Endang Ikhtiarti
Seragam sekolah tidak lagi diwajibkan di Prancis sejak tahun 1968. Namun, masalah ini telah kembali menjadi agenda politik negara tersebut.
Banyak yang mendukung gagasan dikembalikannya seragam sekolah untuk para siswa. Prancis ingin memberlakukan kembali seragam sekolah yang diprakarsai oleh Ibu Negara Brigitte Macron.
Ia mendukung para siswa kembali memakai seragam sekolah dan mengatakan itu dapat membantu “menghapus kesenjangan” serta menghemat waktu serta uang orang tua.
Menurut Anda, apa keuntungan dan kerugian mengenakan seragam ke sekolah? Apakah Anda mendukung atau menentang pendapat Brigitte Macron?
Seperti diketahui, di Perancis, sejak 6 Mei 1968, penggunaan seragam tidak lagi wajib di lembaga pendidikan. Perpisahan dengan blus abu-abu untuk anak laki-laki dan blus biru untuk anak perempuan. Sejak saat itu, semua siswa dapat datang ke sekolah menggunakan baju sesuai keinginannya.
Namun selama beberapa tahun terakhir, perdebatan kembali menjadi agenda di negara Prancis baik para orang tua murid dengan pihak sekolah. Ada pendapat yang mendukung kembali berseragam dan ada pendapat yang tidak mendukung kembalinya menggunakan seragam.
Seragam tradisional tidak lagi wajib digunakan di Prancis sejak Mei 1968 tetapi sudah digantikan dengan pakaian bebas dengan berbagai merek dagang, merek sepatu, dan pakaian mode.
Dan pada umumnya adalah merek-merek yang mahal. Merek-merek ini menimbulkan masalah adanya tanda-tanda kesenjangan sosial, dan menciptakan frustrasi dan kecemburuan bagi siswa yang tidak memiliki sarana untuk memperolehnya.
Kejadian tersebut melanda di lingkungan sekolah Prancis sehingga mendorong siswa dan kaum muda untuk menekan orang tua agar memberikan pakaian, sepatu, dan tas yang menjadi mode.
Tekanan inilah yang sering menjadi penyebab konflik dalam keluarga. Bahkan di keluarga paling sederhana, seorang siswa mempunyai perasaan frustrasi dan merasa tidak mendapat keadilan.
Namun, di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa aspek pakaian merupakan salah satu unsur pengakuan dan penerimaan diri seseorang di dalam sebuah kelompok pertemanan.
Pakaian digunakan untuk menonjolkan diri dan merasa ingin dianggap lebih bagus, lebih keren, lebih mampu dari yang lain. Dalam hal ini, ketegaskan diri seorang siswa diperlukan untuk membangun dan mengenali dirinya sendiri. Jadi, bagi sebagian orang, kewajiban menggunakan seragam untuk menghapus kesenjangan sosial.
Tetapi ada pula yang berpandangan kebijakan ini bukan solusi untuk mengatasi kesenjangan.
Apakah seragamnya sudah ketinggalan zaman? Tentu tidak semua orang berpendapat begitu.
Itu sebenarnya hanya masalah disiplin dan penggunaan seragam adalah hal yang umum atau lumrah.
Menurut saya sebagai seorang pengajar yang berkecimpung di bidang bahasa dan kebudayaan Prancis, seragam adalah simbol kedisiplinan, penghapusan perbedaan, dan penghapusan kesenjangan.
Kembalinya visi kekuatan sekolah dalam pendidikan bahkan bisa meyakinkan bagi beberapa orang tua murid, bahwa sekolah harus turut mengatur kedisiplinan siswa. Namun, di sisi lain, ada yang beranggapan bahwa seragam dianggap sebagai simbol dari kekakuan dan ketegasan.
Menurut hemat saya, ketegasan itu menghasilkan kembali gagasan nilai kedisiplinan, kepatuhan, dan kualitas. [Endang Ikhtiarti/Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila]

Tinggalkan Komentar Anda