Opini

Ini Cara Nabi Klarifikasi, Bagus Kita Duplikasi

Ini Cara Nabi Klarifikasi, Bagus Kita Duplikasi

Gufron Azis Fuadi

Pada suatu malam, dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nnabi Muhammad saw berjalan bersama Shafiyyah binti Huyai, istrinya. Saat itu Nabi Muhammad saw sedang dalam kondisi beriktikaf (berdiam diri) di masjid pada malam hari di bulan Ramadan.

Istrinya, Shafiyyah, datang mengunjunginya di masjid. Setelah berbincang sejenak, Shafiyyah kembali ke rumahnya, dan Nabi mengantarkannya.

Ketika Nabi saw dan Shafiyyah berjalan menuju pintu masjid (atau pintu tempat tinggal Ummu Salamah, istri Nabi yang lain, dalam riwayat lain), lewatlah dua orang sahabat Anshar.

Saat kedua sahabat itu melihat Nabi saw bersama seorang wanita pada malam hari, mereka merasa segan (atau terkejut) sehingga mempercepat langkah mereka, seolah ingin menghindari situasi yang mungkin menimbulkan prasangka.

Melihat reaksi mereka, Nabi saw memanggil kedua sahabat itu dan bersabda:

“Tunggu dulu! (Kemarilah). Ketahuilah, dia ini (yang bersamaku) adalah Shafiyyah binti Huyayy (istriku).”

Kedua sahabat itu lantas berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah), wahai Rasulullah (kami tidak berprasangka buruk).”

Nabi saw kemudian menjelaskan alasannya:

“Sesungguhnya setan itu berjalan di dalam tubuh anak Adam melalui aliran darah. Aku khawatir setan itu melemparkan sesuatu (prasangka buruk) ke dalam hati kalian berdua.”

Clear!

Mengapa Nabi Muhammad saw merasa perlu untuk memberi klarifikasi, padahal kedua sahabat tadi tidak atau belum melemparkan tuduhan apa apa?

Ini menjadi contoh dan pelajaran bagi para tokoh atau pejabat publik, bahwa sesuatu yang sebenarnya adalah masalah pribadi atau privat bisa menjadi masalah publik bila itu menyangkut seseorang pejabat publik.

Saat itu beliau bukan hanya seorang suami, tetapi beliau juga adalah nabi dan pemimpin negara (Islam). Risiko dan konsekuensinya tentu berbeda dengan rakyat biasa. Apalagi bila pejabat publik itu dipilih dan digaji dari uang rakyat, maka tidak bebas dari perhatian dan pengawasan rakyat.

Itulah salah satu makna dari ungkapan, pemimpin itu menderita!

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab menyampaikan khotbah atau pidato di hadapan masyarakat banyak. Seketika ada seorang sahabat, rakyat atau orang biasa berdiri dan bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, kami tidak akan mendengarkan kata-katamu (khutbahmu) sampai engkau menjelaskan dari mana engkau mendapatkan dua lapis kain itu, padahal bagian kami dan bagianmu masing masing hanya selembar kain.”

Pertanyaan ini muncul karena kecurigaan bahwa Umar telah mengambil kain (pembagian dari negara) lebih dari haknya, mentang mentang sebagai khalifah.

Menanggapi ini, Umar tidak memberikan isyarat tertentu kepada para orang dekatnya untuk mengintimidasi si penanya, tetapi sambil tersenyum

Umar bin Khattab memanggil putranya, Abdullah bin Umar. Maka Abdullah pun berdiri dan menjelaskan bahwa kain yang dipakai oleh ayahnya adalah gabungan dari bagian kain milik Umar dan bagian kain milik Abdullah sendiri yang diberikan kepada ayahnya agar cukup untuk dijadikan pakaian yang layak.

Pertanyaan dan kecurigaan itupun selesai. Sesimpel itu sebenarnya seorang pejabat, bila mau, melakukan klarifikasi.

Belakangan ini ada seorang hakim pada Mahkamah Konstitusi yang dilaporkan ke Bareskrim dengan tuduhan menggunakan ijazah doktoral (S3) palsu.

Mengacu kepada kata kata mutiara ikan ikanan ada yang populer, “ikan sepat ikan gabus bukan ikan lele” yang maknanya bahwa menyelesaikan masalah itu lebih cepat lebih bagus, jadi jangan dibuat bertele-tele…

Maka menanggapi tuduhan ijazah palsu di atas, hakim MK tersebut segera mengadakan konferensi pers, di mana dalam konpres tersebut sang hakim MK menjelaskan kronologis riwayat pendidikannya, kapan dan dimana kuliah dan wisudanya.

Kemudian menyebutkan dan menunjukkan serta ditambah dengan sedikit menguraikan isi disertasi doktor yang ditulisnya dilanjutkan dengan menunjukkan fotokopi ijazah yang telah dilegalisasi dan tidak lupa menunjukkan fisik ijazah aslinya.

Klarifikasi model ini, terus terang, sangat simpel. Jauh dari kata bertele tele yang melibatkan buzzer, polisi, pihak universitas apalagi KPU dan lainnya. Sehingga ada yang menyebut ini layak menjadi tutorial praktis mengklarifikasi tuduhan ijazah palsu.

Bertele tele beda dengan basa basi. Karena basa basi (membahas sana membahas sini), bertujuan untuk mencairkan suasana, membangun hubungan, dan membuat interaksi menjadi lebih nyaman.

Bertele-tele dalam suatu masalah bukan saja membosankan, melainkan tapi juga membuang buang waktu dan energi, menurunkan kredibilitas dan bahkan mengindikasikan ada masalah lain (yang harus ditutupi). Wallahualam  bissawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda