Opini

Blunder Purbaya

Blunder Purbaya

Juwendra Asdiansyah

Oleh Juwendra Asdiansyah

(Penulis, public speaking coach, moderator 35 debat pilkada di Provinsi Lampung)

BELUM satu jam dilantik sebagai Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa (PYS) sudah bikin rame. Bukan sebab kebijakan, suksesor Sri Mulyani Indrawati (SMI) ini disorot karena pernyataannya yang kontroversial dan terasa sumbang di telinga publik.

Setidaknya ada empat hal yang di-highlight dari ucapan eks ketua Dewan Komisaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut saat dikerubungi wartawan selepas pelantikannya pada Senin, 8/9/2025.

  1. “Mungkin saya kelihatannya cukup jago.” Menjawab pertanyaan wartawan apa alasan Presiden Prabowo Subianto mendapuknya menggantikan SMI.
  2. “Itu kan suara sebagian kecil rakyat kita. Kenapa? Mungkin sebagian ngerasa keganggu, hidupnya masih kurang.” Tanggapannya mengenai tuntutan 17+8 dari berbagai elemen masyarakat dalam gelombang demonstrasi belakangan.
  3. “Once saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6 persen, 7 persen, itu (tuntutan) akan hilang dengan otomatis. Mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak dibandingkan mendemo.”
  4. “Saya lama di pasar. Saya 15 tahun lebih di pasar. Saya tahu betul bagaimana memperbaiki ekonomi.”

Empat poin tersebut, bisa dibagi dalam dua impresi. Poin 1, 3 dan 4 memberi kesan overconfidence, kepedean, atau jemawa. Ngotak kata orang di Lampung. Sementara poin 2 memancarkan kesan underestimate, ngecilin atau meremehkan. Dua kesan kuat tersebut rasanya sama: nyebelin.

Mungkin sadar pernyataannya memantik kegaduhan baru, PYS esoknya memberikan klarifikasi dan permintaan maaf. “Kalau di LPS tidak ada yang monitor, jadi saya tenang. Ternyata di (Kementerian) Keuangan beda. Salah ngomong langsung dipelintir sana-sini. Jadi, kemarin kalau ada kesalahan, saya mohon maaf,” katanya.

PYS berapologi bahwa dirinya masih dalam tahap penyesuaian sebagai pejabat baru di Kementerian Keuangan. Menyebut diri sebagai “menteri kagetan”, dia mengakui gaya komunikasinya terkesan “koboi”.

Di tengah banjir kritik terhadap PYS, di Facebook muncul tulisan pengusaha beken Peter F Gontha berjudul “Purbaya Yudhi Sadewa dan Perang Melawan Perampokan SDA. Di paragraf kedua, mantan duta besar RI untuk Polandia itu menulis, “…PYS hadir dengan pendekatan yang berbeda.

Banyak yang menilai pernyataan-pernyataannya arogan, bahkan terkesan sombong. Tetapi di balik gaya komunikasinya yang keras, terdapat alasan strategis yang layak dipahami. Menggantikan figur sekelas Sri Mulyani bukan pekerjaan ringan. Ia sadar, tanpa menunjukkan keyakinan penuh sejak awal, dirinya akan segera dicap lemah dan menjadi bulan-bulanan media sosial.”

Peter kemudian menutup tulisannya dengan sebuah paragraf….”Tulisan saya ini menegaskan: gaya arogan bukanlah inti persoalan. Substansinya adalah perang melawan perampokan sumber daya bangsa. Ini lah momentum bagi Indonesia untuk menegakkan kedaulatan ekonomi. PYS sedang berjudi dengan reputasi dan kariernya, dan ia sendiri sadar risikonya. Tetapi jika berhasil, sejarah akan mencatatnya sebagai menteri yang mengembalikan kekayaan bangsa ke pangkuan rakyat.”

Secara teks saya bisa memahami apa yang disampaikan Peter Gontha. Secara konteks, saya pun memaklumi pesan yang dikirimnya lewat tulisan tersebut: mari fokus kepada substansi, bukan casing. Nilailah PYS sebagai menteri anyar dari kinerjanya, bukan gaya bicaranya yang terkesan arogan.

Pembelaan Peter yang memulai tulisannya dengan kalimat, “saya mengenal Purbaya Yudhi Sadewa dan saya menulis ini dengan penuh tanggung jawab,” tidaklah salah. Banyak kok benernya, tapi ya nggak bener-bener amat.

***

Seorang leader, apalagi dalam posisi pejabat publik, apalagi dalam jabatan semegah menteri keuangan, selain kinerja, skill teknis, dus jam terbang dalam ruang lingkup departemen yang dipimpinnya, dia juga dinilai dari kemampuan komunikasi publiknya.

Sejak dulu hingga sekarang, separuh (jangan-jangan lebih) dari pekerjaan leader itu adalah bicara. Maka bagi seorang leader, kemampuan komunikasi (publik), sering juga diistilahkan sebagai public speaking, itu sangat penting.

Orang yang pernah ikut kelas manajemen tentu tahu teori dasar manajemen yang dikemukakan George R Terry: POAC (planning, organizing, actuating, dan controlling). Menjadi tugas seorang leader atau manajer untuk memastikan fungsi POAC berjalan dengan baik dalam organisasinya. Dan, alat utama untuk menjalankan tugas tersebut adalah “ngomong”. Bagi leader, kata-kata adalah senjata.

Seorang manajer harus ngomong mulai dari menjelaskan apa yang direncanakan (planning); merekrut orang, menyusun organisasi, distribusi pekerjaan, membagi tugas siapa mengerjakan apa (organizing); eksekusi (actuating); sampai melakukan pengawasan (controlling).

Seorang leader juga melakukan evaluasi, menyelesaikan masalah, pun memberikan motivasi kepada orang-orang dalam organisasinya. Itu semua dilakukan dengan ngomong.

Bukan hanya manusia biasa, bahkan bagi para nabi pembawa wahyu Tuhan pun, bicara merupakan salah satu metode/tools utama dalam memimpin umat, bekerja atau berdakwah. Dalam Islam disebut sebagai dakwah bil-lisan.

Begitu pentingnya skill bicara dalam tugas kenabian, Nabi Musa yang memiliki masalah dalam bicara sampai meminta kepada Tuhan agar menjadikan sang kakak, Harun, sebagai tandemnya dalam berdakwah.

“Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku. Sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.” (QS Al Qashsash: 34)

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau.” (QS Thaha: 29-33)

***

Dalam kelas-kelas public speaking, salah satu pendekatan yang saya sering ajarkan ialah MSC: mental, skill, dan content. Sederhananya, public speaking adalah tentang apa-apa yang disampaikan (content) dan bagaimana menyampaikannya (skill), serta dukungan mental yang kokoh (percaya diri, tidak grogi, tidak takut salah atau takut jelek).

Selain MSC yang teknikal banget, satu hal lain yang tidak kalah penting dalam hal komunikasi adalah “empati”. Ini merupakan kemampuan untuk merasakan suasana kebatinan audiens, suasana psikologis publik di mana ucapan tersebut disampaikan. Empati adalah kepekaan, sensitivitas, kemampuan untuk menempatkan diri di posisi publik, kemampuan untuk menakar apakah hal yang hendak disampaikan berpotensi menyinggung, merugikan, atau bahkan membuat marah mereka yang mendengar.

Masih mending jika membuat marah itu merupakan pasal yang disengaja untuk tujuan tertentu. Namun jika kemarahan publik yang timbul merupakan collateral damage sebab selip lidah, ketidaktahuan, kekurangpekaan, tidak sensitif, bahkan ulah kesombongan, ini menjadi ironi.

Dalam falsafah Jawa ada istilah “bener durung tentu pener, tapi yen pener mesti bener“. Yang benar belum tentu tepat, tapi yang tepat pasti ada kebenaran di dalamnya.

Bener atau benar merujuk pada kebenaran yang bersifat logis, objektif, dan sesuai prinsip. Sesuatu disebut bener ketika secara dasar (normatif) tidak salah atau keliru. Sementara pener merujuk pada ketepatan dalam tindakan, penempatan, waktu, dan situasi. Pener juga bisa berarti “pas” atau “sesuai tempatnya”.

Dalam bicara, bener saja tidak cukup. Ia juga harus pener. Bener dan faktual bahwa misalnya Fulan biasa makan daging setiap hari. Tapi jika Fulan menyampaikan hal itu kepada orang yang saban hari bahkan sekadar bisa makan nasi plus tempe-telor saja sudah alhamdulillah, itu tidak pener. Yang disampaikan benar, tapi terkesan sombong, tidak pener, tidak berempati.

Bukankah soal (kurangnya) empati ini juga yang kemudian membuat sejumlah anggota DPR berlatar pesohor menjadi sasaran kemarahan warga pada akhir Agustus lalu. Bahwa bagi Uya Kuya, Eko Patrio, atau Nafa Urbach, uang Rp3 juta sehari merupakan nilai yang kecil, itu bisa jadi benar.

Ketika aktif sebagai artis, sudah menjadi rahasia umum, dalam satu hari mereka bisa meraup penghasilan hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Namun menyampaikan hal itu ketika banyak orang sedang mangkel atas penghasilan anggota DPR RI yang selangit sementara kinerja mereka dinilai seuprit, itu sungguh tidak pener.

Tiada yang salah menjadi kaya. Agama pun tidak melarang, justru menganjurkan umat supaya kaya agar bisa bersedekah dan membantu orang lain. Akan tetapi anggota DPR yang memamerkan harta kekayaannya secara terbuka, padahal masih banyak rakyat yang diwakilinya susah mencari uang dan terus dipajaki ini itu oleh negara, itu ora pener.

Itu menyinggung rasa keadilan masyarakat dan memantik kecemburan sosial. Itu lah sebab utama rumah mereka jadi sasaran penjarahan, meskipun kita tahu urusan penghasilan selangit dan kinerja buruk di Senayan sana sejatinya bukan semata milik Uya, Eko, dan Nafa.

***

Sejak 1990-an, semasa menjabat ketua LPEM Universitas Indonesia, Sri Mulyani sudah dikenal luas sebagai ekonom cerdas. Dia teknokrat dengan pemikiran bernas yang ketika bicara di televisi enak disimak hingga tuntas. Secara umum, kemampuan public speaking alumnus SMPN 2 Tanjungkarang ini memang terbilang bagus.

Gaya bicaranya pun nggak nyebelin. Pun demikian, dia tak luput jadi sasaran kemarahan publik terutama setelah videonya yang menyebut “guru merupakan beban negara” muncul. Meskipun sudah diterangkan bahwa video tersebut merupakan deep fake atau konten manipulatif kreasi AI, banyak orang tetap tidak percaya, tetap tidak peduli. Hal itu karena sebelumnya publik sudah telanjur kesal terhadap kebijakan keuangan pemerintah yang dirasa memberatkan—dan sebagai menteri keuangan, SMI ditempatkan sebagai salah satu sosok yang mesti bertanggung jawab.

PYS yang menjadi suksesor SMI, mestinya tahu dan memahami situasi chaostik yang melatari penunjukan sebagai menteri keuangan. Jika tidak tahu dan tidak paham, sungguh kebangetan. Pertanyaannya, jika dia tahu dan paham, kenapa pula dia nekad bikin pernyataan aneh dan nyebelin di hari pertama menjadi orang nomor satu di Kementerian Keuangan? Giliran kita dibuat bingung.

Tapi, ya sudahlah. PYS memang blunder, namun dia mengaku salah (meski sempat-sempatnya juga bilang omongannya dipelintir), dan untuk itu dia sudah meminta maaf.

Langsung “menghukumnya” dengan berat semata karena omongan dan gaya bicaranya yang terkesan “songong”, tidak arif juga. Ada baiknya kita biarkan dulu dia bekerja, dan nanti sama-sama kita lihat, nilai dan rasakan bagaimana hasilnya. Jangan-jangan memang dia sejago yang dia ucapkan.

Siapa tahu nanti kinerjanya benar-benar membuat ekonomi Indonesia membaik, moncer, melenting sehingga angka pengangguran menukik, semakin banyak orang punya pekerjaan, mendapat penghasilan bagus, punya duit cukup, bisa makan enak dan ujungnya tak sempat memikirkan untuk demonstrasi. Persis seperti proyeksi situasi yang disampaikan PYS pada hari pertamanya dipanggil Pak Menteri.

Terakhir nih. Belajar dari kasus PYS, saya ingin mengatakan, jika Anda seorang leader, apalagi pejabat publik, pintar saja tidak cukup, apalagi cuma merasa pintar. Anda harus membekali diri dengan skill komunikasi yang paten, wabil khusus public speaking.

Tak harus juga Anda menjadi orator ulung macam Bung Karno, speaker flamboyan ala Barrack Obama atau John F Kennedy, atau motivator andal dengan sederet quotes sarat hikmah seperti Mario Teguh. Cukuplah Anda bisa bicara dengan jelas, artikulatif, mampu menerangkan pokok-pokok pikiran, menyampaikan gagasan, syukur-syukur argumentatif, plus penuh empati dan sensitivitas sehingga cakap dalam memilih diksi, juga tahu mana yang patut disampaikan, mana yang tidak.

Tidak mudah memang. Tapi justru karena tidak mudah itu lah makanya perlu belajar. Public speaking itu skill, bukan semata bakat atau warisan DNA orangtua. Karena skill, ia bisa dipelajari.

Asal mau belajar, insya Allah bisa. Sebaliknya, kalau malas, apalagi pongah, merasa tak perlu belajar, ya jangan syedih dan menyesal jika suatu hari kelak Anda salah ucap, bikin blunder yang memantik kemarahan orang banyak.

Jangan tanya ke mana dan bagaimana belajarnya. Anda leader, pejabat publik, punya uang, menemukan mentor untuk berlatih public speaking yang bagus, apa susahnya. Jika tetap bingung, silakan japri saya. Apa boleh buat, terpaksa saya turun tangan….Mashoouk, Pak Eko…*

Kota Baru, 10 September 2025

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda