Mancanegara

Tromsø: Kota tanpa Malam Ujung Utara Eropa

Tromsø: Kota tanpa Malam Ujung Utara Eropa

Rafista Deviyanti

Oleh Rafista Deviyanti, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Lampung, Sedang Pendidikan Doktor di University of Szeged, Hongaria

Bulan Juni 2024, saya berkesempatan mengunjungi salah satu kota paling unik di dunia. Tromsø, sebuah kota kecil yang terletak sekitar 330 km di utara lingkaran Arktik, Norwegia, menawarkan pengalaman yang tidak terlupakan: matahari yang tak pernah tenggelam.

Fenomena midnight sun atau matahari tengah malam ini terjadi karena posisi geografis Tromsø yang berada di 69° lintang utara. Dari pertengahan Mei hingga akhir Juli, matahari terus bersinar selama 24 jam penuh. Ya, tidak ada malam  sama sekali!

Pesawat saya mendarat di Bandara Tromsø, Langnes, pada sore hari. Seperti kebanyakan turis lain, saya sudah membaca tentang fenomena ini di internet, tapi mengalaminya langsung tentu sama sekali berbeda. Jam menunjukkan jam sebelas malam, tapi langit masih biru cerah, seolah masih jam tiga sore.

Saya berada di Tromsø selama satu minggu untuk menghadiri workshop. Selama kunjungan, saya memilih untuk menginap di sebuah AirbnB di pusat kota.

Dari luar, flat ini tampak sangat sederhana, hanya bangunan kayu dengan cat putih yang sedikit memudar, tipikal arsitektur Skandinavia yang mengutamakan fungsionalitas. Tapi, begitu melangkah masuk, saya cukup terkejut mendapati interior yang kontras dengan tampilan luarnya.

Di dalam, saya seolah-olah sedang berada di display furniture IKEA. Flat yang saya tinggali ini dilengkapi dengan peralatan elektronik high-end.

Dapur dilengkapi dengan kompor induksi, mesin kopi otomatis, dan sistem pemanas lantai. Di beberapa kota di Eropa yang saya kunjungi, biasanya sistem pemanas tidak ditanam di lantai, namun berada di dinding.

Bahkan, pada saat saya ke sana di bulan Juni 2024, terdapat pekerjaan di mana sistem pemanas sedang ditanam di sebagian jalan dan trotoar di pusat kota. Flat ini juga dilengkapi tirai blackout khusus yang dirancang untuk menciptakan kegelapan buatan.

Tanpa itu, mungkin saya tidak bisa tidur karena tidak terbiasa dengan cahaya terang pada saat jam tidur. Saya mencoba untuk keluar dari flat pada jam 12 malam, hanya untuk menyaksikan sendiri midnight sun, ternyata banyak penduduk lokal yang masih beraktivitas di luar rumah.

Yang menarik, meski berada di musim panas, suhu di Tromsø tetap terasa dingin bagi saya yang berasal dar Indonesia. Pada saat saya ke sana, suhu tertinggi hanya mencapai 10 derajat Celcius!

Ini cukup menjelaskan mengapa flat yang saya tempati dilengkapi dengan sistem pemanas yang sangat efisien. Pemilik flat menjelaskan bahwa orang Norwegia sangat mengutamakan kenyamanan di dalam rumah, mengingat mereka harus menghadapi kondisi cuaca ekstrim sepanjang tahun.

Sebagai seorang muslim, tantangan terbesar saya adalah menentukan waktu salat. Di awal kedatangan saya, saya mengikuti jadwal salat Kota Oslo.

Saya bingung menentukan magrib, isya atau subuh ketika parameter terbit dan tenggelamnya matahari tidak berlaku. Serunya, saya bertemu seorang muslim imigran yang telah menjadi warga setempat.

Melihat saya memakai hijab, dia menghampiri dan bertanya “Apakah kamu muslim?” Kami berbincang-bincang sejenak menggunakan bahasa Inggris.

Mayoritas orang di Norwegia bisa berbahasa Inggris dengan sangat baik. Dari perbincangan kami, saya jadi tahu kalau ternyata para ulama dari berbagai penjuru dunia telah khusus datang ke Tromsø untuk mendiskusikan dan menetapkan jadwal salat khusus untuk wilayah Tromsø, yang sangat berbeda dengan kota lain di Norwegia.

Ada beberapa pendekatan yang direkomendasikan oleh para ulama. Pendekatan pertama adalah mengikuti jadwal kota terdekat yang masih mengalami pergantian siang dan malam normal.

Pendekatan kedua adalah menggunakan perhitungan berdasarkan tanda-tanda langit seperti perubahan intensitas cahaya, meski sangat minimal. Yang ketiga adalah menggunakan jadwal terakhir yang normal sebelum memasuki periode ekstrem ini.

Selain pengalaman spiritual, Tromsø menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Saya menghabiskan waktu mendaki bukit untuk melihat panorama kota dari ketinggian, mengunjungi museum Polaria yang terkenal untuk mempelajari kehidupan Arktik, dan mencoba daging ikan paus yang rasanya cukup aneh di lidah saya.

Daging paus adalah makanan legal di Norwegia dan tersedia di beberapa restoran di Tromsø sebagai bagian dari kuliner tradisional.

Yang tak kalah menarik adalah mengunjungi UiT The Arctic University of Norway, universitas paling utara di dunia. Di sini saya berbincang dengan sesama peserta workshop yang juga merupakan peneliti muda dari berbagai disiplin ilmu. Salah satu peneliti yang juga penduduk lokal menjelaskan bahwa penduduk lokal telah beradaptasi dengan baik terhadap ritme cahaya ekstrem ini.

Jika musim panas Tromso ditandai dengan matahari yang tak pernah tenggelam, musim dinginnya justru sebaliknya. Dari November hingga Januari, kota ini mengalami “polar night” atau malam kutub, di mana matahari tidak pernah muncul di atas horizon. Para ulama juga telah menetapkan jadwal salat khusus untuk periode ini, ketika parameter siang hari tidak ada.

Pengalaman di Tromso memberikan perspektif baru tentang bagaimana saya memahami waktu. Di tempat di mana parameter alami seperti terbit dan tenggelamnya matahari tidak berlaku seperti di kebanyakan wilayah dunia, manusia tetap beradaptasi dan menemukan cara untuk menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal beribadah.

Tromso, dengan matahari tengah malamnya, bukan hanya destinasi wisata eksotis, tapi juga laboratorium hidup yang mengajarkan kita tentang fleksibilitas, adaptasi, dan keindahan tak terduga dari planet yang kita huni. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda