Opini

Keragaman Bahasa Prancis dari Perspektif Komunikasi Interkultural

Keragaman Bahasa Prancis dari Perspektif Komunikasi Interkultural

Nani Kusrini

Oleh Nani Kusrini, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila

Bahasa adalah refleksi perjalanan manusia. Menurut informasi dari situs resmi Organisation Internationale de la Francophonie (OIF), bahasa Prancis sekarang ini berada di urutan kelima sebagai bahasa yang paling banyak digunakan di dunia dan posisi keempat dalam penggunaannya di internet.

Bahasa yang tersebar di lebih dari 32 negara ini menjadi bukti nyata bahwa perjalanan yang ditempuh panjang dan kompleks. Penyebarannya yang melintasi benua, dari Paris ke Québec, Dakar hingga Hanoi diinisiasi dengan cita-cita untuk mendirikan L’Empire Colonial Français.

Ekspansi ke daratan Amerika pada masa pemerintahan Raja Louis XIII dan Louis XIV pada awal abad ke-17 menandai permulaan kolonialisme Prancis di dunia yang kemudian meluas hingga Afrika, Asia, dan wilayah Pasifik dalam beberapa gelombang.

Hasilnya, bahasa Prancis dapat meneguhkan posisinya tidak hanya sebagai bahasa administratif, tetapi juga bahasa resmi di banyak negara terutama bekas koloni, serta dalam berbagai organisasi internasional.

Proses yang berlangsung selama beberapa abad dengan perbedaan jarak geografis yang luas serta pengaruh dari bahasa dan budaya lokal melahirkan keragaman linguistik yang memperkaya perbendaharaan bahasa Prancis.

Perbedaan paling signfikan antara bahasa Prancis metropolitan (français de France) dengan Île-de-France sebagai dialek standar dan bahasa Prancis di negara-negara bekas koloni tersebut terdapat pada tataran leksikal.

Misalnya, istilah petit déjeuner, déjeuner, dan dîner (sarapan, makan siang, dan makan malam) dalam bahasa Prancis standar menjadi déjeuner, dîner, dan souper di Belgia dan Swiss atau un maire de ville (wali kota) menjadi un bourgmestre di Belgia.

Ekspresi c’est bon (enak sekali) diganti dengan c’est doux di Afrika, sedangkan frasa faire du shopping (berbelanja) diganti dengan magasiner di Québec.

Lebih jauh lagi, planter sa graine dans le sol yang berarti ”menanam biji di tanah” dalam bahasa Prancis standar juga bisa berubah menjadi ungkapan metaforis dengan makna yang jauh berbeda di salah satu provinsi di Kanada tersebut.

Selain kosakata, aspek fonologis juga menjadi pembeda penting antara bahasa Prancis metropolitan dan bahasa Prancis di negara-negara frankofon.

Misalnya, fonem vokal /ɑ/ di bahasa Prancis standar yang kini cenderung hilang karena digantikan dengan /a/, masih dipertahankan oleh penutur di Québec, Swiss, dan Belgia.

Grafem vokal dengan tanda diakritis circonflêxe seperti <ê> dilafalkan lebih panjang oleh para québecois (orang Québec).

Di sana juga, [l] dapat menjadi konsonan liaison (penyambung) misalnya pada frasa ça [l] arrive, yang tidak dijumpai di Prancis.

Sementara itu, pada penutur bahasa Prancis di Afrika Utara konsonan uvular /ʁ/ juga kerap digantikan oleh /r/ karena pengaruh bahasa Arab.

Selain bunyi segmental tersebut, pengaruh pada variasi prosodik dijumpai pada intonasi. Intonasi bahasa Prancis Québec lebih dinamis dan berirama cepat, sedangkan di Swiss cenderung lebih datar.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa kontak sejarah, budaya, dan bahasa lokal memberikan warna tersendiri pada perkembangan variasi bahasa Prancis di berbagai wilayah dunia. Dalam konteks pembelajaran bahasa, keragaman linguistik bahasa Prancis ini tidak bisa dianggap hanya sebagai fenomena kebahasaan biasa, melainkan tantangan khusus bagi para pengajar dan pemelajar bahasa Molière (sastrawan Prancis).

Pemelajar seharusnya tidak hanya mengenal bahasa Prancis standar, tetapi juga variasinya karena kajian variasi bahasa Prancis ini dapat berkontribusi langsung pada pengembangan kompetensi interkultural.

Menurut Byram (1997), kompetensi komunikasi interkultural (intercultural communicative competence/ICC) mencakup lima dimensi yaitu savoir-être (sikap), savoirs (pengetahuan), savoir comprendre (menafsirkan dan menghubungkan), savoir faire (berinteraksi), savoir s’engager (kesadaran kritis budaya).

Secara singkat, kompetensi komunikasi ini tidak hanya menuntut penguasaan aspek linguistik, tapi juga kesadaran budaya untuk menciptakan interaksi yang efektif antarindividu dari latar belakang budaya yang berbeda.

Kesadaran akan keragaman ini tidak hanya menghindarkan ketaksaan dan kesalahpahaman, tetapi juga menyiapkan pemelajar dalam menghadapi situasi komunikasi nyata.

Selain itu, kompetensi interkultural ini juga dapat menumbuhkan apresiasi dan empati terhadap kekayaan budaya yang ada.

Dengan demikian, bahasa Prancis bukan sekadar berfungsi sebagai media komunikasi, melainkan jembatan agar dapat terhubung dan terintegrasi dalam berbagai komunitas di dunia. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda