Setia Rini
Oleh Setia Rini, Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila
Kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia pada 27-29 Mei 2025 bukanlah sekadar lawatan diplomatik biasa. Lebih dari itu, kunjungan ini membuka lembaran baru dalam hubungan strategis antara Prancis dan Indonesia, baik dalam bidang pertahanan, pendidikan, teknologi, hingga budaya.
Salah satu momen simbolis yang menarik perhatian publik adalah ketika Macron menyempatkan diri berkunjung ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada agenda “Perbincangan dengan Kaum Muda Indonesia”. Pada kunjungan tersebut, Presiden Macron melakukan diskusi terbuka bersama mahasiswa dan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis UNJ. Kunjungan tersebut menjadi tonggak penting dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis khususnya pada bidang pendidikan dan budaya.
Kunjungan ini tentu saja menjadi angin segar bagi komunitas pengajar dan pemelajar bahasa Prancis di Indonesia. Selama ini, bahasa Prancis mungkin masih dianggap sebagai bahasa asing “kelas dua” dibandingkan dengan bahasa Inggris. Namun dengan semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara, bahasa Prancis mulai menunjukkan posisinya sebagai bahasa strategis di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.
Prancis tidak hanya dikenal sebagai negara mode dan seni. Ia juga merupakan kekuatan besar dalam bidang diplomasi, pertahanan, pendidikan tinggi, dan industri kreatif. Bahasa Prancis menjadi pintu masuk menuju dunia kerja dan jaringan internasional yang luas, khususnya karena statusnya sebagai bahasa resmi di berbagai lembaga dunia seperti PBB, Uni Eropa, dan UNESCO.
Dalam konteks Indonesia, kerja sama dengan Prancis kini mulai menyentuh bidang-bidang vital. Selain alutsista dan pertahanan, Prancis juga menawarkan kolaborasi dalam pengembangan teknologi, riset bersama, dan beasiswa pendidikan tinggi. Semua ini menyimpan peluang besar bagi generasi muda Indonesia—dan di sinilah pentingnya penguasaan bahasa Prancis.
bahasa Prancis akan semakin dibutuhkan. Selain UNJ, kunjungan Macron ke Akmil Magelang bersama Presiden Republik Indonesia, serta penandatanganan sejumlah nota kesepahaman, menjadi bukti bahwa hubungan Prancis-Indonesia sedang menuju tahap yang lebih konkret.
Di balik semua seremoni kenegaraan itu, ada kebutuhan nyata yang muncul: kebutuhan akan sumber daya manusia Indonesia yang mampu menjembatani komunikasi, memahami budaya Prancis, dan tentu saja menguasai bahasanya.
Dalam beberapa tahun ke depan, bukan tidak mungkin akan dibutuhkan lebih banyak penerjemah, juru bahasa, diplomat, pengajar bahasa, penghubung antar institusi, bahkan staf-staf profesional di perusahaan multinasional Prancis yang kini mulai berinvestasi di Indonesia.
Tentu ini menjadi momentum baru bagi pendidikan bahasa Prancis. Di berbagai grup profesional pengajar bahasa Prancis, seperti Asosiasi Pengajar Bahasa Prancis Indonesia (PPPSI-APFI), euforia kunjungan Macron ini terasa nyata.
Foto-foto, video, dan percakapan tentang pertemuan tersebut membanjiri grup. Bahkan kolega saya, Bapak Dr. Herman, S.Pd., M.Pd., Ketua Departemen Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis UNY turut serta terdokumentasi dalam satu frame bersama Presiden Macron juga Presiden Prabowo pada kunjungan Kelas Bahasa Prancis di Gedung A, Akademi Militer Magelang kemarin. Ini menjadi momen reflektif dan juga penuh harapan, bahwa kerja keras mempromosikan bahasa Prancis di kampus-kampus mulai mendapatkan panggungnya.
Kini saatnya institusi pendidikan, khususnya Program Studi Bahasa Prancis baik sastra maupun pendidikan di berbagai universitas, berani mengembangkan kurikulum yang kontekstual dan menjawab kebutuhan zaman.
Pengajaran bahasa tidak lagi cukup berhenti pada pembelajaran gramatikal dan kosakata semata. Harus ada integrasi dengan penguatan keterampilan abad 21: berpikir kritis, komunikasi antarbudaya, literasi digital, dan tentu saja—pemahaman geopolitik dan hubungan internasional.
Oleh karena itu, kunjungan Emmanuel Macron ini menjadi kesempatan untuk rebranding dan rekonstruksi citra. Sudah waktunya kita mengubah persepsi bahwa bahasa Prancis hanya milik para romantisis atau pelajar sastra. Bahasa ini adalah alat mobilitas global.
Dengan menguasai bahasa Prancis, mahasiswa Indonesia tidak hanya bisa mengakses karya sastra klasik, tetapi juga jurnal ilmiah terbaru, peluang kerja di organisasi internasional, dan jejaring profesional lintas negara.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bersama dengan Kementerian Luar Negeri dan IFI (Institut Français Indonesia), bisa mengambil momen ini untuk membuat kampanye nasional yang lebih agresif tentang pentingnya belajar bahasa Prancis. Mungkin sudah waktunya ada tagline baru yang lebih membumi dan strategis: Bahasa Prancis, untuk dunia yang lebih luas.
Sebagai seorang pengajar bahasa Prancis, saya merasa sangat optimis dengan arah baru ini. Terlebih ketika saya menyaksikan langsung bagaimana antusiasme mahasiswa terhadap tugas-tugas kreatif yang mereka kerjakan: mulai dari poster digital dalam bahasa Prancis, podcast singkat, video reels opini, hingga debat virtual. Semua ini adalah wujud dari pengajaran bahasa yang tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi mendorong praktik, refleksi, dan produksi makna.
Kunjungan Presiden Macron hanyalah permulaan dari berbagai peluang besar di masa depan. Kini, tugas kita bersama adalah mempersiapkan SDM yang siap mengambil peran. Bahasa Prancis bukan sekadar bahasa asing, ia adalah jembatan menuju dunia, menuju kolaborasi, dan menuju masa depan yang lebih terbuka. []

Tinggalkan Komentar Anda