Sely Anjelina dan Melisa
Oleh Melisa dan Sely Anjelina
Istilah strawberry generation pada mulanya muncul dari negara Taiwan. Istilah ini ditujukan pada sebagian generasi baru yang lunak, lembek, seperti buah stroberi.
Pemilihan stroberi untuk penyebutan generasi baru ini juga karena buah ini itu tampak indah dan eksotis, merah merekah, tetapi begitu dipijak atau ditekan ia akan mudah hancur.
Generasi Z, seharusnya mendapat motivasi yang positif dari generasi baby boomers, X, dan juga Y karena argumentasi tersebut sangat berpengaruh bagi perkembangan kesehatan mental. Sementara akhir-akhir ini yang kita ketahui bahwa banyak sekali argumentasi negatif terkait dengan gen Z.
Tentu saja hal ini akan membuat generasi Z menjadi overthinking. Jenis overthinking yang dialami oleh kaum muda dengan usia sekitar 25 tahun disebut sebagai quarter life krisis. Seharusnya quarter life krisis tidak ada di kamus generasi guava karena hidupnya memang pada umumnya sedang berjuang dan susah.
Generasi lebih tua yang terkenal lebih tangguh secara mental seharusnya dapat memberikan arahan, konseling dan pendampingan kepada generasi muda, lebih baik lagi jika mampu memberikan teladan/contoh yang baik mengenai sosusi menghadapi permasalahan/tekanan.
Sebaliknya, generasi muda yang lebih supel dalam masalah perkembangan zaman terutama teknologi dan ide kreatif dapat memberikan sumbangsih kemampuannya untuk kemajuan tujuan bersama.
Lahirnya suatu generasi dipastikan akan memiliki potensi yang akan tumbuh dan bekembang menjadi lebih tanggung dari generasi-generasi sebelumnya. Tentunya akan diiringi dengan perkembangan-perkembangan teknologi yang akan memengaruhi gaya hidup seseorang.
Pernyataan bahwa generasi stroberi lebih cenderung dan rentan terhadap kondisi stres dan menghindari situasi daripada menghadapinya, ditepis oleh peralihan ke generasi guava.
Generasi guava cenderung menghadapi masalah dengan prinsip dan keberanian seperti filosofi dari merah guava. Generasi guava berprinsip “menghindari masalah seperti menciptakan masalah baru”.
Generasi guava butuh dukungan bukan penghakiman. Analoginya, ketika kita sakit, orang lain bilang, “kamu tidak akan sehat lagi, kamu akan sakit selamanya, kamu akan segera meninggal”. Maka, orang yang sakit tersebut tidak ada motivasi untuk sembuh.
Dirinya akan dipenuhi rasa ketakutan dan tidak ada semangat untuk berobat dan kembali sehat. Berbeda dengan ketika ada yang sakit akan tetapi sekelilingnya memberikan pernyataan positif, semangat untuk sembuh, maka itu terinspirasi, bersemangat, dan mempunyai keyakinan sembuh.
Ketika hatinya telah yakin untuk sembuh, akan tersalur ke otak, otak akan bekerja dan menginstruksikan organ lainnya untuk bagaimana caranya untuk kembali sehat lagi. Karena pada sejatinya kita adalah apa yang kita pikirkan.
Pikiran kita akan menguasi seluruh anggota tubuh, sehingga kita perlu menanamkan prinsip bahwa diri kita akan mampu bertahan dalam semua kondisi. Generasi guava harus memahami, sebagai generasi muda kita harus memahami tantangan dalam kehidupan bukanlah beban, melainkan peluang yang menjadikan tumbuh dan kuat.
Sama seperti biji-biji yang ada di dalam guava, terlihat mengggangu namun itu bentuk tantangan untuk menikmati rasa guava yang manis.
Pada usia remaja hingga dewasa, kita akan terus dihadapkan dengan masalah-masalah yang kompleks. Hal itu wajar karena kita akan berproses menemukan jati diri untuk menentukan apa yang kita butuhkan.
Begitu juga dengan penghakiman orang bahwa generasi Z itu seperti stroberi yaitu buah yang lembek, lunak, dan cepat membusuk. Hal tersebut membuat generasi Z tidak percaya diri, pesimistis, lembek, lemah, dan cepat menyerah.
Seharusnya diberikan dukungan yang positif dan menginspirasi, bahwa generasi Z itu seperti halnya buah guava yang keras, dan juga tahan banting, tidak cepat menyerah dan juga menjadi generasi yang tangguh dalam setiap situasi dan keadaan. Generasi yang tangguh merupakan generasi yang berjalan pada poros optimisme masa depan yang lebih baik.
Generasi guava adalah generasi yang tangguh, Generasi yang tangguh memang lahir di lingkungan yang akan menghargai kegagalan sebagian dari suatu proses dari perjalanan dalam belajar, bukan akhir dari pejalanan.
Sebagai makhluk sosial, kita akan dihadapkan dengan perubahan sosial yang akan terus terjadi begitu cepat. Tidak heran jika gagal, kita tidak perlu ahli dalam semua proses dari kehidupan. Namun, kita perlu bertahan dan mengimbangi semua perubahan dan proses yang ada.
Semua orang akan dihadapkan dengan permasalahan yang berbeda namun kita harus tau bahwa bukan kelemahan yang harus kita soroti, melainkan harus menggali semua potensi yang ada dalam diri.
Jangan takut! Terutama takut terlambat dan tertinggal dengan teman-teman. Jadikan semua proses itu perjalanan. Setiap perjalanan ada tantangan masing-masing.
Apabila dihadapkan dengan permasalahan ekonomi, kamu dituntut menyukai apa yang kamu lakukan, bukan melakukan apa yang kamu suka. Generasi stroberi identik dengan frasa “bekerja sesuai dengan passion”. Namun, tidak semua anak bisa menjalaninya.
Kita harus keras seperti buah guava. Tidak lembek dan tahan banting.
Generasi guava harus inovatif dan kreatif, mampu memanfaatkan keterbatasan menjadi peluang yang menciptakan kebermanfaatan. Kemajuan teknologi dan informasi membuat generasi guava harus mempunyai lebih banyak referensi untuk berkarya dan berinovasi.
Generasi guava perlu mengoptimalkan kemampuan literasi digital agar berbagai informasi bisa menjaring permasalahan dan mampu memberikan kebermanfaatan untuk diri, keluarga, dan lingkungan.
Generasi guava tidak lahir sendiri. Mereka dibentuk oleh lingkungan yang percaya dengan kemampuan yang dimiliki.
Ketangguhan mental dan emosional bukan semata-mata bawaan dari lahir, melainkan bentuk dari hasil pembelajaran dan berdasarkan pengalaman yang didukung oleh lingkungan positif. Melakukan kesalahan bukan hal yang harus membuat kita malu, jadikan itu pacuan agar tidak terjadi lagi.
Hilangkan semua pernyataan buruk mengenai generasi stroberi, kita bentuk dan ubah dengan generasi guava yang akan lebih tangguh dalam melawan semua permasalahan.
Alih-alih menghakimi, mari kita menjadi mentor yang mampu mendorong generasi muda untuk melihat kegagalan sebagai batu loncatan untuk menuju kesuksesan.
Kritik-kritik yang diberikan memang akan melahirkan rasa takut, tapi dukungan akan menumbuhkan keberanian kreativitas. Generasi guava ini adalah bentuk cerminan dari generasi-generasi sebelumnya yang meyakini bahwa keberhasilan berasal dari kepercayaan.
Ketangguhan generasi muda menjadi salah satu tanggub jawab kita. Kita akan memengaruhi bagaimana kehidupan yang akan mendatang.
Mari kita bersama-sama hadir mejadi pembimbing, bukan sebagai hakim di perjalanan kehidupan mereka mendatang.
Untuk generasi Z, stop untuk overthinking, berhenti berpikir bahwa kita adalah manusia paling sengsara di bumi ini ketika kita terdapat permasalahan.
Kenapa permasalahan itu ada pada pundak kita? Karena Tuhan tidak pernah meletakkan tanggung jawab di bahu yang salah. Jika terpilih, artinya kita mampu. []

Tinggalkan Komentar Anda