M Afif Al Fahmi Asri
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dunia kepenulisan sering kali lahir dari kebiasaan membaca dan dorongan lingkungan sekitar.
Hal inilah yang dialami M. Afif Al Fahmi Asri, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Lampung, yang kini semakin mantap menekuni dunia menulis.
Dalam wawancara, Afif mulai tertarik menulis sejak duduk di bangku kelas 3 SMP. Awalnya, ia hanya senang membaca kutipan-kutipan bijak di media sosial, lalu berlanjut pada kumpulan sajak yang beredar di sana. Dari situlah muncul keinginan untuk mencoba menulis sendiri, dengan sajak sebagai karya pertamanya.
Inspirasi terbesar Afif datang dari sosok ayahnya, seorang guru Bahasa Indonesia di MAN 1 Bandar Lampung. Meski sang ayah tidak pernah mengajarkan menulis secara langsung, Afif sering menemukan lembaran-lembaran puisi karya ayahnya yang terselip di antara koleksi buku antologi.
“Dari situlah saya merasa termotivasi dan belajar secara tidak langsung,” ujarnya.
Dalam karya-karyanya, Afif kerap mengangkat tema kritik sosial. Namun ia juga tidak jarang menulis tentang cinta dan kesedihan.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam menulis adalah konsistensi. Untuk mencari inspirasi, ia biasanya berbincang dengan orang-orang yang lebih tua.
“Obrolan sederhana sering kali melahirkan ide-ide yang bisa saya kembangkan menjadi puisi,” katanya.
Bagi Afif, menulis cerpen dan menulis puisi memberi pengalaman yang berbeda. Cerpen menuntut kesabaran dalam membangun alur dan karakter, sementara puisi lebih spontan dan emosional.
Ia banyak terinspirasi dari karya-karya sastrawan besar Indonesia, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail, serta Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono.
Perjalanan Afif semakin serius ketika puisinya yang berjudul “Balada Malin dan Nasib Bundo Kandung Abad 21” berhasil meraih peringkat 4 internasional dalam Festival Sastra Mursal Ensten. Kemenangan ini menjadi titik balik yang menumbuhkan kepercayaan dirinya.
“Awalnya menulis hanya untuk meluapkan emosi dan pikiran. Tapi lama-kelamaan saya sadar, menulis juga menambah wawasan, keterampilan berbahasa, sekaligus melatih cara berpikir,” ungkapnya.
Meski kesibukan kuliah cukup padat, Afif tetap berusaha meluangkan waktu untuk menulis.
Biasanya ia menulis di malam hari setelah menyelesaikan aktivitas akademik. Ke depan, ia berencana melanjutkan studi S2 Ilmu Sastra dan menjadikan menulis sebagai salah satu kariernya.
Afif juga menitipkan pesan untuk generasi muda yang ingin menekuni dunia kepenulisan.
”Jangan pernah takut untuk memulai menulis meskipun karya pertama terasa sederhana. Menulis adalah proses. Semakin sering mencoba, semakin berkembang pula kemampuan kita. Yang penting adalah konsisten dan menemukan gaya sendiri.” [Dandy HR]

Tinggalkan Komentar Anda