Opini

Generasi Guava, Dari Scrolling ke Reading

Generasi Guava, Dari Scrolling ke Reading

Melisa

Oleh Melisa, Alumnus Magister Hukum Unila

Indonesia mengalami situasi darurat membaca! Tahukah kamu? Indonesia termasuk 10 negara dengan tingkat literasi terendah. Bahkan, dari 1.000 orang, hanya 1 yang gemar membaca!

Apakah kamu bagian dari 1 orang itu? Generasi Guava harus menjawab iya. Itu adalah saya.

Membaca bukan sekadar hobi. Dengan membaca, kita bisa meningkatkan kualitas hidup, mendapatkan peluang lebih baik, dan bahkan menangkal hoaks di era digital.

Di era digital memasuki society 5.0 saat integrasi manusia dengan teknologi begitu erat saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Terutama bagi generasi Z yang sering menghabiskan waktu luang mereka dengan berbagai aktivitas di media sosial.

Berdasarkan survei Jakpat yang dilakukan pada 6-9 Desember 2024 dengan melibatkan 1.155 responden berusia 15-27 tahun, sebagian besar dari mereka lebih banyak menghabiskan waktu luang dengan menjelajahi media sosial.

Mengutip laporan Digital 2024: Global Overview Report oleh We Are Social, masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan sekitar 7 jam 38 menit per hari untuk bergulir di internet dengan media sosial menjadi layanan yang paling sering di aksesnya.

Dalam enam bulan terakhir, Generasi Z paling sering menggunakan media sosial, seperti 81% Instagram, 70% TikTok, dan 69% YouTube.

Menurut laporan dari Talker Research, ketiga platform tersebut menjadi paling dominan dan menunjukkan bahwa Gen Z cenderung menyukai konten dengan short content.

Karakteristik dari Generasi Z adalah sangat menyukai sesuatu yang dikemas dengan menarik yang biasa dikenal dengan istilah eye catching. Gen Z mudah menangkap sebuah informasi yang disampaikan secara singkat dan to the point.

Terutama jika disajikan dalam bentuk audio visual atau video pendek. Seperti yang saat ini diluncurkan dalam fitur-fitur sosial media seperti reels Instagram dan video pendek Tiktok dan YouTube.

Istilah banjir infomasi menjadikan seseorang mudah teralihkan fokusnya. Sebab, terlalu banyak informasi yang didapat sebelum bisa mencerna apakah itu fakta atau hoaks. Tidak semua sumber itu valid.

Scrolling adalah kegiatan yang sangat disukai oleh kalangan Gen Z karena hal tersebut memberikan kebahagiaan yang instan. Karena saat kita melakukan suatu pencarian atau interaksi yang terjalin di sosial media (like, comment, share,) maka akan tercipta algoritma yang menampilkan minat kita atau sesuatu yang membuat kita betah berlama-lama scrolling.

Kita terjebak di labirin yang tak menemukan akhir karena tidak akan ada habisnya. Konten satu yang lainnya memberikan candu bagi penggunanya.

Kebiasaan scroll terus-menerus ini ternyata berdampak buruk dan menyebabkan kurangnya minat membaca para Gen Z juga berdampak pada menurunya produktivitas.

Selaras dengan itu, survei dari GoodStats yang dilakukan pada Januari hingga Februari 2025 terhadap 1.000 responden menyatakan bahwa hanya 20,7 persen masyarakat Indonesia rutin membaca setiap hari.

Sisanya, 22,3 persen membaca seminggu sekali, 24,6 persen sebulan sekali, 17 persen hanya sesekali, dan 15,4 persen hampir tidak pernah.

Beberapa faktor utama penyebab rendahnya minat baca adalah kurangnya waktu, minimnya motivasi pribadi, dan tergantikannya buku oleh konten digital seperti video, media sosial, serta informasi cepat dari internet.

Dari kurangnya minat baca, nampaknya makin berkurang juga wawasan serta pikiran yang kritis pada Gen Z, yang akhirnya mereka kesulitan menggali informasi, berpikir logis, dan menyelesaikan masalah dengan baik.

Hingganya mudah untuk digiring opini. Asal berkomentar hanya modal melihat tagline tanpa membaca keseluruhan Hal ini bisa menghalangi Gen Z untuk berkembang menjadi pemimpin yang cerdas.

Sebab, Indonesia akan mengalami bonus demografi yang mana jika gagal membangun karakter muda yang berjiwa kepemimpinan mau bagaimana Indonesia ke depan?

Di samping minat baca Generasi Z gergolong rendah, Indonesia memiliki 164.610 perpustakaan sehingga menjadi negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak kedua setelah India.

Namun, pembangunan literasi di seluruh wilayah Indonesia masih belum merata. Hal ini dikarenakan hanya 11.484 perpustakaan (6,9%) di Indonesia yang sudah memenuhi standar nasional.

Perpustakaan sebagai gudang ilmu pengetahuan dapat dijadikan tempat untuk menggali dan mengeksplorasi informasi. Pembaca dapat menjadikan informasi yang dimiliki perpustakaan sebagai sarana pembelajaran.

Perpustakaan sebagai jantungnya institusi berarti perpustakaan sebagai tempat yang penting untuk mendukung keberhasilan institusi. Perpustakaan mempunyai peran dan fungsi yang penting untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Selain itu, perpustakaan saat difungsikan sebagai tempat wisata belajar yang mengasyikkan dan tentu saja dapat meningkatkan ilmu pengetahuan bagi pembaca.

Tanpa kita sadari bahwa koleksi bahan bacaan yang bersifat rekreatif dimaksudkan untuk membangkitkan gagasan-gagasan baru yang berguna bagi pengembangan daya kreasi dan imajinasi pembaca.

Dengan demikian, pembaca mendapat informasi sebagai hiburan intelektual dan salah satu manfaat membaca buku adalah dapat meningkatkan imajinasi dan merangsang kreativitas. Kreativitas sangat penting untuk mengembangkan minat dan ide serta membantu dalam mengelola emosi.

Perlu adanya keseimbangan genre non fiksi berguna untuk melatih ketajaman berpikir dan bacaan fiksi untuk melembutkan hati. Sebagaimana yang diucapkan oleh inspirator Najwa Shihab: “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta.”

Pentingnya literasi untuk meningkatkan SDM yang unggul, tentu kita masih ingat bahwa saat Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantahkan oleh pihak Sekutu, yang ditanyakan oleh kaisar Jepang adalah berapa jumlah guru yang tersisa.

Kata-kata ini berasal dari mulut Kaisar Hirohito sebagai respons pertama yang Ia keluarkan setelah mendengar berita luluh lantaknya Hiroshima dan Nagasaki.

Ketika Jepang kalah perang, biasanya orang umum akan bertanya berapa armada militer yang tersisa, berbeda dengan kaisar lebih menanyakan guru yang tersisa ada berapa.

Alasan di balik pertanyaan inilah yang harus menjadi contoh negara lain. Bila ingin negaranya maju, perbaikilah kualitas sumber daya manusia.

Kaisar Hirohito beranggapan bahwa Jepang telah jatuh, hal ini karena Jepang tidak belajar. Pada saat itu jenderal dan tentara Jepang boleh jadi kuat dalam senjata dan strategi perang, tetapi realitanya tidak memiliki pengetahuan mengenai bom yang telah dijatuhkan Amerika.

Generasi muda ini merupakan komponen penting yang perlu dilibatkan dalam pembangunan. Kita memiliki potensi luar biasa, semangat tinggi, berani berjuang dan berpendirian teguh.

Literasi adalah kunci untuk membentuk generasi emas. Melalui ilmu pengetahuan, kita akan belajar memahami berbagai perspektif dan merangsang kreativitas.

Ini akan membantu generasi menjadi pemimpin yang visioner dan inovatif. Visi Indonesia Emas 2045 menggambarkan cita-cita sebuah negara maju dengan masyarakat yang sejahtera dan berdaya saing tinggi.

Untuk mencapai visi ini, Indonesia sangat membutuhkan generasi muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki karakter yang kuat.

Belajar dari tokoh-tokoh dunia yang cinta akan literasi adalah Ibnu Sina. Kesuksesan Ibnu Sina karena minat dan semangat belajar dalam menuntut ilmu yang luar biasa dan kecerdasan otaknya.

Ibnu Sina sejak masih muda sudah menguasai beberapa disiplin ilmu, seperti logika, fisika, matematika, kedokteran, hukum, astronomi, dalam usia sepuluh tahun ia sudah hafal Alquran.

Ketika usia 17 tahun dengan kecerdasan yang briliant, ia mampu memahami seluruh teori kedokteran pada masa itu dan melebihi siapun. Karena kecerdasannya, ia diangkat sebagai konsultan dokter-dokter praktisi.

Karena kecerdasan otaknya yang luar biasa, ia dapat menguasai semua ilmu yang diajarkan kepadanya dengan sempurna, bahkan melebihi sang guru.

Setelah guru-gurunya kewalahan, Ibnu Sina menjadi bingung mencari tempat untuk memuaskan kehausan ilmunya untuk belajar terus-menerus.

Ibnu Sina diberi kebebasan belajar di perpustakaan istana, Kutub Khana. Di sinilah ia melepaskan dahaga belajarnya siang malam sehingga semua ilmu pengetahuan dapat dikuasainya dengan sempurna.

Tidak heran jika Ibnu Sina banyak menguasai beberapa disiplin ilmu seperti yang telah disebutkan tadi sebelumnya.

Kita sebagai generasi muda yang akan memimpin gold Generation 2045, harus memiliki karakter cinta akan literasi, haus akan ilmu, seperti halnya Ibnu Sina yang menjadikan perpustakan sebagai pelepas dari dahaga belajarnya.

Langkah kecil yang kita lakukan sekarang pastinya akan berbuah pada waktunya.

Generasi guava menolak scrolling di medsos berjam-jam hanya untuk mencari kesenangan instan, apalagi menyebarkan hoaks yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Mari kita budayakan literasi untuk mewujudkan pembukaan dari UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Literasi menjadi faktor pembentuk yang sangat penting dalam rangka membentuk fondasi yang kokoh dalam mewujudkan mssyarakat yang berpengetahuan, berempati, dan berkarakter. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda