Pemutaran film Komunitas Rutu. | Dokumentasi
Wartalampung.id, Metro – Sebuah agenda pemutaran dan diskusi film yang mengangkat isu ketidakadilan gender dan kekerasan berbasis budaya digelar pada Sabtu, 7 Februari 2026, bertempat di Bien, Tawes, Kota Metro.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi kritis sekaligus dialog terbuka mengenai posisi dan pengalaman perempuan dalam struktur sosial yang timpang.
Mengusung tajuk “Women from Rote Island: Ironi Kelam Budaya Patriarkis”, agenda ini diinisiasi oleh Komunitas Rutu, sebuah komunitas dan juga kelompok belajar baru yang dikoordinatori oleh Atilla Hamurabbi, pelajar SMA di Kota Metro.
Di saat Kota Metro sunyi dalam wacana dan dialog kritis, kegiatan ini justru menjadi simbol akan lahirnya keberanian dan kesadaran kritis dari inisiatif generasi muda yang acapkali terproblematisasi.
Kegiatan pemutaran film ini terlaksana melalui kolaborasi antara Komunitas Rutu, Sukar, dan House of Bien, sebagai bentuk kerja kolektif lintas komunitas dalam memperluas ruang dialogis dan diskursus di tingkat lokal.
Acara pemutaran film dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai dan dihadiri oleh 30 peserta dari latar belakang yang berbeda––mahasiswa, pelajar, guru, masyarakat lokal, hingga aktivis.
Film Women from Rote Island sendiri merupakan karya sinema yang menyoroti realitas pahit kehidupan perempuan di wilayah timur Indonesia, khususnya dalam belenggu adat dan budaya patriarkis.
Selain itu, film ini memotret kekerasan seksual, subordinasi perempuan, dan pembungkaman suara perempuan yang menjadi medium refleksi penonton.
Film ini memotret kondisi struktur sosial yang memungkinkan ketidakadilan itu terus berlangsung. Dengan pendekatan yang intim dan emosional, film ini mengajak penonton untuk melihat bagaimana tubuh dan pengalaman perempuan kerap dijadikan objek tradisi dan moralitas yang timpang.
Film Women from Rote Island mendapat pengakuan luas di tingkat nasional dan internasional berkat keberaniannya mengangkat isu kekerasan berbasis gender dan budaya patriarkis melalui pendekatan visual yang empatik dan reflektif.
Di tingkat nasional, film ini mencatat prestasi penting dengan meraih empat penghargaan pada Festival Film Indonesia (FFI) 2023, menegaskan posisinya sebagai salah satu film Indonesia paling berpengaruh pada tahun tersebut.
Sebagai penajaman perspektif, kegiatan ini menghadirkan Wahyu Puji Astuti, Direktur WES Payungi, sebagai pemantik diskusi.
Kehadirannya memberikan konteks yang lebih luas mengenai isu kekerasan berbasis gender, advokasi perempuan, serta pentingnya keberpihakan terhadap korban dalam perjalanan perjuangan menuju kesetaraan yang masih panjang.
Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung hidup dan reflektif. Film ini tidak hanya ditonton, tetapi pada kesempatannya juga didiskusikan dan dikaitkan dengan realitas sosial yang masih dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan lokal.
Agenda pemutaran Women from Rote Island menjadi penanda penting bahwa sinema dapat berfungsi sebagai medium pendidikan kritis dan penyadaran kepekaan sosial.
Lebih dari sekadar tontonan, adanya kegiatan nonton dan bedah film ini menambal kekosongan ruang-ruang dialog di Kota Metro sekaligus lahirnya nafas baru terhadap perjuangan untuk menempuh penyadaran dalam menghadapi ketidakadilan struktural yang masih mengakar hingga hari ini. []

Tinggalkan Komentar Anda