Rafista Deviyanti
Oleh Rafista Deviyanti, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unila
Bahasa bukan cuma alat untuk menyampaikan pesan, melainkan juga cara untuk mempertahankan kekuasaan dan membangun citra diri. Serial The Crown, yang tayang di Netflix selama enam musim dan sekarang sudah tamat, menjadi contoh menarik tentang bagaimana bahasa bisa mencerminkan struktur sosial dan hubungan kekuasaan di masyarakat Inggris.
Lewat dialog-dialognya yang halus tapi sarat makna, The Crown menunjukkan bagaimana aspek-aspek pragmatik seperti kesantunan (politeness), formalitas dan strategi ketidaklangsungan (indirectness), digunakan untuk menjaga wibawa, kehormatan, dan batasan dalam komunikasi di lingkungan kerajaan.
Salah satu tokoh yang paling mencolok adalah Ratu Elizabeth II. Ia seringkali menggunakan ujaran yang sifatnya tidak langsung (indirect speech acts), misalnya lewat sindiran sopan atau pernyataan halus saat ingin menyampaikan perintah atau ketidaksetujuan.
Alih-alih memerintah secara keras, sang ratu memilih kata-kata yang lembut dengan nada tenang dan ekspresi yang benar-benar terkendali. Tidak ada teriakan atau nada tinggi, ketegasaannya muncul dari ketepatan pemilihan katanya.
Gaya berbicara seperti ini mencerminkan strategi kesantunan negatif yang menjaga jarak sosial tapi juga tetap membuat wibawanya tidak terganggu.
Selain itu, gerak-gerik, intonasi, dan gestur para tokoh dalam serial ini juga memperkuat makna pragmatik yang muncul, menunjukkan bahwa makna dalam komunikasi tidak hanya berasal dari kata-kata, tapi juga dari konteks dan bahasa tubuuh
Selain memperlihatkan interaksi antara Ratu Elizabeth II dan para pejabatnya, The Crown juga menyoroti perbedaan gaya komunikasi antargenerasi dan kelas sosial di Inggris.
Figur Perdana Menteri Margaret Thatcher, misalnya, tampil dengan gaya bicara yang tegas dan langsung, berbeda dari para anggota keluarga Kerajaan yang cenderung berhati-hati dan menjaga formalitas.
Perbedaan ini mencerminkan latar sosial dan kepribadian yang kontras. Thatcher membawa gaya komunikasi politik yang efisien dan lugas, sementara pihak kerajaan lebih menojolkan kesantunan dan simbol kehormatan.
Dari sini terlihat bahwa pragmatik bukan cuma soal bahasa, melainkan juga tentang identitas, kekuasaan, dan posisi sosial yang membentuk cara seseorang berbicara dan merespons situasi.
Meskipun The Crown adalah karya fiksi, tokoh‑tokohnya didasarkan pada figur nyata, dan cara berbahasa mereka terasa autentik. Buat saya, salah satu adegan paling menarik adalah ketika Margaret Thatcher beradu pendapat dengan Ratu Elizabeth soal sanksi terhadap Afrika Selatan.
Dalam adegan itu, dua perempuan kuat ini sama-sama yakin dengan pendiriannya, tapi cara mereka menyampaikan perbedaan itu sangat elegan. Thatcher menunjukkan ketegasan politik lewat directness, sementara sang Ratu menanggapinya dengan indirect politeness yang penuh kendali diri.
Momen ini benar-benar memperlihatkan bagaimana dua sosok berkuasa bisa “tidak sepakat dengan sopan”, sebuah contoh sempurna dari disagreeing politely dalam budaya Inggris.
Menonton The Crown dari kacamata pragmatik membuat saya sadar bahwa kata‑kata dalam budaya Inggris seringkali memiliki makna yang lebih dalam dari yang terlihat. Kesantunan yang mereka tampilkan bukan tidak bentuk sopan santun, tetapi strategi sosial untuk menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan keharmonisan.
Bagi saya pribadi, The Crown bukan cuma drama sejarah yang memanjakan mata, tetapi juga “buku teks hidup” tentang bagaimana bahasa bekerja di level sosial dan emosional.
Serial ini mengingatkan bahwa dalam komunikasi, hal yang paling bermakna sering kali bukan apa yang dikatakan, tapia pa yang sengaja tidak dikatakan. []

Tinggalkan Komentar Anda