Umar Robbani (kanan). | Nathania Shakira
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Kekerasan aparat terhadap jurnalis kembali jadi sorotan dalam Dialog Publik Indonesia Emas 2045 yang bertema “Siapa yang Bertanggung Jawab atas Kerusuhan Saat Ini”.
Kegiatan ini digelar oleh DPC Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Lampung di Gedung BPMP Lampung, Jumat (26/09/2025).
Dalam forum itu, Umar Robbani tampil memberikan pengantar dari sudut pandang jurnalis, menyinggung rentetan kasus yang menimpa wartawan saat terjadinya kerusuhan pada akhir Agustus hingga awal September lalu.
Dalam pengantarnya, Umar menyoroti peristiwa kekerasan aparat terhadap jurnalis yang terjadi dalam rentang 25 Agustus hingga 1 September 2025.
Ia mencontohkan kasus seorang jurnalis TV One yang ditangkap dan dipukuli aparat saat sedang melakukan siaran langsung.
Umar juga menekankan bahwa dalam situasi kerusuhan seharusnya pemerintah dapat mengambil langkah tegas dan terukur agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan.
Lebih jauh, Umar menerangkan alasan mengapa banyak remaja yang diduga menjadi suruhan oknum aparat dalam kerusuhan.
Menurutnya, anak di bawah umur dianggap lebih “aman” ketika ditangkap karena secara hukum cenderung akan dibebaskan.
Hal itu membuat mereka rentan dimanfaatkan untuk menciptakan suasana anarkis di lapangan.
Di sisi lain, Umar menyampaikan rasa lega karena di Lampung sendiri tidak ada kekerasan terhadap jurnalis selama periode kerusuhan terjadi.
“Di Lampung ini situasi politiknya cenderung kondusif,”ujarnya.
Meski begitu, Umar masih mempertanyakan apakah kondisi kondusif tersebut murni lahir dari kesadaran masyarakat atau justru ada maksud terselubung dari pihak-pihak tertentu.
Acara yang dibuka dengan sambutan dari sejumlah pejabat daerah, di antaranya perwakilan Pangdam XXI/Radin Inten, Kapolda Lampung, serta Gubernur Lampung yakni Rahmat Mirzani Djausal yang diwakili Yudi Alfadri, berlangsung dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa hukum berbagai kampus.
Selain Umar, dialog publik ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Rico Kiat Sanjaya (aktivis), Zainudin Hasan (akademisi), Subadria Nuka (praktisi hukum), dan Fathul Mu’in (pakar hukum).
Para pemateri membedah isu kerusuhan dari perspektif berbeda, namun pada intinya menyoroti siapa yang bertanggung jawab atas situasi yang terjadi. [Nathania Shakira]

Tinggalkan Komentar Anda