Amalia Sabila Mukhtar
Wartalampung.id, Krui – Sebagian orang menulis harapan lalu melupakannya. Sebagian lagi menyimpannya rapi sebagai kenangan.
Namun, bagi Amalia Sabilla Mukhtar, menulis harapan adalah bagian dari hidup itu sendiri. Ia percaya bahwa apa yang ditulis tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk menemukan jalannya.
Prestasi, bagi Amalia, tidak selalu lahir dari sorak sorai. Dalam perjalanan hidupnya, sebagian prestasi justru tumbuh pelan, di ruang-ruang sunyi yang jarang dilihat orang.
Dari kebiasaan kecil yang dijaga, dari keyakinan yang ditulis berulang, lalu diperjuangkan tanpa banyak suara. Di sanalah perjalanan Amalia bermula.
Amalia Sabilla Mukhtar, yang akrab dipanggil Amel, lahir di Krui pada 9 Juni 2002. Sejak masa kanak-kanak, ia terbiasa menata hidupnya lewat tulisan sederhana yang ia sebut daftar keinginan (wishlist).
Bukan karena diajari, melainkan karena ia merasa perlu menuliskan apa yang ada di kepalanya. Baginya, menulis keinginan bukan soal meminta, tetapi soal percaya. percaya bahwa apa pun bisa terjadi, kapan pun, selama dijalani dengan usaha.
Di rumahnya, sejak dulu buku menjadi saksi kebiasaan itu. Buku tulis, buku cetak, hingga lembar ulangan disimpan rapi.
Setiap halaman menyimpan jejak proses, seolah menjadi pengingat bahwa sesuatu tidak pernah datang secara tiba-tiba. Orang tuanya tidak sekadar menuntut nilai, tetapi memastikan Amel memahami cara berpikir di balik setiap jawaban. Dari situlah, perlahan keyakinannya pada proses semakin menguat.
Belajar Menunggu Sejak SD
Pada masa sekolah dasar, Amel menempuh pendidikan di MIN Sukaraja. Selama empat tahun berturut-turut, dari kelas satu hingga kelas empat, namanya hampir selalu berhenti di peringkat empat.
Tidak jatuh, tetapi juga belum sampai. Di saat anak-anak lain menerima keadaan, Amel justru menuliskan satu kalimat di wishlistnya: suatu hari ia ingin menjadi juara satu.
Ia tidak mengejar keinginan itu dengan tergesa-gesa. Hari demi hari dijalani dengan ritme yang sama. Belajar seperti biasa, mengerjakan tugas lebih awal, mengulang materi, dan menjaga konsistensi. Saat buku cetak tidak boleh dibawa pulang, ia memfotokopi materi agar tetap bisa dipelajari di rumah.
“Bu, bukunya nggak boleh dibawa pulang,” ucapnya pelan.
Ibunya berhenti sejenak, lalu berkata sederhana,
“Ya sudah, pinjam buku guru, atau cari di perpustakaan. Difotokopi saja. Yang penting kamu bisa belajar.”
Kalimat itu terdengar biasa, namun bagi Amel, itu seperti izin untuk terus berusaha. Sejak saat itu, fotokopi bukan lagi soal keterbatasan, melainkan jalan agar proses tetap berjalan.
Ketika masa ulangan tiba, ibunya membantu dengan menyalin materi penting, memberi tanda stabilo, lalu membimbingnya memahami inti pelajaran.
Hingga suatu hari, di kelas lima, wishlist kecil itu menemukan jawabannya. Untuk pertama kalinya, nama Amalia tercetak sebagai peringkat satu.
Bukan kegembiraan sesaat yang paling ia ingat, melainkan keyakinan baru bahwa apa yang ditulis dengan sungguh-sungguh dapat datang, entah cepat atau lambat.
Harapan yang Bertumbuh
”Keberanian di Atas Panggung Memasuki jenjang SMP”. Wishlist Amel tidak lagi hanya soal angka. Seiring bertambahnya usia, ia menuliskan keinginan lain: berani berbicara di depan banyak orang.
Lomba pidato menjadi jalannya. Gugup dan gemetar kerap datang, namun setiap kesempatan selalu ia ambil. Sejak SD hingga SMP, ia konsisten mengikuti lomba pidato hingga akhirnya mencatat puluhan kemenangan di berbagai tingkat.
Dalam proses itu, Amel belajar bahwa keberanian juga bisa ditumbuhkan, asal diberi ruang.
Wishlist tidak selalu harus besar. Kadang cukup satu kalimat sederhana yang diulang dalam hati, lalu dijalani perlahan.
Beberapa tahun kemudian, di bangku SMA, wishlist itu kembali terjawab. Prestasi akademiknya stabil hingga ia menyandang juara umum jurusan IPS.
Ia juga berkembang di bidang debat dan teater. Pada fase ini, juara tidak lagi menjadi tujuan utama, melainkan konsekuensi dari kebiasaan panjang yang telah ia rawat sejak kecil.
Atur Waktu dan Arah
Selepas SMA, Amel melanjutkan pendidikan di Universitas Lampung, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dengan beasiswa Bidikmisi, wishlist-nya kembali berubah. Kali ini, ia menuliskan keinginan yang lebih realistis dan dewasa: lulus lebih cepat. Bukan demi kebanggaan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab.
Seiring berjalannya waktu, ia mengambil KKN lebih awal dan pada semester enam telah melaksanakan seminar proposal. Proses bimbingan dijalani dengan sabar, penuh perbaikan, lalu datang kembali.
Amel mengejar waktu agar lulus lebih cepat walau ia harus memutuskan beasiswanya. Setelah tiga tahun tiga bulan, Amel lulus sebagai lulusan terbaik Jurusan Sastra Bahasa Indonesia. Wishlist-nya kembali tercentang.
Baginya, tidak semua wishlist harus dirayakan besar-besaran. Cukup diketahui diri sendiri bahwa satu demi satu, tulisan itu menemukan jalannya.
Arti Menjadi Guru
Setelah lulus Amel memutuskan mengikuti PPG ( Pendidikan Profesi Guru ) kembali dibantu dengan beasiswa. Amel meminta orang tuanya membayar sewa kos untuk 1 tahun ke depan karena ia yakin akan lulus PPG.
“Yakin lulus?” tanya ibunya ragu.
Amel tersenyum kecil.
“Pasti, Bu. Bayarin dulu. Nanti pasti kepakai.”
Orangtuanya saling berpandangan.
“Kalau enggak lulus gimana?”.
“Lulus,” jawab Amel singkat, tanpa nada menantang, seolah itu bukan tebakan, melainkan kesimpulan dari proses panjang yang sudah ia jalani.
Keputusan itu diambil karena bagi Amel, keyakinan lahir dari usaha yang tidak setengah-setengah.
Langkah berikutnya juga berangkat dari wishlist lama yang terus ia simpan: menjadi guru. Amel mengikuti Pendidikan Profesi Guru prajabatan melalui proses seleksi yang panjang.
Pengalaman mengajar pertamanya dimulai saat PPL di Way Kanan. Di ruang kelas itu, ia merasa wishlist-nya tidak hanya tercapai, tetapi juga menemukan makna.
Mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang untuk menumbuhkan harapan orang lain—seperti ia pernah menumbuhkan harapannya sendiri.
Kini, selain mengajar di sekolah, Amel juga aktif mengajar bimbingan belajar dari pagi hingga sore. Di sela kesibukan, ia tetap menuliskan wishlist kecil lainnya: menjaga tubuh dengan olahraga ringan, menikmati masakan rumahan dengan sambal, menyukai warna biru, dan tetap mencintai Doraemon—tokoh yang sejak kecil mengajarkannya tentang mimpi.
Bagi Amel, hidup bukan tentang menunggu keajaiban. Hidup adalah tentang menulis harapan, percaya bahwa ia bisa datang kapan pun, lalu setia merawat usaha di antaranya.
Prestasi tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu lahir dari proses panjang dan pilihan untuk tidak mengambil jalan pintas.
Wishlist-nya hari ini ditulis dengan tinta yang lebih dewasa: memiliki rumah, menjadi pegawai negeri, menikah, menunaikan ibadah ke Mekah, dan suatu hari berkunjung ke Jepang untuk melihat Doraemon secara langsung.
Bagi Amalia Sabilla Mukhtar, wishlist bukan sekadar tulisan. Ia adalah pengingat bahwa harapan selalu memiliki waktunya sendiri untuk menjadi nyata.
“Kamu tidak mungkin dilahirkan oleh ibumu kalau tidak punya arti. Jadi carilah arti itu, dan jalani dengan usaha.” [Fiona Florencia S/Izzati Fatonah/Nayla Sakina/Safira Aulia/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Tinggalkan Komentar Anda