencolok, tetapi memiliki dampak yang dalam dan berkelanjutan.

Fitrah perempuan sesungguhnya adalah fondasi yang membentuk karakter. Dari fitrah tersebut lahir kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih utuh. Perempuan memiliki kecenderungan untuk merawat, menjaga, dan membangun, bukan sekadar menguasai.

Oleh karena itu, ketika perempuan diberikan amanah, ia cenderung menjalankannya dengan penuh rasa tanggung jawab dan kehati-hatian. Namun demikian, fitrah ini tidak akan memberikan makna yang optimal tanpa adanya integritas yang kokoh.

Integritas adalah kunci yang menjaga agar fitrah tersebut tetap berada pada jalur yang benar. Integritas bukan sekadar kejujuran dalam perkataan, tetapi juga konsistensi antara nilai yang diyakini dengan tindakan yang dilakukan. Perempuan yang berintegritas akan mampu menjaga amanah, meskipun tidak ada yang mengawasi.

Ia akan tetap berpegang pada prinsip, meskipun dihadapkan pada tekanan atau godaan yang besar. Dalam dunia yang penuh dengan dinamika dan kepentingan, integritas menjadi penentu apakah seseorang mampu bertahan dalam kebenaran atau justru tergelincir dalam kompromi yang merugikan.

Ketika fitrah dan integritas berpadu, lahirlah kekuatan perempuan yang sesungguhnya. Kekuatan ini bukan hanya membentuk pribadi yang tangguh, tetapi juga menciptakan pengaruh yang luas dalam lingkungan sekitar.

Perempuan dengan fitrah yang terjaga dan integritas yang kuat akan mampu menjadi teladan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam lingkup yang lebih luas seperti bangsa dan negara. Ia tidak hanya berbicara tentang nilai, tetapi juga menghadirkannya dalam tindakan nyata.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, peran perempuan semakin mendapatkan pengakuan yang signifikan. Salah satu ruang yang kini semakin terbuka adalah dunia politik. Politik sering kali dipandang sebagai arena yang keras, penuh persaingan, dan sarat dengan kepentingan.

Namun, justru dalam kondisi seperti itulah kehadiran perempuan menjadi sangat penting. Perempuan membawa perspektif yang berbeda—lebih humanis, lebih empatik, dan lebih berorientasi pada keberlanjutan. Nilai-nilai yang melekat dalam fitrah perempuan dapat menjadi penyeimbang dalam dinamika politik yang sering kali cenderung pragmatis.

Meski demikian, memasuki dunia politik bukanlah pilihan yang ringan. Dibutuhkan kesiapan mental, kapasitas intelektual, serta keteguhan prinsip yang kuat.

Dalam hal ini, Titi Anggraini, Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), menegaskan bahwa perempuan yang memilih untuk terjun ke dunia politik tidak boleh melakukannya secara setengah-setengah. Pernyataan ini bukan sekadar ajakan, melainkan sebuah penegasan bahwa politik adalah ruang pengabdian yang menuntut totalitas. Setengah hati dalam berpolitik hanya akan menghasilkan kehadiran yang simbolis, tanpa dampak yang berarti.

Totalitas dalam berpolitik berarti kesiapan untuk terlibat secara penuh, baik dalam proses pengambilan keputusan, pengawasan kebijakan, maupun dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Perempuan tidak cukup hanya hadir sebagai representasi angka atau memenuhi kuota semata.

Ia harus memiliki kompetensi yang memadai, keberanian untuk bersuara, serta keteguhan untuk mempertahankan nilai yang diyakini. Tanpa totalitas, perempuan berisiko terjebak dalam peran pasif yang justru mengaburkan potensi besar yang dimilikinya.

Selain itu, totalitas juga berkaitan dengan kesediaan untuk terus belajar dan berkembang. Dunia politik sangat dinamis dan kompleks, sehingga membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap berbagai persoalan, mulai dari hukum, ekonomi, hingga sosial budaya.

Perempuan yang ingin berperan secara optimal harus membuka diri terhadap proses pembelajaran yang berkelanjutan. Dengan demikian, ia tidak hanya mampu memahami masalah, tetapi juga menawarkan solusi yang relevan dan berdampak.

Namun, totalitas tanpa integritas justru dapat menjadi bumerang. Oleh karena itu, integritas tetap harus menjadi landasan utama dalam setiap langkah. Dalam praktiknya, perempuan yang berpolitik sering kali dihadapkan pada berbagai tekanan, baik dari internal maupun eksternal.

Tekanan tersebut dapat berupa kepentingan kelompok, godaan kekuasaan, maupun tuntutan untuk berkompromi dengan nilai. Di sinilah integritas diuji. Perempuan yang mampu menjaga integritasnya akan tetap teguh pada prinsip, meskipun harus menghadapi konsekuensi yang tidak mudah.

Lebih jauh lagi, perempuan yang terjun ke dunia politik juga membawa tanggung jawab moral yang besar. Ia tidak hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi banyak perempuan lain.

Setiap tindakan dan keputusan yang diambil akan menjadi cerminan dari bagaimana perempuan dipandang dalam ruang publik. Oleh karena itu, penting bagi perempuan untuk menjaga kualitas diri, baik dari segi kompetensi maupun karakter.

Kekuatan perempuan yang berpijak pada fitrah dan integritas pada akhirnya akan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan negara. Perempuan yang mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab akan menghadirkan kebijakan yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. Ia tidak hanya menjadi bagian dari sistem, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu memperbaiki dan menyempurnakan sistem tersebut.

Dalam perspektif yang lebih luas, kekuatan perempuan juga berperan dalam membangun peradaban yang lebih beradab. Perempuan yang berintegritas akan menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.

Ia tidak hanya membangun masa kini, tetapi juga mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, kontribusi perempuan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang yang signifikan.

Pada akhirnya, kekuatan perempuan tidak perlu selalu ditunjukkan melalui hal-hal yang besar dan spektakuler. Kekuatan itu justru hadir dalam keteguhan menjalankan amanah, dalam konsistensi menjaga nilai, serta dalam keberanian untuk terlibat secara penuh dalam setiap peran yang dijalani.

Ketika perempuan mampu memadukan fitrah dan integritas dalam kehidupannya, ia akan menjadi sosok yang tidak hanya kuat secara pribadi, tetapi juga mampu memberikan pengaruh yang luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan totalitas dan komitmen yang utuh, perempuan akan membuktikan bahwa kehadirannya adalah kekuatan yang tak tergantikan dalam membangun dunia yang lebih adil, bermartabat, dan berkelanjutan. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda