Nusantara

Destiani Soroti Tantangan Pengajar BIPA Internasional: Perbedaan Budaya hingga Kebutuhan Praktik Autentik

Destiani Soroti Tantangan Pengajar BIPA Internasional: Perbedaan Budaya hingga Kebutuhan Praktik Autentik

Webinar. | Tangkapan layar Delima Kurnia

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Destiani, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unila, menyampaikan tantangan yang dihadapi pengajar bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) di ranah internasional dalam Webinar BIPA berjudul “Peluang dan Tantangan Pengajar BIPA dalam Penginternasionalan Bahasa Indonesia” yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Lampung, Selasa, 25/11/2025.

Destiani menjabarkan bahwa mengajar BIPA bukan hanya tentang kemampuan linguistik, melainkan juga pemahaman budaya dan strategi pembelajaran yang tepat.

Destiani menjelaskan karakteristik yang harus dimiliki pengajar BIPA ialah sistematis, relevan, fleksibel, dan komprehensif dalam menyusun pembelajaran.

Pengajar dituntut mampu menyesuaikan materi dengan kebutuhan pemelajar, mengaitkan bahasa dengan konteks budaya dan isu aktual, serta memberi ruang praktik autentik.

Menurut dia, pengajar harus adaptif dan peka terhadap kondisi peserta agar pembelajaran BIPA benar-benar efektif dan bermakna.

Dalam pemaparannya, Destiani menyebutkan lima tantangan utama dalam dunia pengajaran BIPA, yaitu aspek linguistik, interkultural, kebutuhan praktik autentik, penggunaan metode pembelajaran yang tepat, serta kekuatan koordinasi dalam kerja sama tim.

Ia juga menjelaskan, perbedaan fonologi dan struktur bahasa sering menjadi kendala yang signifikan bagi pemelajar asing.

Seperti pada pemelajar dari Spanyol yang kesulitan dalam melafalkan bunyi /c/ karena perbedaan fonologi di negaranya yang melafalkan huruf tersebut sebagai /k/.

“Biasanya ini terjadi karena pemelajar masih menerapkan aturan fonologi mereka,” ucap Destiani.

Selain tantangan linguistik, Destiani menegaskan pentingnya pemahaman budaya untuk menghindari konflik persepsi dan gegar budaya (culture shock).

Ia mencontohkan pengalaman mahasiswa asal Tanzania yang merasa bingung dengan kebiasaan masyarakat Indonesia bertanya “Kamu mau ke mana?” atau “Sudah makan?”, yang di negara asalnya dianggap menyentuh ranah privasi.

“Perbedaan budaya bisa menimbulkan kebingungan dan kecemasan, sehingga pengajar harus mampu membantu pemelajar menyesuaikan diri dengan upaya pemberian latar budaya, praktik autentik, dan dukungan emosional,” jelasnya.

Destiani menambahkan bahwa praktik autentik menjadi bagian penting untuk membantu pemelajar memahami bahasa dalam konteks nyata.

Kegiatan seperti role-play di pasar, makan lesehan, atau observasi budaya langsung dinilai mampu meningkatkan kemampuan komunikatif dan kepercayaan diri pemelajar asing.

Di akhir sesi, ia menegaskan bahwa seorang pengajar BIPA harus memiliki pemahaman linguistik yang kuat seperti morfologi, gramatikal, dan sintaksis. [Delima Kurnia]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda