Opini

Indonesia di Tengah Tatanan Dunia Baru: Saatnya Tegas, Cerdas, dan Berdaulat

Indonesia di Tengah Tatanan Dunia Baru: Saatnya Tegas, Cerdas, dan Berdaulat

Abdul Hakim

Oleh Abdul Hakim (Senator RI)

Dunia sedang berubah—cepat, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Eskalasi konflik di Timur Tengah, rivalitas kekuatan besar, serta krisis energi global menunjukkan bahwa kita telah memasuki fase baru: tatanan dunia multipolar yang tidak lagi stabil.

Dalam situasi ini, Indonesia tidak bisa hanya menjadi penonton. Kita harus menjadi pelaku—bahkan penyeimbang.

Pertama, kita harus jujur melihat kelemahan sendiri. Ketergantungan pada impor energi membuat kita rentan. Setiap gejolak global langsung terasa di dalam negeri: harga BBM naik, inflasi meningkat, dan daya beli rakyat tertekan. Di sinilah pentingnya menjadikan kedaulatan energi sebagai agenda prioritas nasional, bukan sekadar wacana.

Kedua, ketahanan pangan harus diperkuat secara serius. Dalam sejarah, krisis global hampir selalu berujung pada krisis pangan. Indonesia tidak boleh menggantungkan kebutuhan pokok pada sistem global yang sedang rapuh. Petani harus menjadi pilar, bukan korban kebijakan.

Ketiga, pemerintah perlu memastikan bahwa stabilitas ekonomi rakyat tetap terjaga. Geopolitik global tidak boleh menjadi alasan bagi meningkatnya kesulitan hidup masyarakat. Kebijakan subsidi, pengendalian harga, dan perlindungan UMKM harus tepat sasaran dan berkeadilan.

Keempat, diplomasi Indonesia harus naik kelas. Politik luar negeri bebas aktif tidak cukup hanya menjadi slogan. Indonesia harus hadir sebagai kekuatan moral dan strategis—menjembatani konflik, memperjuangkan keadilan global, dan menjaga keseimbangan dunia. Netral dalam blok, tetapi tegas dalam nilai.

Kelima, kita harus memperkuat fondasi pertahanan dan keamanan nasional. Dunia yang tidak stabil menuntut kesiapan yang lebih tinggi. Kedaulatan wilayah dan keamanan maritim tidak bisa ditawar.

Perubahan global ini memang penuh risiko, tetapi juga membuka peluang. Indonesia memiliki semua syarat untuk menjadi kekuatan penyeimbang: populasi besar, posisi strategis, dan legitimasi moral di dunia internasional.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk mengambil arah.

Indonesia harus kuat di dalam, berdaulat di luar, dan berpihak pada keadilan global. Inilah saatnya kita tidak sekadar mengikuti arus sejarah, tetapi ikut menentukan arahnya. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda